Oleh: Habib Muhammad Jamal bin Thaha Ba’agil*

Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam salah satu kitabnya menyebutkan sebuah hadist qudsi, yaitu firman Allah kepada Nabi Uzair yang isinya antara lain:

“Hai Uzair, apabila engkau melakukan maksiat meskipun kecil, jangan kau lihat seberapa kecilnya maksiat yang kau perbuat, namun lihatlah keagungan Dzat yang kepadanya engkau bermaksiat”.

Dalam syari’at islam yang selama ini kita pelajari, jenis dosa dikelompokkan menjadi dua yaitu dosa kecil dan dosa besar. Akan tetapi para ulama Sufi tidak membeda-bedakan hal tersebut. Setiap dosa dan maksiat yang diperbuat anak adam, nilainya sama. Sebab yang dilihat adalah kepada siapa dia bermaksiat. Allah SWT adalah Dzat yang Mahabesar. Jadi walau pun itu dosa yang kecil, tetap menjadi sesuatu yang besar bagi mereka.

“Hai Uzair, apabila engkau memperoleh kenikmatan, jangan kau lihat seberapa kecilnya nikmat itu. Namun lihatlah siapa Dzat yang memberimu kenikmatan itu”.

Dikisahkan bahwa Syaikh Abu Bakar bin Salim setiap harinya memberi makan sebanyak 700 tamu yang datang mengunjungi rumahnya. Suatu hari datanglah seorang perempuan tua hendak menemui beliau dan menghadiahkan beras. Saat itu beliau sedang beristirahat (tidur) di dalam kamarnya. Maka yang menerima tamu tersebut adalah muridnya Syaikh Abu Bakar. Oleh murid tersebut si perempuan tua itu diminta untuk pulang karena Sang Syeikh sedang tidak bisa ditemui. Namun perempuan tersebut tetap bersikukuh menemui beliau. Mendengar keribut di depan rumahnya, Syaikh Abu Bakar bin Salim terbangun dan mendatanginya. “Ada apa, Bu?”, Sang Syaikh bertanya pada tamu tersebut dengan penuh senyuman. Tamunya kemudian menyodorkan bungkusan seraya berkata, “Ini duhai Syaikh, saya ingin memberikan hadiah untukmu”. Syaikh Abu Bakar menerima dengan ekspresi sangat gembira. “Alhamdulillah” kemudian beliau mendoakan. Setelah tamunya pulang, Sang Murid bertanya keheranan. “Duhai Guruku, mengapa engkau begitu bahagia menerima hadiah itu? Padahal hanya beras seperempat kilogram. Tamu lain biasa memberimu bahkan berton-ton beras.” Sang Guru pun menjawab dengan bijaknya, “Muridku, jangan kau lihat ini dari besar kecilnya pemberian. Sejatinya yang memberiku rezeki ini adalah Allah SWT. Jika yang kecil saja tidak kita syukuri, bagaimana Allah akan mendatangkan rezeki yang lebih besar?”

Walau kecil, jika yang memberikan adalah Kekasih kita, maka akan menjadi amat berharga nilainya.

“Hai Uzair, jika engkau mendapatkan musibah. Janganlah sedikit pun mengeluh kepada manusia. Sebagaimana Aku tidak pernah mengeluhkan tiap kali malaikat melaporkan dosa-dosamu kepada-Ku”.

Rabiah Al-Adawiyah, seorang sufiyah besar kekasih Allah, rumahnya selalu didatangi oleh orang – orang yang sakit. Namun di saat dia sendiri sakit, dia tidak pernah menceritakannya kepada orang lain. Hingga suatu ketika ada seorang tetangganya yang bertanya, “Mengapa engkau tidak meminta kesembuhan kepada Allah. Bukankah doamu tidak pernah tertolak?” Rabiah pun menjawab, “Aku malu kepada Allah. Sudah terlalu lama aku diberi nikmat sehat, tapi tak pernah aku syukuri. Bagaimana mungkin baru diuji dengan sakit sebentar saja aku akan mengeluh?”

Seorang Imam berjalan bersama muridnya melewati hutan rimba. Di tengah perjalanan, tangan si murid digigit kalajengking kemudian mengeluh kesakitan. Gurunya menghardik dan melarangnya berhenti mengeluh. Lalu ia meraih tangan si murid dan menempelkan ke dadanya. Betapa terkejutnya si murid saat mendapati tubuh sang Imam panas tinggi. Ternyata Sang Imam sudah mengalami demam selama 17 tahun dan tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau selama itu dia sedang sakit.

Wallahua’lam bis shawaab. Semoga bermanfaat. [Fzy]

============================

*Pengasuh Majelis Ar-Ridwan, Malang

Disarikan dari tausiyah beliau saat mengisi acara Jalsatul Isnain Majelis Rasulullah Senin, 22 Agustus 2016 di Masjid Al-Munawwar, Pancoran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here