kalamulama.com- Tujuan Diwajibkannya Wirid di Dalam Thoriqoh. Al-Imam Abdul Wahhab Asy-Sya'rani ra menjelaskan bahwa dzikir menjadi Syarat utama ahli suluk. Tujuan diwajibkannya wirid di dalam setiap thoriqoh di antaranya adalah agar seorang Salik melatih dirinya untuk menjaga dzikir dalam keadaan apapun. dilandasi dengan pengetahuan bahwa lalai (goflah) dari mengingat Allah Taala dapat membuatnya tergelincir kepada maksiat lahir maupun batin. Untuk salik tingkatan pemula (ahlu bidayah) mengamalkan Dzikir Jahr (dzikr dengan bersuara) adalah lebih di utamakan, karena dizkir jahr akan membangun psikologi dzikir dan karakter jiwa seorang salik yang senantiasa di sibukkan oleh dzikrullah. sedangkan Dzikir Sirr (dzikir batin/rahasia) lebih di utamakan untuk tingkat akhir (ahlu nihayah), karena dzikir sirr itu lebih terfokus pada dzikir batin yang tidak terbatas oleh gerak dan aktifitas salik, _ artinya dimanapun dan kapanpun dia selalu berdzikir. Namun dzikr sirr yang dawam dan terus menerus ini tidaklah bisa kita raih tanpa melalui latihan-latihan yang disiplin dan continue melalui dzikir jahr sebagaimana yang di lazimkan di dalam wirid asasi thoriqoh kita. juga dari dzikir jahr yang dibiasakan pada tingkat permulaan tersebut, nantinya seorang Salik akan naik kepada tingkatan mutawassith (pertengahan) yakni dengan mulai merenungi dan meresapi setiap makna dari dzikir yang di lafadzkannya melalui lisannya. Melalui pengulangan dan perenungan makna-makna dzikr jahr inilah ia akan sampai kepada dzikir sirr yang matang. [RESUME KAJIAN TASAWUF BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS 18/2/2020, Kitab Minahus Saniyah] Baca Juga: Tiga Macam Wirid yang Tidak Pernah Berpisah Dengan Para Auliya’ Solihin

kalamulama.com- Tujuan Diwajibkannya Wirid di Dalam Thoriqoh. Al-Imam Abdul Wahhab Asy-Sya’rani ra menjelaskan bahwa dzikir menjadi Syarat utama ahli suluk. Tujuan diwajibkannya wirid di dalam setiap thoriqoh di antaranya adalah agar seorang Salik melatih dirinya untuk menjaga dzikir dalam keadaan apapun. dilandasi dengan pengetahuan bahwa lalai (goflah) dari mengingat Allah Taala dapat membuatnya tergelincir kepada maksiat lahir maupun batin.

Untuk salik tingkatan pemula (ahlu bidayah) mengamalkan Dzikir Jahr (dzikr dengan bersuara) adalah lebih di utamakan, karena dizkir jahr akan membangun psikologi dzikir dan karakter jiwa seorang salik yang senantiasa di sibukkan oleh dzikrullah. sedangkan Dzikir Sirr (dzikir batin/rahasia) lebih di utamakan untuk tingkat akhir (ahlu nihayah), karena dzikir sirr itu lebih terfokus pada dzikir batin yang tidak terbatas oleh gerak dan aktifitas salik, _ artinya dimanapun dan kapanpun dia selalu berdzikir. Namun dzikr sirr yang dawam dan terus menerus ini tidaklah bisa kita raih tanpa melalui latihan-latihan yang disiplin dan continue melalui dzikir jahr sebagaimana yang di lazimkan di dalam wirid asasi thoriqoh kita. juga dari dzikir jahr yang dibiasakan pada tingkat permulaan tersebut, nantinya seorang Salik akan naik kepada tingkatan mutawassith (pertengahan) yakni dengan mulai merenungi dan meresapi setiap makna dari dzikir yang di lafadzkannya melalui lisannya. Melalui pengulangan dan perenungan makna-makna dzikr jahr inilah ia akan sampai kepada dzikir sirr yang matang.

[RESUME KAJIAN TASAWUF BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS 18/2/2020, Kitab Minahus Saniyah]

Baca Juga: Tiga Macam Wirid yang Tidak Pernah Berpisah Dengan Para Auliya’ Solihin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here