NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM

KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang sangat luar biasa bagi pendengarnya. Dalam suatu ngajinya, Gus Baha menceritakan kisah seorang santri nakal yang menginginkan seorang putri dari seorang syekh yang alim. Syekh Alim tersebut mempunyai seorang putri yang mempunyai wajah cantik dan menjadi dambaan terutama dikalangan santri. “Saya punya cerita lucu dunia wali. Jadi di dunia wali yang sanad-sanad saya sampai Rasulullah itu, dulu di mekah ada namanya wali dzambil, ya wali rada jadzab. Itu pada periode yang mengarang i'anah, pokoknya periode-periode itu, kira-kira dari saya empat guru. Ada seorang alim alamah populer punya anak cantik. Dulu santri juga nakal, pokoknya kalau ada anaknya orang alim berparas cantik itu jadi dambaan. Karena pikirannya ketika jadi menantu kyai langsung jadi kyai melejit, nasabnya cangkokan kan beres. Daripada membangun nasab sendiri kan repot. Cangkokan, anaknya dipanggil gus dipanggil ning kan damai, daripada berkarir sendiri bergulat kan panjang (perjuangannya)”. Santri nakal tersebut menginginkan bertemu dengan anak syekh alim tersebut. Dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah syekh alim tersebut dan bertemu dengan anaknya. Seperti diketahui Tradisi di Mekah dalam bertamu ke rumah orang lain itu tidak semudah di Jawa. Misalnya kalau di Jawa seseorang ingin meminjam palu atau sabit itu tidak susah seperti di Makkah. Pada waktu itu, satu-satunya cara supaya bisa masuk dapur, salah satunya yaitu menjadi tukang air. Akhirnya santri tadi menjadi tukang air. Karena pada waktu itu belum ada PDAM. Akhirnya dia setiap hari mengantarkan air ke rumah Syekh alim tersebut sampai ke kamar mandinya. “Tambah-tambah ya jualan air, tukang air itukan kelasnya ekstrim betul, sampai di antarkan ke dalam kamar mandi. Tempat paling rawan orang buka aurat. Melihat ning saat tidak berjilbab, mungkin juga melihat pas hanya pakai handuk.  Pokoknya santri yang ini nakal. Air yang dijual murah. Syech nya pun senang karena harga airnya murah. Airnya murah, khusus untuk dia, karena jualnya juga hanya ke syech itu saja. Karena tidak ada kepentingan di tempat lain. Kepentingan dia hanya masuk rumah tadi”. Melihat tingkah santri tersebut, Lama kelamaan Syech tersebut paham maksud santri tersebut menjadi tukang air. Akan tetapi, pahamnya Syekh tersebut entah karena sebab seorang wali atau karena tingkah laku dari seorang santri tadi yang tidak beres, dikarenakan santri tersebut hanya menjual air ke rumah syekh alim tersebut. Akhirnya syekh alim tersebut mengetahui motif santri tersebut hanya untuk bisa masuk ke rumahnya dan melihat anaknya. “Lama-lama (santri tadi) ditanya, nak kalau kamu ingin jadi menantu saya itu mudah. Tidak perlu sampai kamu berjualan air.  Wali kan, syechnya wali (sehingga bisa tau)   Caranya gimana mbah? Kamu sholat di masjidil haram 40 hari shof awal, tidak boleh bolong. Pada hari ke 40, laporan ke saya, langsung saya nikahkan. Betulan ini. Oke Sholat mulai hari Ahad ditandai, start shof awal 40 hari tanpa bolong. Itu ya orang mekah. Bisa ditiru ya, jangan sampai bolong. Asik... Sholat pertama ya demi perempuan. Sholat kedua masih demi menjadi menantu kyai, pokoknya ketiga sampai berhari-hari (niat demi perempuan). Hari kesepuluh sudah sadar, sudah mulai menikmati sholat berjamaah”. “Alhasil hari kesepuluh duapuluh mulai membaik. Pas hari keempatpuluh lupa, tetap sholat (berjamaah). Didatangi sama si Syech, digandeng, diajak pulang.  Ayo pulang nak. Lho, mau apa syech?. Ya pulang, kawin, kan ini hari ke empat puluh, jadi waktunya kamu saya akadkan dengan anakku.  Syech menghina saya ya, masak sholat ditukar sama anakmu. Marah dia, dia tersinggung. Jamaah 40 hari itu syech, imbalannya itu bebas dari neraka”.  Alhasil setelah bertemu kyainya tadi, sang santri marah. Anda ngejek orang mbah, sholat kok ditukar sama anaknya, ya gak mau lah. Balasannya sholat 40 hari itu terbebas dari neraka. Jadi ya tidak cukup ditukar anak anda. Lah terus gimana nak. Ya gak jadi. Ngejek orang itu. Setelah pulang, si syech yang gentian memohon. Beneran nak, saya minta, kamu harus mau jadi menantuku. Aku pengen punya menantu yang ikhlas. Sekarang kebalik, Yaudah kalo gitu. Akhirnya Syekh alim tersebut mendapatkan menantu yang ikhlas. Santri tersebut juga tetap mendapat barokahnya ikhlas. Tegas Gus baha. Dari kisah ini Gus Baha mengajarkan kepada para pencintanya, bahwa seseorang dalam beribadah harus berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun dalam melakukan ibadah pada awalnya mengharapkan sesuatu. Akan tetapi apabila ibadah tersebut dilakukan dengan istiqamah lama-lama ibadah yang dilakukan seseorang tersebut bisa ikhlas sendiri. Gus Baha  juga mengisahkan imam ghozali masuk mondok itu pada awalnya hanya berniat untuk mencari makan, bukan untuk mencari ilmu. Karena pada waktu itu Ghozali kecil hidup dalam keadaan miskin, dan yatim. Pada waktu harta bapaknya habis, paman dan teman-teman bapaknya ini memasukkan Ghazali kecil ke sebuah yayasan pendidikan. Karena pada waktu itu, satu-satunya cara supaya mendapatkan makan gratis yaitu dengan masuk yayasan. Akhirnya  beliau dipondokkan dan lama-lama beliau menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. Alhasil, betapa barokahnya ikhlas dan ikhlas itu bisa dilatih. Gus Baha juga mengisahkan Mbah Maksum Lasem, beliau pernah menjadi bahan ejekan di antara kyai. “Ada kyai kan suka baca wirid, tapi saya tidak. Tapi ya ingat Pengeran, tidak baca wirid bukan berarti tidak ingat Pengeran. Gaya sekali kamu Sum. Kalau selesai sholat baca wirid lama. Karena santri kamu banyak kan, kamu malu kan kalo langsung pergi. Itu sesama kyai lho ya ejek-ejekannya. Kalo aku sih terang saja, daripada demi santri ya mending tidak baca wirid, mengingat Pengeran dimanapun. Terus mbah Maksum menjawab. Iya aku pertama baca wirid ya demi santri, santri banyak kok gak baca wirid. Tapi lama-lama ya lupa, kalo sudah lupa ya ikhlas. Masyhur juga ini (cerita) mbah Maksum. Jadi yang penting pertama baca wirid demi santri, masak mengimami santri sebegitu banyak setelah salam kabur. Ya tidambah baca wirid lah. Lama-lama nanti lupa, nah pas lupa itu sudah ikhlas. Ucap mbah Maksum”. Jadi banyak orang mendapat motivasi beribadah pertama itu tidak ikhlas. Akan tetapi, karena  dilatih terus menerus lama-kelamaan akan timbul rasa ikhlas. Seperti halnya santri tadi, dia pertama melakukan sholat berjamah demi perempuan. Lama-lama santri tersebut menikmati shalat berjamaah tersebut bahkan sampai tersinggung ketika akan ditukar dengan perempuan. “Ngejek orang mbah, sholat kok ditukar perempuan”. “Paham ya, jadi pertama berdakwah mungkin melihat, menjadi mubaligh hasilnya banyak, ya boleh. Nanti kalau saatnya ikhlas kan tidak mau. Lama-lama gak laku lagi. Nah itu ikhlas betulan, nanti sudah ikhlas diangkat Pengeran laku lagi. Pas itulah sudah ikhlas. Jadi ikhlas itu ada prosesnya. Kembali ke kisah, kalau di mekah, masuk rumah orang itu harus ijin, nah ijinnya susah, santri tadi berpikir. Kalau bertamu saja kan gak melihat (perempuan). Akhirnya jual air, berhasil dia. Hebat betul bocah tadi ya, jadi jualan air, jamaah 40 hari bebas dari neraka, barokahnya ikhlas dapat anaknya kyai. Hebat betul, tapi yang bisa mengalami itu siapa, gak tau”. Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap

KALAMULAMA.COM– NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang sangat luar biasa bagi pendengarnya. Dalam suatu ngajinya, Gus Baha menceritakan kisah seorang santri nakal yang menginginkan seorang putri dari seorang syekh yang alim. Syekh Alim tersebut mempunyai seorang putri yang mempunyai wajah cantik dan menjadi dambaan terutama dikalangan santri.

Saya punya cerita lucu dunia wali. Jadi di dunia wali yang sanad-sanad saya sampai Rasulullah itu, dulu di mekah ada namanya wali dzambil, ya wali rada jadzab. Itu pada periode yang mengarang i’anah, pokoknya periode-periode itu, kira-kira dari saya empat guru.

Ada seorang alim alamah populer punya anak cantik. Dulu santri juga nakal, pokoknya kalau ada anaknya orang alim berparas cantik itu jadi dambaan. Karena pikirannya ketika jadi menantu kyai langsung jadi kyai melejit, nasabnya cangkokan kan beres. Daripada membangun nasab sendiri kan repot. Cangkokan, anaknya dipanggil gus dipanggil ning kan damai, daripada berkarir sendiri bergulat kan panjang (perjuangannya)”.

Santri nakal tersebut menginginkan bertemu dengan anak syekh alim tersebut. Dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah syekh alim tersebut dan bertemu dengan anaknya. Seperti diketahui Tradisi di Mekah dalam bertamu ke rumah orang lain itu tidak semudah di Jawa. Misalnya kalau di Jawa seseorang ingin meminjam palu atau sabit itu tidak susah seperti di Makkah. Pada waktu itu, satu-satunya cara supaya bisa masuk dapur, salah satunya yaitu menjadi tukang air. Akhirnya santri tadi menjadi tukang air. Karena pada waktu itu belum ada PDAM. Akhirnya dia setiap hari mengantarkan air ke rumah Syekh alim tersebut sampai ke kamar mandinya.

Tambah-tambah ya jualan air, tukang air itukan kelasnya ekstrim betul, sampai di antarkan ke dalam kamar mandi. Tempat paling rawan orang buka aurat. Melihat ning saat tidak berjilbab, mungkin juga melihat pas hanya pakai handuk. 

Pokoknya santri yang ini nakal. Air yang dijual murah. Syech nya pun senang karena harga airnya murah. Airnya murah, khusus untuk dia, karena jualnya juga hanya ke syech itu saja. Karena tidak ada kepentingan di tempat lain. Kepentingan dia hanya masuk rumah tadi”.

Melihat tingkah santri tersebut, Lama kelamaan Syech tersebut paham maksud santri tersebut menjadi tukang air. Akan tetapi, pahamnya Syekh tersebut entah karena sebab seorang wali atau karena tingkah laku dari seorang santri tadi yang tidak beres, dikarenakan santri tersebut hanya menjual air ke rumah syekh alim tersebut. Akhirnya syekh alim tersebut mengetahui motif santri tersebut hanya untuk bisa masuk ke rumahnya dan melihat anaknya.

Lama-lama (santri tadi) ditanya, nak kalau kamu ingin jadi menantu saya itu mudah. Tidak perlu sampai kamu berjualan air. 

Wali kan, syechnya wali (sehingga bisa tau)

 

Caranya gimana mbah? Kamu sholat di masjidil haram 40 hari shof awal, tidak boleh bolong. Pada hari ke 40, laporan ke saya, langsung saya nikahkan. Betulan ini. Oke

Sholat mulai hari Ahad ditandai, start shof awal 40 hari tanpa bolong. Itu ya orang mekah. Bisa ditiru ya, jangan sampai bolong.

Asik…

Sholat pertama ya demi perempuan. Sholat kedua masih demi menjadi menantu kyai, pokoknya ketiga sampai berhari-hari (niat demi perempuan). Hari kesepuluh sudah sadar, sudah mulai menikmati sholat berjamaah”.

“Alhasil hari kesepuluh duapuluh mulai membaik. Pas hari keempatpuluh lupa, tetap sholat (berjamaah). Didatangi sama si Syech, digandeng, diajak pulang. 

Ayo pulang nak. Lho, mau apa syech?. Ya pulang, kawin, kan ini hari ke empat puluh, jadi waktunya kamu saya akadkan dengan anakku. 

Syech menghina saya ya, masak sholat ditukar sama anakmu. Marah dia, dia tersinggung.

Jamaah 40 hari itu syech, imbalannya itu bebas dari neraka”. 

Alhasil setelah bertemu kyainya tadi, sang santri marah. Anda ngejek orang mbah, sholat kok ditukar sama anaknya, ya gak mau lah. Balasannya sholat 40 hari itu terbebas dari neraka. Jadi ya tidak cukup ditukar anak anda.

Lah terus gimana nak. Ya gak jadi. Ngejek orang itu. Setelah pulang, si syech yang gentian memohon. Beneran nak, saya minta, kamu harus mau jadi menantuku. Aku pengen punya menantu yang ikhlas. Sekarang kebalik,

Yaudah kalo gitu.

Akhirnya Syekh alim tersebut mendapatkan menantu yang ikhlas. Santri tersebut juga tetap mendapat barokahnya ikhlas. Tegas Gus baha.

Dari kisah ini Gus Baha mengajarkan kepada para pencintanya, bahwa seseorang dalam beribadah harus berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun dalam melakukan ibadah pada awalnya mengharapkan sesuatu. Akan tetapi apabila ibadah tersebut dilakukan dengan istiqamah lama-lama ibadah yang dilakukan seseorang tersebut bisa ikhlas sendiri. Gus Baha  juga mengisahkan imam ghozali masuk mondok itu pada awalnya hanya berniat untuk mencari makan, bukan untuk mencari ilmu. Karena pada waktu itu Ghozali kecil hidup dalam keadaan miskin, dan yatim. Pada waktu harta bapaknya habis, paman dan teman-teman bapaknya ini memasukkan Ghazali kecil ke sebuah yayasan pendidikan. Karena pada waktu itu, satu-satunya cara supaya mendapatkan makan gratis yaitu dengan masuk yayasan. Akhirnya  beliau dipondokkan dan lama-lama beliau menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. Alhasil, betapa barokahnya ikhlas dan ikhlas itu bisa dilatih.

Gus Baha juga mengisahkan Mbah Maksum Lasem, beliau pernah menjadi bahan ejekan di antara kyai.

Ada kyai kan suka baca wirid, tapi saya tidak. Tapi ya ingat Pengeran, tidak baca wirid bukan berarti tidak ingat Pengeran.

Gaya sekali kamu Sum. Kalau selesai sholat baca wirid lama. Karena santri kamu banyak kan, kamu malu kan kalo langsung pergi.

Itu sesama kyai lho ya ejek-ejekannya. Kalo aku sih terang saja, daripada demi santri ya mending tidak baca wirid, mengingat Pengeran dimanapun.

Terus mbah Maksum menjawab. Iya aku pertama baca wirid ya demi santri, santri banyak kok gak baca wirid. Tapi lama-lama ya lupa, kalo sudah lupa ya ikhlas. Masyhur juga ini (cerita) mbah Maksum. Jadi yang penting pertama baca wirid demi santri, masak mengimami santri sebegitu banyak setelah salam kabur. Ya tidambah baca wirid lah. Lama-lama nanti lupa, nah pas lupa itu sudah ikhlas. Ucap mbah Maksum”.

Jadi banyak orang mendapat motivasi beribadah pertama itu tidak ikhlas. Akan tetapi, karena  dilatih terus menerus lama-kelamaan akan timbul rasa ikhlas. Seperti halnya santri tadi, dia pertama melakukan sholat berjamah demi perempuan. Lama-lama santri tersebut menikmati shalat berjamaah tersebut bahkan sampai tersinggung ketika akan ditukar dengan perempuan. “Ngejek orang mbah, sholat kok ditukar perempuan”.

“Paham ya, jadi pertama berdakwah mungkin melihat, menjadi mubaligh hasilnya banyak, ya boleh. Nanti kalau saatnya ikhlas kan tidak mau. Lama-lama gak laku lagi.

Nah itu ikhlas betulan, nanti sudah ikhlas diangkat Pengeran laku lagi. Pas itulah sudah ikhlas.

Jadi ikhlas itu ada prosesnya.

Kembali ke kisah, kalau di mekah, masuk rumah orang itu harus ijin, nah ijinnya susah, santri tadi berpikir. Kalau bertamu saja kan gak melihat (perempuan). Akhirnya jual air, berhasil dia.

Hebat betul bocah tadi ya, jadi jualan air, jamaah 40 hari bebas dari neraka, barokahnya ikhlas dapat anaknya kyai. Hebat betul, tapi yang bisa mengalami itu siapa, gak tau”.

 

Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap

 

Lihat Video selengkapnya di: Youtube Kalam Ulama Official

Ngaji Gus Baha: Saat Gus Baha Diminta Fatwa Hukum Rokok Oleh Kiai Sepuh

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Nasihat Suami Istri dan Hukum Halal Haram Rokok Gus Baha dalam setiap kajiannya selalu menampilkan kisah-kisah yang menarik dan lucu. Cerita gus Baha kali ini mengisahkan kehidupan suami istri dalam rumah tangga. Diceritakan dalam rumah tangga tersebut sang istri selalu bersikap cerewet kepada suaminya karena kesal uangnya selalu dipakai membeli rokok dibanding untuk membeli keperluan kehidupan sehari-hari. Menurut Gus Baha sikap istri yang demikian tersebut bisa dibenarkan, karena kalau istri tidak cerewet maka keuangan dalam rumah tangga tersebut akan kacau. “Makanya saya minta, anda hubungan suami istri juga gitu, kalau dinasehati perempuan itu jangan terlalu PD kamu yang benar. Kadang cerewatnya dia juga benar. Misal, uang 20 Ribu kok dipakai rokok dan ngopi, bukan untuk beli beras. Itu jika gak ada yang cerewet kan ya kacau, secara ekonomi. Tapi, orang sudah melarat dilarang punya hiburan merokok ngopi, nanti kalau stress juga repot. Jadi ya pokoknya cukup, kalau ada khilaf  seperti itu ya kita (maklumi) Saya sering dapat laporan. “Gus, itu lho kasih tau, uang Cuma 20 ribu bukannya beli beras malah beli rokok”. Kata yang laki-laki jawabnya mudah. “gimana dong gus, saya ini santri, zina gak berani, dangdutan gak berani, hiburan rokok saja anda haramkan, kalau saya stres malah repot”. Ini kan seperti benar seperti salah. Yang perempuan pun saya bilangin, makanya nak, hidup itu yang kramat, jadi gak bergantung laki-laki. Makanyan harta bapakmu dibawa pulang, jadi punya uang. Jangan bergantung laki-laki”. Gus Baha juga menyampaikan ketika seorang istri ‘cerewet’ kepada suaminya, maka seorang suami juga jangan membantah. Terkadang sikap suami memang bisa salah dan perlu dinasehati oleh istrinya. Artinya dalam sebuah rumah tangga, suami dan istri  harus saling menasehati agar tercipta ketenangan. “Yang laki-laki juga saya bilangin, jadi laki-laki itu kalau dinasehati perempuan itu jangan membantah, kamu ini salah kok mbantah. Tidak gus, saya akan siap diam. Syaratnya tetap boleh rokok dan ngopi. Ya alasannya begitu. Orang-orang kaya itu hiburannya banyak, punya toko punya mobil punya apapun. Masak punya hiburan ngopi dan rokok kok gak boleh”. Mengenai masalah hukum rokok, Gus Baha mempunyai ‘pengalaman buruk’ saat ditanya seorang kiai sepuh mengenai masalah hukum rokok. Sang kiai tersebut meminta fatwa hukum rokok kepada Gus Baha. Masyarakat muslim Indonesia walaupun MUI memberikan fatwa terhadap suatu perkara, dalam hal ini MUI memberikan fatwa haram pada hukum rokok. Masyarakat muslim tidak serta merta mengikuti fatwa dari MUI, mereka terkadang lebih patuh terhadap fatwa kiai-kiai disekitarnya. Karena kiai-kiai tersebut lebih faham keadaan masyarakat disekitarnya sehingga kiai-kiai tersebut akan lebih bijak dalam memberikan fatwa kepada masyarakat disekitarnya. Seperti halnya gus Baha dalam memberikan fatwa hukum rokok kepada kiai sepuh tersebut sangat fleksibel sekali. “Saya masih ingat, punya kenangan buruk. MUI berfatwa mengharamkan rokok, masyhur. Saya ditanya Kyai yang sudah sakit sudah sepuh, Gus, saya tanya anda, anda jawab sayapun sami’na wa atho’na. Saya ini Kyai, hiburannya merokok di sudut mushola ketika malam. Punya kelompok merokok di pojok mushola. Kalau sudah habis ya sudah digores-gores di tembok, gak pakai asbak, ya alasannya begitu. Saya ini Kyai gus, pacaran gak pantes, nonton bioskop juga gak pantes. Hiburan saya ya kelompok rokok di pojok mushola. Kalau itu haram juga ya tidak punya hiburan. Masak anda masih mengharamkan. Ini tanya tapi menggiring. Aku pun bilang, ya sudah untuk anda tidak haram”. Tegas Gus Baha. Baca Juga Profil Gus Baha (Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap)

kalamulama.com– Ngaji Gus Baha: Nasihat Suami Istri dan Hukum Halal Haram Rokok

Gus Baha dalam setiap kajiannya selalu menampilkan kisah-kisah yang menarik dan lucu. Cerita gus Baha kali ini mengisahkan kehidupan suami istri dalam rumah tangga. Diceritakan dalam rumah tangga tersebut sang istri selalu bersikap cerewet kepada suaminya karena kesal uangnya selalu dipakai membeli rokok dibanding untuk membeli keperluan kehidupan sehari-hari. Menurut Gus Baha sikap istri yang demikian tersebut bisa dibenarkan, karena kalau istri tidak cerewet maka keuangan dalam rumah tangga tersebut akan kacau.

“Makanya saya minta, anda hubungan suami istri juga gitu, kalau dinasehati perempuan itu jangan terlalu PD kamu yang benar.

Kadang cerewatnya dia juga benar. Misal, uang 20 Ribu kok dipakai rokok dan ngopi, bukan untuk beli beras. Itu jika gak ada yang cerewet kan ya kacau, secara ekonomi.

Tapi, orang sudah melarat dilarang punya hiburan merokok ngopi, nanti kalau stress juga repot. Jadi ya pokoknya cukup, kalau ada khilaf  seperti itu ya kita (maklumi)

Saya sering dapat laporan. “Gus, itu lho kasih tau, uang Cuma 20 ribu bukannya beli beras malah beli rokok”. Kata yang laki-laki jawabnya mudah. “gimana dong gus, saya ini santri, zina gak berani, dangdutan gak berani, hiburan rokok saja anda haramkan, kalau saya stres malah repot”.

Ini kan seperti benar seperti salah. Yang perempuan pun saya bilangin, makanya nak, hidup itu yang kramat, jadi gak bergantung laki-laki. Makanyan harta bapakmu dibawa pulang, jadi punya uang. Jangan bergantung laki-laki”.

Gus Baha juga menyampaikan ketika seorang istri ‘cerewet’ kepada suaminya, maka seorang suami juga jangan membantah. Terkadang sikap suami memang bisa salah dan perlu dinasehati oleh istrinya. Artinya dalam sebuah rumah tangga, suami dan istri  harus saling menasehati agar tercipta ketenangan.

Yang laki-laki juga saya bilangin, jadi laki-laki itu kalau dinasehati perempuan itu jangan membantah, kamu ini salah kok mbantah.

Tidak gus, saya akan siap diam. Syaratnya tetap boleh rokok dan ngopi. Ya alasannya begitu.

Orang-orang kaya itu hiburannya banyak, punya toko punya mobil punya apapun. Masak punya hiburan ngopi dan rokok kok gak boleh”.

Mengenai masalah hukum rokok, Gus Baha mempunyai ‘pengalaman buruk’ saat ditanya seorang kiai sepuh mengenai masalah hukum rokok. Sang kiai tersebut meminta fatwa hukum rokok kepada Gus Baha. Masyarakat muslim Indonesia walaupun MUI memberikan fatwa terhadap suatu perkara, dalam hal ini MUI memberikan fatwa haram pada hukum rokok. Masyarakat muslim tidak serta merta mengikuti fatwa dari MUI, mereka terkadang lebih patuh terhadap fatwa kiai-kiai disekitarnya. Karena kiai-kiai tersebut lebih faham keadaan masyarakat disekitarnya sehingga kiai-kiai tersebut akan lebih bijak dalam memberikan fatwa kepada masyarakat disekitarnya. Seperti halnya gus Baha dalam memberikan fatwa hukum rokok kepada kiai sepuh tersebut sangat fleksibel sekali.

Saya masih ingat, punya kenangan buruk. MUI berfatwa mengharamkan rokok, masyhur.

Saya ditanya Kyai yang sudah sakit sudah sepuh, Gus, saya tanya anda, anda jawab sayapun sami’na wa atho’na.

Saya ini Kyai, hiburannya merokok di sudut mushola ketika malam. Punya kelompok merokok di pojok mushola. Kalau sudah habis ya sudah digores-gores di tembok, gak pakai asbak, ya alasannya begitu.

Saya ini Kyai gus, pacaran gak pantes, nonton bioskop juga gak pantes. Hiburan saya ya kelompok rokok di pojok mushola. Kalau itu haram juga ya tidak punya hiburan. Masak anda masih mengharamkan.

Ini tanya tapi menggiring. Aku pun bilang, ya sudah untuk anda tidak haram”. Tegas Gus Baha.

Baca Juga Profil Gus Baha (Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap)

Saksikan Video Pengajian dibawah ini :

Kitab Syajarah al-Ma’arif – Ngaji Gus Baha April 2019

Kitab Syajarah al-Ma'arif

KalamUlama.com Ngaji Gus Baha‘ Menjelasan Kitab Syajarah al-Ma’arif  *) Sebelum ngaji di Masjid Bayt Al-Qur’an rabu lalu, gus Baha’ sedikit menjelaskan tentang kitab Syajarah al-Ma’arif, karya syaikh Izzuddin bin Abdissalam kepada para pengurus pesantren Bayt al-Qur’an.

Berikut kurang lebih isi Ngaji Gus Baha’ Menjelasan Kitab Syajarah al-Ma’arif :
Pagi itu, beliau menjelaskan tentang kitab Syajarah al-Ma’arif. Menurut gus Baha’ kitab ini termasuk salah satu kitab dengan metode terbaik dalam ilmu Tafsir. Kitab ini dikarang oleh seorang Ulama yang bergelar Sulthonul Ulama, yaitu Izzuddin bin Abdissalam.

Dalam kitab ini beliau mengutip ayat-ayat Qur’an yang berbicara tentang peristiwa-peristiwa tertentu. Dalam Ululmul Qur’an hal seperti ini disebut dengan khusus al-sabab, yang dalam Ushul Fiqh disebut dengan waqi’atu al-hal atau waqi’atu ‘ain/ haditsatu ‘ain. Nah, khusus sabab di dalam al-Qur’an ini, oleh Syaikh Izzuddin di-“tabwib” dengan shighat umum, sehingga menjadi hukum umum. Dan ini akhirnya memiliki kesimpulan yang bagus sekali.
*
Semisal dalam halaman halaman 386 ada Fasal Fashlun La Yutraku al-Haqq li Ajli al-Bathil, yaitu kebenaran tidak boleh ditinggalkan meskipun memiliki banyak kebatilan. Syaikh Izzuddin mengutip firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 58 “inna al-shafa wa al-marwata min sya’airi Allah….”. Dalam ayat ini diceritakan sahabat merasa risih di Shafa dan Marwa terdapat berhala yang bernama Isaf dan Na’ilah. Karena risih, saat diperintah utuk sa’i oleh Nabi para sahabat ini merasa gamang. Mana mungkin melakukan sa’i di tempat yang ada berhala di dalamnya. Namun, oleh Allah swt. mereka tetap diperintahkan untuk melakukan sa’i (fala junaha ‘alaihi an yaththawwafa bihima).

Ini adalah Waqi’atu ‘Ain (suatu kondisi/keadaan khusus). Akan tetapi oleh Syaikh Izzuddin diambil natijah la yutraku al-Haqq li ajli al-Bathil – barang haq tidak boleh ditinggalkan hanya karena ada barang batil.

Saat saya menyampaikan hal ini di hadapan pak Quraish beliau merasa sangat senang sekali. Kemudian saya mencontohkan seperti Mbah Maimun dan guru-guru saya lainnya, beliau-beliau tetap mengelola ummat meskipun di dunia ini banyak kemaksiatan, sebagaimana kaidah tadi. Inilah salah satu kelebihan dari Syaikh Izzuddin.
*
Suatu ketika saya mendapat pertanyaan. Ada seorang anak muda yang meninggal karena minum minuman keras oplosan. Singkatnya, beberapa kiai tidak mau datang. Rata-rata kiai tersebut alumni dari bapak saya. Namun saya bilang kalau mereka tetap harus datang. Tetapi mereka bilang “gus, kan dia meninggalnya karena minum oplosan, begini begini….”.
Akhirnya saya bilang “kamu datang bukan karena untuk anak itu. Memang, mugkin bagi kamu anak itu “mangkelno” (menjengkelkan). Akan tetapi kamu datang demi tegaknya syari’at Islam, bahwa mayit itu harus dimandikan, dikafani, disholati, dan dimakamkan. Kalau kamu tidak datang kemudian ada orang menciptakan kaifiyyah baru dalam mengurus jezanah, maka kita ini akan ikut berdosa.”

Maka apabila kita (orang-orang yang mengetahui) tidak mau datang untuk mengurus jenazah, kemudian ada orang yang fasiq ngasal dalam mengurusnya, maka kita tidak bisa menyalahkan mereka. Oleh karenanya dengan dalil ini tadi, kita tetap datang demi tegaknya syariat Islam, bahwa janazatul muslim (apapun dia) harus diperlakukan sebagaimana mestinya. Jadi, kita datang bukan demi anak itu, tapi untuk syariat Islam.

Begitupun saya saat diundang oleh orang awam untuk meng-akad-kan seseorang. Orang tersebut bilang kalau nanti akan diadakan sinden dan ketoprak juga, tetapi tetap ingin saya yang meng-akad-kan. Maka saya pun tetap datang menghadirinya. Jadi, guru-guru kita sejak dulu memiliki pedoman kaidah ini, la yutraku al-Haqq li ajli al-Bathil. Pijakannya adalah sebagaimana ayat di atas.

Kelebihan dari Syaikh Izzuddin Abdissalam, seperti ini langsung diberi judul Fashlun la yutraku al-Haqq li ajli al-Bathil. Maka, nanti ketika santri-santri PSQ mengkaji kitab ini luar biasa. Jadi, ayat-ayat yang menjadi haditsatu ‘ainin atau khususis sabab menjadi umum dengan kesimpulan ulama yang sangat luar biasa.
*
Contoh lain adalah Fashlun fi Dzikri a

l-Rajuli Manaqiba Nafsih, orang menyebut kelebihan yang ada pada dirinya sendiri. Apakah diperbolehkan atau tidak. Kemudian syaikh Izzuddin mengutip hikayat Sulaiman dalam QS. Al-Naml [27]: 16, “‘ullimna manthiqa al-thairi wa utina min kulli syai’.” Dalam ayat ini Nabi Sulaiman menceritakan tentang kelebihannya sendiri.
Begitupula Nabi Yusuf yang mengatakan bahwa dirinya layak menjadi seorang pengatur (khazainil ardh) karena dirinya adalah hafizun ‘alim, (QS. Yusuf [12]: 55). Jadi, menurut saya ini unik sekali.
*
Contoh lagi, Fashlun fi Saddi Dzarai’i al-Syarri, yaitu agar supaya potensi-potensi konflik atau potensi keburukan itu hilang. Itu syaikh Izzuddin memakai ayat “wala tasubbu alladzina yad’una min duni Allahi fayasubbu Allaha ‘adwan bighairi ‘ilm.” Jadi begini: Dulu ketika sahabat dididik Nabi untuk anti berhala, mereka saking overnya sampai mengolok-olok berhala-berhala tersebut. Padahal menurut mereka (kaum jahiliyyah) berhala-berhala itu adalah tuhan. Jadi, kalau mencela tuhan mereka (berhala), mereka pun juga akan mencela Tuhan kita (Allah). Singkat cerita Allah swt. menegur Nabi Muhammad saw. dengan ayat ini.Intinya (misal) kalau ada ketua preman, kita tidak mencelanya itu bukan karena kita hormat. Tetapi bisa saja yang akan dibalas adalah kiai kita. Nah, hal seperti ini oleh syaikh Izzuddin dibuat satu fashl sendiri, fashlun fi saddi dzarai’i al-syarr, bahwa potensi-potensi keburukan kita cegah dengan cara tidak melakukan penyebab tersebut.Hal ini mirip hadis Rasul saw. ketika berkata janganlah kamu mencela ibu kamu sendiri. Lalu sahabat bertanya, “mana mungkin ya Rasul kita mencela ibu bapak kita sendiri?”. Kemudian Rasul bersabda “yasubbu aba al-rajul fayasubbu abaah. Wa yasubbu umma al-rajul fayasubbu ummah”. Tentu kita tidak mencela ibu kita secara langsung. Tetapi bahwa kita mencela ibu orang lain, maka diapun akan membalas celaan/cacian pada ibu kita. Dengan demikian, mencela orangtua orang lain, sama saja mencela orangtua kita sendiri.Oleh syaikh Izzuddin semua peristiwa waqi’atu ‘ain ini dirubah sedemikian rupa manjadi ilmu/kaidah umum.
*
Pada halaman 228 ada fashlun fi Ikrami Nisa’ al-Shalihin wa Shibyanihim. Dalilnya menggunakan ayat “wa kana abuhuma shaliha” dan “allahumma shali ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”.Yang pertama maksudnya dalam ayat ini bahwa anak kecil yang dirawat Nabi Khidhir itu belum memiliki jasa dan prestasi. Tetapi beliau merawat anak kecil tersebut dengan pertimbangan bahwa orangtuanya adalah orang yang shalih, kana abuuhuma shaliha. Artinya kita menghormati anak-anak berdasar menghormati ayahnya. Jadi unik sekali dalam beristidlal.Dalil kedua menguunakan shalawat. Pada saat itu Alun Nabi belum memiliki jasa dan prestasi. Tentu saat itu masih anak cucunya masih kecil-kecil. Mungkin usianya sekitar 8 tahunan atau bahkan kurang. Wong kalau Nabi sholat saja, kadang sayyid Hasan dan Husain naik ke atas punggung Nabi. Pada saat itupun kita sudah diperintahkan untuk bersalawat pada keluarganya. Nah, karena kita menghormati Nabi, maka kita menghormati anak cucunya pula. Kalau sekarang, jasa anak cucunya sudah luar biasa.

Dengan dua dalil di atas, ditarik kesimpulan fashlun fi ikrami nisa’ al-shalihin wa shibyanihim – memulyakan bayi-bayi atau anak kecilnya orang-orang shalih.
*
Fashlun fi al-Ihsan ila al-Musi’, yaitu berbuat baik pada orang yang berbuat jelek. Lalu syaikh Izzuddin mengutip ayat “la tatsriba alaikum al-yaum yaghfiru Allahu lakum” (QS. Yusuf [12]: 93.
Diceritakan bahwa ikhwatu Yusuf/saudara-saudara Yusuf itu biadab, tidak sopan sekali pada nabi Yusuf. Meski begitu saat bertemu Nabi Yusuf, beliau berkata “kamu tidak usah khawatir, tidak usah gelisah. Sudah saya maafkan”.

Jadi, itu merupakan suatu waqi’atu ‘ain di mana Nabi Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang kurang ajar – tidak baik. Tetapi dari sini dijadikan menjadi kaidah umum yaitu Fashlun fi al-Ihsan ila al-Musi’, yaitu berbuat baik pada orang yang berbuat buruk. Menurut saya ini luar biasa.
*
Kitab ini saya hadiahkan untuk panjenengan, saya mohon jadi bahan diskusi. Karena kemarin pak Quraish sempat berpesan disuruh menerjemahkan. Tetapi itu kan bukan kewajiban saya. Khitabnya kan ke anak-anak PSQ (😀). Setidaknya saya sudah membantu. Yang jelas kitab ini polanya adalah dari waqi’atu ‘ain atau khususis sabab kemudian diberi judul ditarik kesimpulan menjadi kaidah umum. Ini sesuai dengan kaidah “al-Ibrah bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab”. Tetapi terkadang kita ini kesulitan, karena kita tidak terbesit ayat tersebut untuk hal-hal tersebut. Tentu hal ini membutuhkan sebuah dzauq yang salim.

Seperti kaidah la yutraku al-haqq li ajli al-bathil tadi, yang ternyata contohnya adalah luar biasa (QS. al-Baqarah [2]: 158. (Bertolak dari sini) makanya saya mohon untuk tetap datang ke jenazahnya orang fasiq, asal dia muslim – dia mukmin. Meskipun di situ dia meninggal karena bunuh diri ataupun karena minum oplosan. Karena, kalau kebenaran dalam mengurus jenazah kita tinggalkan, khawatir nanti orang-orang batil membikin cara-cara tersendiri, maka kita akan lebih kesulitan lagi. Lalu, kita datang bukan untu menghormati mereka, tetapi menghormati kaifiyyah Islamiyyah dalam mengurus jenazah. Saya mohon, pola-pola pemahaman tersebut dapat dikembangkan lagi.
*
Jadi, metode tafsir itu bukan sekedar anda belajar Jalalain, al-Munir atau tafsir lainnya. Tetapi, kitab-kitab seperti ini akan sangat membantu sekali.Saya pernah membaca kitab-kitab orang ‘alim yang bercorak Isyari. Mereka kalau ngendikan itu enak sekali.  Seperti saat saya membaca ayat “innama amwalukum wa auladukum fitnah”. Ulama ini nangis “ya Rabbi wa nahnu nastazidu minna. Ini bagaimana, amwal dan aulad jadi fitnah tapi kita ini bodoh sekali malah mengumpulkan fitnah tersebut.” Mereka mengumpulkan harta itu merasa risih, fitnah kok dikumpulkan. Tetapi, orang/ sang Wali ini juga lucu. Saat membaca ayat wa anfiqu mimma razaqnakum, mereka berkata “ya Allah betapa buruknya saya karena saya miskin, tidak bisa melakukan anfiqu.” Jadi, enak sekali, dia langsung mendialogkan ayat dengan ayat. Jadi, mereka miskin tidak berani, karena tidak bisa melakukan perintah anfiqu. Namun, memperkaya pun juga tidak berani, karena itu adalah fitnah. Uniknya, mereka tidak melalui disiplin ilmu tafsir. Karena dzauq nya salim.wAllahu a’lamKitab: https://drive.google.com/file/d/14-bKhJUmFt3cdNN90rax5p_McDTf2TDv/view?usp=drivesdk
(link kitab di atas cetakannya berbeda dgn kitab yg dibacakan gus Baha’ saat ngaji. Jadi, mungkin juga berbeda letak halamannya). Kitab Syajarah al-Ma’arif
Simak Kumpulan video ngaji gus baha’ , Klik