dar-alifta.org

kalamulama.com– Shalawat Adalah Ibadah. Sebagian pendapat menyatakan bahwa shalawat termasuk ibadah sehingga tidak boleh ada inisiatif apapun selain shalawat yang ma’tsur. Pendapat ini tertolak dengan banyaknya riwayat para sahabat dan ulama salaf yang menggunakan redaksi shalawat sendiri sebagaimana di antara tersebut di atas.
Pendapat ini pun tertolak dengan kenyataan banyak sekali riwayat bahwa para sahabat dan ulama salaf (tabi’in dan tabi’it tabni’in) mengambil inisiatif dalam berbagai jenis ibadah. Di antara riwayatnya adalah :

  1. Dari Sahabat rifa’ah bin rafi’ ra, berkata :

    shalawat adalah

    “Kami shalat di belakang Baginda Nabi saw, ketika beliau bangun dari ruku’ beliau berkata, “Sami’allaahu liman hamidah” seorang lelaki di belakangnya berkata, “Rabbana walakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih”. Setelah selesai shalat Baginda Nabi Muhammad
    saw bertanya, “Siapa yg membaca kalimat tadi ?” Lelaki itu menjawab, “Saya”. Lalu baginda nabi Muhammad saw bersabda, “Aku telah melihat lebih dari 30 malaikat berebut menulis pahalanya. (HR Bukhari)

  2. Dari Imam Nafi’ dari sahabat Abdullah bin Umar ra :

    “Bahwa talbiyah Rasulullah saw adalah: “Labbaikallaahumma labbaik labbaika laa syariika lak
    labbaik innal hamda wanni’mati laka walmulka laa syariika lak”. Nafi’ berkata; “Abdullah bin Umar selalu menambah bacaan talbiyah tersebut dengan berkata, “Labbaika wa sa’daika wal khoiru biyadaika labbaika warraghbaa’u ilaika wal’amalu.” HR. Muslim

  3. Dari As-Saib bin Yazid ra, berkata,

    “Pada masa Rasulullah saw, Abu Bakar ra dan Umar ra adzan Jum’at pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman ra, dalam keadaan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari).

    Imam Ahmad bin Hanbal berkata,

    “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh alBaihaqi dalam Manaqib al-Imam al-Syafi’i).

Perhatikan bagaimana amal inisiatif para sahabat dibenarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Demikian pula Baginda Nabi Muhammad saw membenarkan adanya inisiatif itu yang ditunjukkan dengan tidak memberikan teguran kepada sahabat berkaitan melakukan inisiatif.
Ada pula pendapat yang mendasarkan pada kaidah tidak boleh ada ijtihad dalam ibadah. Pendapat ini pun tertolak dengan kenyataan bahwa umat Islam sepakat dalam hal mengamalkan adanya ijtihad dalam ibadah. Pengamalan ada ijtihad dalam ibadah tersebut bahkan dilakukan oleh komunitas yang mendakwakan tidak ada ijtihad dalam ibadah (melanggar kaidah mereka sendiri). Di antara buktinya adalah :

  1. diterimanya khuthbah jum’ah dengan adanya rangkaian tambahan bahasa selain Arab
  2. diterima adanya ceramah (khuthbah) sebelum atau setelah tarawih padahal dalam rangkaian shalat tarawih tidak dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw adanya ceramah (khuthbah)
  3. diterimanya ada ijtihad berkaitan dengan harta atau penghasilan yang terkena wajib zakat dalam keadaan zakat dalam fiqh jelas dimasukkan dalam fiqh ibadah

Baca Juga Shalawat dan Rahasianya (The Secret Of Shalawat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here