أُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.”

Hadits menuntut ilmu yang sudah sangat populer di kalangan pencari ilmu itu mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sering kita mendengar hadits tersebut, baik saat menghadiri majelis ta’lim, mengikuti pelajaran di madrasah diniyah, maupun saat pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar dan menengah. Apa makna hadits tersebut? Seberapa pentingkah menuntut ilmu hingga Rasulullah saw memerintahkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke negeri tirai bambu itu?

Jarak dari Arab ke China cukup jauh. Mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan dengan perjalanan darat pada saat itu. Ini mengandung makna bahwa menuntut ilmu sangatlah penting. Sekalipun harus ke tempat yang jauh. Jika jarak yang jauh saja harus dicari, bagaimana dengan yang dekat?

Makna berikutnya bisa dilihat dari kondisi bangsa China pada saat itu. Saat itu, bangsa China dikenal maju peradabannya dan unggul di bidang ilmu pengetahuan dibanding bangsa Arab, walaupun penduduknya belum mengenal Islam. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya ilmu agama saja yang harus dicari, ilmu pengetahuan umum pun harus dicari. Selain itu kondisi China yang belum mengenal Islam juga menunjukkan bahwa dalam mempelajari ilmu selain ilmu agama, umat muslim diperbolehkan berguru kepada orang kafir (non muslim).

“Mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan” ( HR. Ibnu Abdil Barri )


Ilmu apa sajakah yang wajib dicari? Wajib atau fardhlu di sini dibagi menjadi dua, yaitu fardhlu ‘ain dan fardhlu kifayah.

Fardhlu ‘ain berarti wajib bagi diri setiap muslim. Ilmu yang tergolong dalam golongan pertama ini yaitu:

1. Ilmu tentang Iman dan Islam.

Ketika seorang mengaku bertuhankan Allah, sudah pasti ia juga harus mengetahui dan mengenal siapa Allah. Bagaimana mungkin ia akan beribadah dan menjalankan syariat, sementara ia tidak mengenal dzat yang ia sembah.

2. Ilmu tentang sesuatu yang wajib seorang muslim kerjakan.

Setiap muslim yang sudah terkena kewajiban sholat, tentu wajib pula baginya mempelajari ilmu tentang sholat. Misalkan saja dalam kasus sholat berjama’ah. Terkadang dijumpai imam sholat yang lupa jumlah roka’at sholat yang sedang ia kerjakan, sehingga ia menambah satu roka’at lagi atau dengan kata lain sholatnya kelebihan satu roka’at. Dalam hal ini, jika sang makmum yang mengikuti sholat imam mengetahui bahwa itu suatu kesalahan, maka wajib baginya untuk mengingatkan sang imam. Dan ia juga tidak diperbolehkan untuk berdiri menambah roka’at sholat seperti yang dilakukan imam. Di sini makmum mempunyai dua pilihan, tetap duduk menunggu imam kembali ke posisi duduk tahiyat atau berniat untuk memisahkan diri dari sholat jama’ah (mufaraqah) dan melanjutkan sholat hingga salam secara munfarid. Namun, jika makmum justru mengikuti kesalahan imam maka batallah sholatnya. Sementara sholat imam tetap sah karena ia meakukan kesalahan dalam kondisi lupa.

Rasulullah saw bahkan mengatakan dalam haditsnya bahwa tidur orang yang berilmu lebih utama dari ibadah orang bodoh. Karena tidurnya seorang yang berilmu pasti disertai niat untuk ibadah. Hal ini tentu lebih utama daripada seseorang yang sholat siang malam, puasa setiap hari, dan ibadah-ibadah lain namun tidak mengetahui ilmu tentang ibadah itu.

3. Ilmu tentang sesuatu yang wajib seorang muslim hindari.

Sifat riya, hasad, iri dan dengki kepada orang lain merupakan contoh sifat tercela yang wajib dihindari bagi setiap muslim. Selain itu, seorang muslim juga diwajibkan untuk menerapkan dalam kesehariannya kebalikan dari sifat-sifat tersebut, yaitu sifat dan akhlak terpuji. Akhlak yang mengikuti akhlak Nabi Muhammad saw.

Dari tiga uraian di atas, dapat disimpulkan ilmu yang wajib dipelajari bagi diri setiap muslim yaitu ilmu tauhid, fiqih (syariat), dan akhlak (tasawuf).

Yang kedua yaitu ilmu yang apabila salah seorang muslim dalam suatu kaum sudah mempelajarinya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain (fardhlu kifayah). Contohnya belajar ilmu kedokteran, teknik, matematika, dan lain-lain. Jika dalam suatu kaum ada salah seorang yang sudah mempelajari ilmu itu, gugurlah kewajiban bagi yang lain.

Di antara syarat agar ilmu yang kita cari manfaat yaitu tempat mencari ilmu dan kondisi hati haruslah baik. Jangan sampai dalam suatu majelis ilmu terdapat kemaksiatan, kemungkaran, dan hal-hal lain yang menyalahi syariat. Kondisi hati juga harus baik. Baik itu hati si penyampai ilmu (mu’alim) atau si pencari ilmu (muta’alim). Keduanya harus ikhlas dan saling khusnudzon. Tanda-tanda seseorang ilmunya manfaat yaitu apabila ia keluar dari majelis ilmu akan ada perubahan dalam akhlaknya ke arah yang lebih baik, walaupun itu terjadi perlahan.

Carilah ilmu agama yang bisa dipertanggungjawabkan, yaitu ilmu yang dipelajari dari seorang guru yang mata rantai (sanad) keilmuannya bersambung hingga Rasulullah saw. Jadikan menuntut ilmu sebagai suatu kebutuhan, bukan sebagai aktivitas belaka tanpa makna. []

disarikan oleh Maulana Dawam Ihza Albana dari hasil Majelis Rutin PP Ribath Nurul Hidayah, Tegal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here