Kajian Islam (Kalam Ulama). Shahabat Khalid Bin Walid, Saifullah Yang Selalu Menang Di Peperangan

Pada perang Mu’tah setelah bendera jatuh dari Ja’far bin Abi Thalib, dilanjutkan oleh Abdullah bin Rawahah, pada akhirnya dipegang oleh Khalid bin Walid dan menang. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa:

” اﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻪ ﺳﻴﻒ ﻣﻦ ﺳﻴﻮﻓﻚ ﻓﺎﻧﺼﺮﻩ “.
ﻓﻤﻦ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﺳﻤﻲ ﺧﺎﻟﺪ: ﺳﻴﻒ اﻟﻠﻪ

“Ya Allah, sesungguhnya Khalid adalah pedang diantara pedang-pedang Mu. Maka berilah ia pertolongan” Sejak saat itu Khalid disebut dengan Saifullah

Baca juga: Makna : Madad Ya Rasulallah!

ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻏﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﺳﻤﻴﺮ، ﻭﻫﻮ ﺛﻘﺔ.

Hadis riwayat Ahmad, para perawinya sahih selain Khalid bin Sumair, ia terpercaya

Namun harapan Shahabat Khalid untuk meraih predikat Syahid tidak pernah diperolehnya:

ﻭﻟﻤﺎ ﺣﻀﺮﺕ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ اﻟﻮﻓﺎﺓ، ﻗﺎﻝ: ﻟﻘﺪ ﺷﻬﺪﺕ ﻣﺎﺋﺔ ﺯﺣﻒ ﺃﻭ ﺯﻫﺎءﻫﺎ، ﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﺑﺪﻧﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﺷﺒﺮ ﺇﻻ ﻭﻓﻴﻪ ﺿﺮﺑﺔ، ﺃﻭ ﻃﻌﻨﺔ، ﺃﻭ ﺭﻣﻴﺔ، ﻭﻫﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻣﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻲ ﻛﻤﺎ ﻳﻤﻮﺕ اﻟﻌﻴﺮ، ﻓﻼ ﻧﺎﻣﺖ ﺃﻋﻴﻦ اﻟﺠﺒﻨﺎء، ﻭﻣﺎ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺃﺭﺟﻰ ﻣﻨﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻭﺃﻧﺎ ﻣﺘﺘﺮﺱ ﺑﻬﺎ.

Menjelang Khalid bin Walid wafat, ia berkata: “Aku telah mengikuti lebih dari 100 peperangan. Tidak tersisa sejengkal pun dari tubuhku kecuali ada bekas pukulan, tusukan dan busur panah. Aduhai kini diriku akan mati di atas ranjang tidur seperti onta akan mati. Tidak lah terpejam mata orang-orang penakut. Tidak ada amal yang paling aku harapkan melebihi kalimat “Tiada Tuhan Selain Allah”. Aku berperisai diri dengan kalimat itu” (Syekh Ibnu Al-Atsir, Usd Al-Ghabah fi Ma’rifat Shahabah 2/140)