Kalam UlamaPuasa Ramadhan Dan Penetapan Awal Akhirnya. Puasa  adalah kewajiban yang di berikan Allah SWT kepada semua ummat sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW, meski bentuk atau caranya yang berbeda sebagai mana sebelum tahun dua hijriyah ummat islam belum diwajibkan puasa Ramadhan tetapi sudah di wajibkan puasa A’asuro dan puasa tiga hari di tiap satu bulan, maka pada bulan sya’ban tahun dua hijriyah turun ayat yang memerintahkan puasa romadhon sehingga kewajiban puasa a’asyuro’ dan puasa tiga hari di tiap bulan di hapus menjadi sunah,(kitab Durrotun Nasi’in halaman,10) Ayat tersebut adalah :

ياايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون(183) اياما معدودات فمن كان منكم مريضا او على سفر فعدة من ايام اخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خيرله وان تصوموخيرلكم ان كنتم تعلمون(184)

Artinya Hai orang-orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa,

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu, maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang di tinggalkanya itu pada hari-hari yang lain, dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankanya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin, barang siapa yang dengan rela melakukan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya,dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu menggetahui,

   Sementara itu  di Indonesia yang merupakan muslim terbesar dunia baik jumlah orang muslimnya maupun luas wilayahnya,Negara yang bermacam-macam suku, budaya yang terbungkus dengan slogan ‘’Bhineka Tunggal Ika” ternyata juga perbedaan dalam ibadahpun sering terjadi di Negara kita ini,di antaranya adalah menggenai penetapan bulan Romadhon dan Syawal yang berpotensi pada perbedaan awal puasa Ramadhan dan akhir Ramadhan  (ibadah sholat Iedul fitri)

Baca Juga : HARI RAYA IDUL FITRI TAHUN 2018, jatuh pada tanggal 15 JUNI 2018 M

   Kaitanya dengan hal tersebut maka sedikit akan kami ulas menggenai penetapan awal dan akhir ramadhan, beserta referensi kitabnya, sebagaimana yang di tuntunkan oleh Rosulallah dan Salafuna Sholih, tetapi dalam referensi apapun yang kita sampaikan sebagai muslimin kita tetap menghargai pendapat yang lain dan tidak memaksa untuk menggikuti salah satu pendapat.

  1. Kitab Hujjah Ahlussunah Wal Jama’ah halaman 42

ان ائمة المذاهب الاربعة اجمعت على ان شهر رمضان لا يثبت الا بأحد امرين : رؤيةهلاله او اكمال شعبان اذا كان هناك مايمنع الرؤية من غيم او دخان او غبار او نحوها.

  Sesungguhnya para imam madzhab 4 (Syafi’I, Maliki, Khanafi, Hambali) sepakat bahwa untuk menentukan bulan romadhon tidak bisa kecuali dengan dua cara yaitu melihat hilal atau menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari.

2. Kitab Al-iqna’ halaman 202

ويجب صوم رمضان بأحد امرين باكمال شعبان ثلاثين يومااو رؤية الهلال ليلة الثلاثين من شعبان

Dan wajib melakukan puasa romadhon atas dua perkara yaitu menyempurnakan sya’ban sebanyak 30 hari atau melihat hilal di malam 30 sya’ban (sehingga sa’ban hanya 29 hari dan besoknya sudah puasa )

3. Kitab Tanwirul Qulub halaman 260-261

يجب صوم رمضان برؤية الهلال او استكمال شعبان ثلاثين يوما, او بتصديق من يثق به بأنه رأى الهلال او بثبوت رؤيته ولو بشهادة عدل, ولا يجب العمل بقول المنجم والحاسب ان اليلة من رمضان. وعليهما ان يعملابحسابهما وكذا من صدق هما

Wajib puasa ramadhan dengan melihat hilal atau menyempurnakan jumlah bulan sya’ban sebanyak 30 hari,(karna dalam kalender hijriyah satu bulan tidak ada yang melebihi 30 hari) atau dengan mempercayai orang yg bisa di percaya bahwa sesungguhya dia melihat hilal, atau dia menggetahui hilal meski hanya dengan memakai satu orang saksi saja, dan tidak wajib puasa romadhon dengan memakai pedoman ahli perbintangan atau ahli hisab (ilmu falak) dan bagi mereka berdua boleh menggamalkan puasa atas dasar perbintangan dan falak (tidak boleh untuk isbat atau penetapan untuk umum )dan boleh bagi Orang yang mempercayai mereka,

Dari semua keterangan di atas menggambil kesimpulan dari hadis Nabi Muhammad SAW yaitu:

عن ابي هريرة ان النبي صلى الله عليه وسلم قال : صوموا لرؤيته وافطرولرؤيته فان غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما

Artinya : D:ari Abi Huroiro R.A Bahwa sesungguhnya nabi Muhammad SAW bersabda: Berpuasalah kalian semua jika telah melihat hilal, dan idul fitrilah kalian semua jika sudah melihat hilal,dan jika hilal tetutup oleh mendung maka sempurnakanlah hitungan sya’ban 30 hari

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : تراء الناس الهلال فأخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم أني رايته فصام وامر الناس بصيامه ” رواه ابو داوود وحاكم, وان حبان وصححاه 

Artinya ; Dari Ibnu Umar RA berkata : manusia telah melihat hilal maka saya menyampaikan kejadian itu kepada Rosulullah SAW bahwa sesungguhnya saya telah melihat hilal, maka Nabi berpuasa dan menyuruh manusia untuk berpuasa.

   Dari keterangngan ini semua dapat di simpulkan bahwa menentukan awal dan ahir Romadhon (Isbat) yang bisa di informasikan untuk orang umum hanya bisa di lakukan dengan cara melihat hilal atau dengan cara menyempurnakan hitungan bulan 30 hari jika pada malam ke 30 hilal masih belum bisa terlihat

Tetapi ada yang membolehkan dengan ilmu perbintangan dan hisab (ilmu falak) tetapi hanya boleh di gunakan secara pribadi tidak boleh di umumkan untuk masyarakat.

   Adapun alasan lain selain karna memang cara ru’yah dan Istikmal merupakan cara yang di pakai Rosullalah SAW, adalah karna dalam menentukan hkum syar’I islam tidak boleh memakai dasar kira-kira tanpa adanya bukti yang jelas. Sementara kepastian adanya hilal itu bisa di pastikan kalau memang sudah benar-benar melihatnya. Sebagaimana di sabdakan oleh Rosullullah SAW “jika hilal tertutup mendung maka sempurnakanlah hitunggan sya’ban selama 30 hari.

Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih yang berbunyi

نحن نحكم باالظواهر والله يتول السرائر

Kami(syari’at) menghukumi sesuatu dengan dasar yang tampak (dhohirnya) adapun urusan batin itu urusanya dengan (Allah yang mengguasainya)

Baca Juga : Inilah Kadar Zakat Fitrah Tahun 2018

___________________________

Ustadz Mulyakin (Rijalul Anshor PAC Palang Tuban)