hadis
Ilustrasi: www.nu.or.id

kalamulama.com– Problematika Hadis Sayyid Adalah Allah. Berkaitan dengan riwayat dari Sahabat Abdullah bin Syikkhir mengatakan,

Saya pernah menemui Baginda Rasulullah saw sebagai utusan Bani Amir. Kami sanjung beliau dengan mengatakan: “Anda adalah sayyiduna (pemimpin kami).” Spontan Baginda Nabi saw bersabda, “Assayidu Allah” Lalu aku sampaikan: “Anda adalah yang paling mulia dan paling utama di antara kami.” Selanjutnya Baginda Nabi saw menasihatkan, “Sampaikan perkataan kalian, dan jangan sampai setan membuat kalian menyimpang.” (HR. Abu Daud)

Adapun hadits yang memaparkan larangan Baginda Nabi Muhammad saw untuk menyebutkan Baginda Nabi Muhammad saw dan mengatakan bahwa sayyid adalah Allah bukanlah larangan littahrim (mengharamkan). Hadits itu memaparkan sayyid hakiki, sayyid yang mutlak. Mengapa ?

Allah menggunakan lafazh sayyid untuk makhluk-Nya seperti pada ayat :

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya), ‘Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi sayyid, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk orang-orang saleh.” (QS Ali ‘Imran: 39)

Dalam riwayat lain, Baginda Nabi Muhammad saw tidak melarang sahabat memanggilnya dengan sayyid, seperti pada riwayat dariSahl bin Hunaif ra, ia berkata, “Pada suatu hari kami melewati suatu aliran air. Saya lalu menceburkan diri ke dalamnya dan mandi di sana. Ketika
selesai saya terkena demam. Keadaan saya itu lalu diceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda,“

“Suruhlah Abu Tsabit untuk berta’awudz.” Lalu saya bertanya kepada beliau, “Wahai Sayyidi, apakah ruqyah itu bermanfaat?” Beliau menjawab, “Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain, sengatan hewan beracun dan sengatan kalajengking.” (HR. Ahmad dan Hakim)

Baginda Nabi Muhammad saw menggunakan lafazh sayyid untuk dirinya sendiri seperti pada hadist :

“Saya adalah sayyid keturunan adam pada hari kiamat. Sayalah orang yang pertama kali terbelah kuburnya.” (HR. Muslim)

Baginda Nabi Muhammad saw menggunakan lafazh sayyid untuk orang lain, seperti sabda Baginda Nabi Muhammad saw tentang Hasan bin Ali bin Abi Thalib:

“Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid” (HR. Bukhari)
Baginda Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda kepada orang Anshar, untuk menghormati pemimpinnya, Sa’d bin Muadz ra. Ketika Sa’d datang, beliau menyuruh orang Anshar dengan ungkapan,

“berdirilah sambutlah sayyid kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sahabat menggunakan kata sayyid terhadap sesama sahabat seperti padariwayat dari Abu Hurairah r.a. bahwa dia berkata kepada Hasan bin Ali

“Wahai sayyidku.” Lalu seseorang bertanya padanya, “Kamu mengatakan, ‘Wahai sayyidku?’ Abu Hurairah menjawab, “Saya mendengar Rasulullah saw. mengatakan bahwa dia adalah sayyid.” (HR. Nasa`i dalam ‘Amal al-Yaum wal-Lailah)
Dalam riwayat lain, sahabat Umar bin Khatab ra pernah mengatakan tentang sahabat Abu Bakr ra dan sahabat Bilal ra :

“Abu Bakr sayyiduna, dan telah memerdekakan sayyidana, maksud beliau adalah Bilal bin Rabah.” (HR. Bukhari)

Baca Juga Shalawat dan Rahasianya (The Secret Of Shalawat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here