kalamulama. com – Perbanyaklah Dzikrullah Sampai Orang-Orang Mengatakan Anda Gila

Dzikrullah adalah usaha membangun kesadaran terus-menerus bahwa kita adalah hamba. Bagi seorang yang ‘Arif billah satu tarikan nafas tanpa mengingat Allah adalah bentuk kesyirikan. Sedangkan bagi seorang salik, lalai dari mengingat Allah pada satu moment atau kesempatan saja dapat menjadi induk segala kemaksiatan.

Dzikir adalah upaya Sadar, disadarkan dan menyandarkan kesadaran kepada Allah swt semata.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam ibnu Hibban disebutkan :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ ، حَتَّى يَقُولُوا مَجْنُونٌ

 

“Perbanyaklah dzikrullah sampai orang-orang mengatakan anda gila.”

Gila disini maksudnya engkau disibukkan dengan hak-Nya Allah. Guru kita Sidy Syekh Abdullah bin Muhammad Shiddiq al-Ghumari saat masih kuliah di Qurowiyun, ketika berangkat dan pulang sepanjang jalan dari Zawiyah ke kampus nya selalu berdzikir “laa ilaaha illaa Allah” dengan lantang sambil mengalungkan tasbih di lehernya hingga orang-orang di sepanjang jalan kota FEZ menyebutnya gila. Ini adalah bentuk praktek beliau terhadap hadits Rasulullah saw tersebut.

Manusia paling senang mencari sesuatu yang tak terlihat dan yang tak dikenal, setelah terlihat dan kenal, kemudian ia bosan. Itu sudah tabiat alami manusia sehingga banyak manusia mengejar hajat dan karomah, dapat melihat hal-hal ghaib.

Jangan sampai mujahadah kita seperti orang yang membangun masjid, lupa akan tujuan utama mengajak untuk menjadi Ahli Kiblat – Ahlu Allah, tapi terkecoh dan hanya sibuk membangun fisiknya saja, bermegah-megahan dengan bangunannya, kubahnya, ornamennya, lantainya. Tapi, ketika sholat jamaah hanya satu shaf dan terhitung jari. Jadikan tujuan mujahadah kalian untuk mengenal Allah Taala semata, bukan untuk meraih kewalian atau karomah.
Karena karomah itu ibarat haidl-nya para wali, artinya dengan karomah itu dapat membuat kita terhalang dari bertawajjuh secara hakiki dan murni dihadapan Allah Taala.

Thoriqoh itu bukan hanya wirid saja, tapi Madrasah, harus di serta dengan Ilmu-Pelajaran-Silabus-Guru, maka ahlu Thoriqoh harus ngaji.
Qodiriyah ya harus ngaji kitab Syekh Abdul Qodir al Jilani qs, tata cara wiridnya tidak hanya sekedar tawasul, begitu juga yang Syadziliyah tidak sekedar Hizib-nya, atau baca Hikam Athoillah, harus lengkap satu perangkat.

Salah satu tanda matinya hati adalah apabila antum tidak ada rasa penyesalan atau gelisah ketika tidak hadir ngaji, ngaji atau tidak sama saja keadaan hatimu. tidak merasa sedih atau menyesal itu berarti tanda hatimu sakit bahakan cenderung menuju mati.

Adapun mautul ma’nawi yg dimaksud Syaikh Abdul Qadir jailani dalam Futuuhul Ghoib/ Anwarul Hadi adalah mautul irodah atau matinya keinginan seorang hamba sehingga ia memasrahkan segala gerak dan diamnya dalam irodah/kehendak Allah saja. Seseorang tidak akan mencapai derajat kibriyatul ahmar/qutb sebelum menjalani kematian ini. Dan mautul ma’nawi ini tidak akan diraih sebelum melewati maqom -fana’ setelah melewati berbagai macam cobaan dan penderitaan/ ibtilaa’ sebagaimana penjelasan dalam Annuur Atsaalits. Inilah yg dimaksud dalam hadits “mutuu qobla an tamuutu” matilah kamu sebelum kematian yang sesungguhnya.

Dikutip dari kalam-kalam KH. Muhammad Danial Nafis hafizhahullah dalam kajian Selasa 11 Februari 2020 di Zawiyah Arraudhah, Tebet

RESUME KAJIAN TASAWUF BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS 11/2/2020

#ZawiyahArraudhah
#ResumeKajianTasawuf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here