Kajian Islam (Kalam Ulama). Pengantin: Tinggal di Keluarga Istri Atau Suami?

Terkadang menjadi sebuh dilema bagi pasangan suami istri untuk memilih tinggal dirumah keluarga suami ataukah keluarga istri. Atau bahkan tidak memilih keduanya. Hal ini harus dipilih secara tepat dengan penuh pertimbangan, karena lingkungan pasangan suami istri tinggal akan mempengaruhi kepribadian sang buah hati. Bagaimanapun menanam padi ditengah rerumputan akan menghalangi kehidupan padi tersebut. Kalaupun padi tersebut tumbuh maka tumbuhnya pun tidak akan subur. Tentunya ada hal lain yang perlu dipertimbangkan juga.

Ketika pasangan suami istri, salah satu di antara keduanya menolak untuk tinggal di rumah keluarga istri ataupun di rumah keluarga suami, maka manakah tempat yang lebih utama diantara keduanya. Rumah keluarga istri ataukah rumah kelurga suami.

Baca juga: Hak-Hak Istri Lebih Berbahaya, Jika Diabaikan

As-Syankithi al-Hanbali menjawab dalam kitabnya “Umdatul fiqhi” juz 1 halaman 52 :

“ Tetapi sungguh disini terdapat suatu masalah, yaitu perihal tempat tinggal. Memilih diantara keluarga atau jauh dari keluarga. Sebagian perempuan terkadang menginginkan tinggal di rumah keluarganya (dan) jauh dari keluarga suami. Terkadang juga suami menginginkan tinggalnya istri diantara keluarga suami. Ini adalah perkara yang secara hakiki membutuhkan pertimbangan. Sungguh suami dan istri ketika salah satu diantara keduanya menolak untuk tinggal di antara keluarga suami atau keluarga istri maka (perlu) dilihat dan ditimbang (terlebih dahulu) di  antara keduanya. Ketika jauh dari kelurga istri untuk tujuan syariat dan takut atas istrinya fitnah atau takut atas istrinya merusak kekerabatan keluarganya (istri) atau di tempat yang dekat dari keluarga istri di dalamnya ada tetangga yang jelek atau semisalnya, maka hak suami memberikan tempat dimana (mereka) tinggal.  (Hendaknya) suami melihat (dimana) tempat yang paling mashlahat dan utama bagi istri. Tidaklah termasuk hak suami menetapkan istri di antara keluarganya (suami) selama keluarganya (suami) tidak memenuhi hak-hak Allah di dalam rumahnya. Yang mana akan mempengaruhi tingkah laku suami dan tingkah laku anak-anaknya. Ketika hal ini terjadi maka hak istri menginginkan berpindah dari tempat ini ke tempat yang lebih jauh. Termasuk hak istri juga  mencari hal itu (tempat tinggal). Karena sungguh tetapnya istri ditempat ini adalah suatu madharat.

Jika kita mencermati perkataan as-Syankithi terdapat keseimbangan antara suami dan istri. Tidak ada dominasi kepada lelaki yang memaksakan kehendak untuk tinggal diantara keluarganya jika memang hal itu akan buruk kepada istrinya dan lebih lanjut anak-anaknya. Intinya kemashlahatnlah yang dicari diantara pasangan suami istri.  

oleh : @alfarisi_hamzah