NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM

KALAMULAMA.COM– NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang sangat luar biasa bagi pendengarnya. Dalam suatu ngajinya, Gus Baha menceritakan kisah seorang santri nakal yang menginginkan seorang putri dari seorang syekh yang alim. Syekh Alim tersebut mempunyai seorang putri yang mempunyai wajah cantik dan menjadi dambaan terutama dikalangan santri.

Saya punya cerita lucu dunia wali. Jadi di dunia wali yang sanad-sanad saya sampai Rasulullah itu, dulu di mekah ada namanya wali dzambil, ya wali rada jadzab. Itu pada periode yang mengarang i’anah, pokoknya periode-periode itu, kira-kira dari saya empat guru.

Ada seorang alim alamah populer punya anak cantik. Dulu santri juga nakal, pokoknya kalau ada anaknya orang alim berparas cantik itu jadi dambaan. Karena pikirannya ketika jadi menantu kyai langsung jadi kyai melejit, nasabnya cangkokan kan beres. Daripada membangun nasab sendiri kan repot. Cangkokan, anaknya dipanggil gus dipanggil ning kan damai, daripada berkarir sendiri bergulat kan panjang (perjuangannya)”.

Santri nakal tersebut menginginkan bertemu dengan anak syekh alim tersebut. Dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah syekh alim tersebut dan bertemu dengan anaknya. Seperti diketahui Tradisi di Mekah dalam bertamu ke rumah orang lain itu tidak semudah di Jawa. Misalnya kalau di Jawa seseorang ingin meminjam palu atau sabit itu tidak susah seperti di Makkah. Pada waktu itu, satu-satunya cara supaya bisa masuk dapur, salah satunya yaitu menjadi tukang air. Akhirnya santri tadi menjadi tukang air. Karena pada waktu itu belum ada PDAM. Akhirnya dia setiap hari mengantarkan air ke rumah Syekh alim tersebut sampai ke kamar mandinya.

Tambah-tambah ya jualan air, tukang air itukan kelasnya ekstrim betul, sampai di antarkan ke dalam kamar mandi. Tempat paling rawan orang buka aurat. Melihat ning saat tidak berjilbab, mungkin juga melihat pas hanya pakai handuk. 

Pokoknya santri yang ini nakal. Air yang dijual murah. Syech nya pun senang karena harga airnya murah. Airnya murah, khusus untuk dia, karena jualnya juga hanya ke syech itu saja. Karena tidak ada kepentingan di tempat lain. Kepentingan dia hanya masuk rumah tadi”.

Melihat tingkah santri tersebut, Lama kelamaan Syech tersebut paham maksud santri tersebut menjadi tukang air. Akan tetapi, pahamnya Syekh tersebut entah karena sebab seorang wali atau karena tingkah laku dari seorang santri tadi yang tidak beres, dikarenakan santri tersebut hanya menjual air ke rumah syekh alim tersebut. Akhirnya syekh alim tersebut mengetahui motif santri tersebut hanya untuk bisa masuk ke rumahnya dan melihat anaknya.

Lama-lama (santri tadi) ditanya, nak kalau kamu ingin jadi menantu saya itu mudah. Tidak perlu sampai kamu berjualan air. 

Wali kan, syechnya wali (sehingga bisa tau)

 

Caranya gimana mbah? Kamu sholat di masjidil haram 40 hari shof awal, tidak boleh bolong. Pada hari ke 40, laporan ke saya, langsung saya nikahkan. Betulan ini. Oke

Sholat mulai hari Ahad ditandai, start shof awal 40 hari tanpa bolong. Itu ya orang mekah. Bisa ditiru ya, jangan sampai bolong.

Asik…

Sholat pertama ya demi perempuan. Sholat kedua masih demi menjadi menantu kyai, pokoknya ketiga sampai berhari-hari (niat demi perempuan). Hari kesepuluh sudah sadar, sudah mulai menikmati sholat berjamaah”.

“Alhasil hari kesepuluh duapuluh mulai membaik. Pas hari keempatpuluh lupa, tetap sholat (berjamaah). Didatangi sama si Syech, digandeng, diajak pulang. 

Ayo pulang nak. Lho, mau apa syech?. Ya pulang, kawin, kan ini hari ke empat puluh, jadi waktunya kamu saya akadkan dengan anakku. 

Syech menghina saya ya, masak sholat ditukar sama anakmu. Marah dia, dia tersinggung.

Jamaah 40 hari itu syech, imbalannya itu bebas dari neraka”. 

Alhasil setelah bertemu kyainya tadi, sang santri marah. Anda ngejek orang mbah, sholat kok ditukar sama anaknya, ya gak mau lah. Balasannya sholat 40 hari itu terbebas dari neraka. Jadi ya tidak cukup ditukar anak anda.

Lah terus gimana nak. Ya gak jadi. Ngejek orang itu. Setelah pulang, si syech yang gentian memohon. Beneran nak, saya minta, kamu harus mau jadi menantuku. Aku pengen punya menantu yang ikhlas. Sekarang kebalik,

Yaudah kalo gitu.

Akhirnya Syekh alim tersebut mendapatkan menantu yang ikhlas. Santri tersebut juga tetap mendapat barokahnya ikhlas. Tegas Gus baha.

Dari kisah ini Gus Baha mengajarkan kepada para pencintanya, bahwa seseorang dalam beribadah harus berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun dalam melakukan ibadah pada awalnya mengharapkan sesuatu. Akan tetapi apabila ibadah tersebut dilakukan dengan istiqamah lama-lama ibadah yang dilakukan seseorang tersebut bisa ikhlas sendiri. Gus Baha  juga mengisahkan imam ghozali masuk mondok itu pada awalnya hanya berniat untuk mencari makan, bukan untuk mencari ilmu. Karena pada waktu itu Ghozali kecil hidup dalam keadaan miskin, dan yatim. Pada waktu harta bapaknya habis, paman dan teman-teman bapaknya ini memasukkan Ghazali kecil ke sebuah yayasan pendidikan. Karena pada waktu itu, satu-satunya cara supaya mendapatkan makan gratis yaitu dengan masuk yayasan. Akhirnya  beliau dipondokkan dan lama-lama beliau menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. Alhasil, betapa barokahnya ikhlas dan ikhlas itu bisa dilatih.

Gus Baha juga mengisahkan Mbah Maksum Lasem, beliau pernah menjadi bahan ejekan di antara kyai.

Ada kyai kan suka baca wirid, tapi saya tidak. Tapi ya ingat Pengeran, tidak baca wirid bukan berarti tidak ingat Pengeran.

Gaya sekali kamu Sum. Kalau selesai sholat baca wirid lama. Karena santri kamu banyak kan, kamu malu kan kalo langsung pergi.

Itu sesama kyai lho ya ejek-ejekannya. Kalo aku sih terang saja, daripada demi santri ya mending tidak baca wirid, mengingat Pengeran dimanapun.

Terus mbah Maksum menjawab. Iya aku pertama baca wirid ya demi santri, santri banyak kok gak baca wirid. Tapi lama-lama ya lupa, kalo sudah lupa ya ikhlas. Masyhur juga ini (cerita) mbah Maksum. Jadi yang penting pertama baca wirid demi santri, masak mengimami santri sebegitu banyak setelah salam kabur. Ya tidambah baca wirid lah. Lama-lama nanti lupa, nah pas lupa itu sudah ikhlas. Ucap mbah Maksum”.

Jadi banyak orang mendapat motivasi beribadah pertama itu tidak ikhlas. Akan tetapi, karena  dilatih terus menerus lama-kelamaan akan timbul rasa ikhlas. Seperti halnya santri tadi, dia pertama melakukan sholat berjamah demi perempuan. Lama-lama santri tersebut menikmati shalat berjamaah tersebut bahkan sampai tersinggung ketika akan ditukar dengan perempuan. “Ngejek orang mbah, sholat kok ditukar perempuan”.

“Paham ya, jadi pertama berdakwah mungkin melihat, menjadi mubaligh hasilnya banyak, ya boleh. Nanti kalau saatnya ikhlas kan tidak mau. Lama-lama gak laku lagi.

Nah itu ikhlas betulan, nanti sudah ikhlas diangkat Pengeran laku lagi. Pas itulah sudah ikhlas.

Jadi ikhlas itu ada prosesnya.

Kembali ke kisah, kalau di mekah, masuk rumah orang itu harus ijin, nah ijinnya susah, santri tadi berpikir. Kalau bertamu saja kan gak melihat (perempuan). Akhirnya jual air, berhasil dia.

Hebat betul bocah tadi ya, jadi jualan air, jamaah 40 hari bebas dari neraka, barokahnya ikhlas dapat anaknya kyai. Hebat betul, tapi yang bisa mengalami itu siapa, gak tau”.

 

Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap

 

Lihat Video selengkapnya di: Youtube Kalam Ulama Official

Leave a Comment