Kitab Syajarah al-Ma’arif – Ngaji Gus Baha April 2019

0
104

KalamUlama.com Ngaji Gus Baha‘ Menjelasan Kitab Syajarah al-Ma’arif  *) Sebelum ngaji di Masjid Bayt Al-Qur’an rabu lalu, gus Baha’ sedikit menjelaskan tentang kitab Syajarah al-Ma’arif, karya syaikh Izzuddin bin Abdissalam kepada para pengurus pesantren Bayt al-Qur’an.

Berikut kurang lebih isi Ngaji Gus Baha’ Menjelasan Kitab Syajarah al-Ma’arif :
Pagi itu, beliau menjelaskan tentang kitab Syajarah al-Ma’arif. Menurut gus Baha’ kitab ini termasuk salah satu kitab dengan metode terbaik dalam ilmu Tafsir. Kitab ini dikarang oleh seorang Ulama yang bergelar Sulthonul Ulama, yaitu Izzuddin bin Abdissalam.

Dalam kitab ini beliau mengutip ayat-ayat Qur’an yang berbicara tentang peristiwa-peristiwa tertentu. Dalam Ululmul Qur’an hal seperti ini disebut dengan khusus al-sabab, yang dalam Ushul Fiqh disebut dengan waqi’atu al-hal atau waqi’atu ‘ain/ haditsatu ‘ain. Nah, khusus sabab di dalam al-Qur’an ini, oleh Syaikh Izzuddin di-“tabwib” dengan shighat umum, sehingga menjadi hukum umum. Dan ini akhirnya memiliki kesimpulan yang bagus sekali.
*
Semisal dalam halaman halaman 386 ada Fasal Fashlun La Yutraku al-Haqq li Ajli al-Bathil, yaitu kebenaran tidak boleh ditinggalkan meskipun memiliki banyak kebatilan. Syaikh Izzuddin mengutip firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 58 “inna al-shafa wa al-marwata min sya’airi Allah….”. Dalam ayat ini diceritakan sahabat merasa risih di Shafa dan Marwa terdapat berhala yang bernama Isaf dan Na’ilah. Karena risih, saat diperintah utuk sa’i oleh Nabi para sahabat ini merasa gamang. Mana mungkin melakukan sa’i di tempat yang ada berhala di dalamnya. Namun, oleh Allah swt. mereka tetap diperintahkan untuk melakukan sa’i (fala junaha ‘alaihi an yaththawwafa bihima).

Ini adalah Waqi’atu ‘Ain (suatu kondisi/keadaan khusus). Akan tetapi oleh Syaikh Izzuddin diambil natijah la yutraku al-Haqq li ajli al-Bathil – barang haq tidak boleh ditinggalkan hanya karena ada barang batil.

Saat saya menyampaikan hal ini di hadapan pak Quraish beliau merasa sangat senang sekali. Kemudian saya mencontohkan seperti Mbah Maimun dan guru-guru saya lainnya, beliau-beliau tetap mengelola ummat meskipun di dunia ini banyak kemaksiatan, sebagaimana kaidah tadi. Inilah salah satu kelebihan dari Syaikh Izzuddin.
*
Suatu ketika saya mendapat pertanyaan. Ada seorang anak muda yang meninggal karena minum minuman keras oplosan. Singkatnya, beberapa kiai tidak mau datang. Rata-rata kiai tersebut alumni dari bapak saya. Namun saya bilang kalau mereka tetap harus datang. Tetapi mereka bilang “gus, kan dia meninggalnya karena minum oplosan, begini begini….”.
Akhirnya saya bilang “kamu datang bukan karena untuk anak itu. Memang, mugkin bagi kamu anak itu “mangkelno” (menjengkelkan). Akan tetapi kamu datang demi tegaknya syari’at Islam, bahwa mayit itu harus dimandikan, dikafani, disholati, dan dimakamkan. Kalau kamu tidak datang kemudian ada orang menciptakan kaifiyyah baru dalam mengurus jezanah, maka kita ini akan ikut berdosa.”

Maka apabila kita (orang-orang yang mengetahui) tidak mau datang untuk mengurus jenazah, kemudian ada orang yang fasiq ngasal dalam mengurusnya, maka kita tidak bisa menyalahkan mereka. Oleh karenanya dengan dalil ini tadi, kita tetap datang demi tegaknya syariat Islam, bahwa janazatul muslim (apapun dia) harus diperlakukan sebagaimana mestinya. Jadi, kita datang bukan demi anak itu, tapi untuk syariat Islam.

Begitupun saya saat diundang oleh orang awam untuk meng-akad-kan seseorang. Orang tersebut bilang kalau nanti akan diadakan sinden dan ketoprak juga, tetapi tetap ingin saya yang meng-akad-kan. Maka saya pun tetap datang menghadirinya. Jadi, guru-guru kita sejak dulu memiliki pedoman kaidah ini, la yutraku al-Haqq li ajli al-Bathil. Pijakannya adalah sebagaimana ayat di atas.

Kelebihan dari Syaikh Izzuddin Abdissalam, seperti ini langsung diberi judul Fashlun la yutraku al-Haqq li ajli al-Bathil. Maka, nanti ketika santri-santri PSQ mengkaji kitab ini luar biasa. Jadi, ayat-ayat yang menjadi haditsatu ‘ainin atau khususis sabab menjadi umum dengan kesimpulan ulama yang sangat luar biasa.
*
Contoh lain adalah Fashlun fi Dzikri a

l-Rajuli Manaqiba Nafsih, orang menyebut kelebihan yang ada pada dirinya sendiri. Apakah diperbolehkan atau tidak. Kemudian syaikh Izzuddin mengutip hikayat Sulaiman dalam QS. Al-Naml [27]: 16, “‘ullimna manthiqa al-thairi wa utina min kulli syai’.” Dalam ayat ini Nabi Sulaiman menceritakan tentang kelebihannya sendiri.
Begitupula Nabi Yusuf yang mengatakan bahwa dirinya layak menjadi seorang pengatur (khazainil ardh) karena dirinya adalah hafizun ‘alim, (QS. Yusuf [12]: 55). Jadi, menurut saya ini unik sekali.
*
Contoh lagi, Fashlun fi Saddi Dzarai’i al-Syarri, yaitu agar supaya potensi-potensi konflik atau potensi keburukan itu hilang. Itu syaikh Izzuddin memakai ayat “wala tasubbu alladzina yad’una min duni Allahi fayasubbu Allaha ‘adwan bighairi ‘ilm.” Jadi begini: Dulu ketika sahabat dididik Nabi untuk anti berhala, mereka saking overnya sampai mengolok-olok berhala-berhala tersebut. Padahal menurut mereka (kaum jahiliyyah) berhala-berhala itu adalah tuhan. Jadi, kalau mencela tuhan mereka (berhala), mereka pun juga akan mencela Tuhan kita (Allah). Singkat cerita Allah swt. menegur Nabi Muhammad saw. dengan ayat ini.Intinya (misal) kalau ada ketua preman, kita tidak mencelanya itu bukan karena kita hormat. Tetapi bisa saja yang akan dibalas adalah kiai kita. Nah, hal seperti ini oleh syaikh Izzuddin dibuat satu fashl sendiri, fashlun fi saddi dzarai’i al-syarr, bahwa potensi-potensi keburukan kita cegah dengan cara tidak melakukan penyebab tersebut.Hal ini mirip hadis Rasul saw. ketika berkata janganlah kamu mencela ibu kamu sendiri. Lalu sahabat bertanya, “mana mungkin ya Rasul kita mencela ibu bapak kita sendiri?”. Kemudian Rasul bersabda “yasubbu aba al-rajul fayasubbu abaah. Wa yasubbu umma al-rajul fayasubbu ummah”. Tentu kita tidak mencela ibu kita secara langsung. Tetapi bahwa kita mencela ibu orang lain, maka diapun akan membalas celaan/cacian pada ibu kita. Dengan demikian, mencela orangtua orang lain, sama saja mencela orangtua kita sendiri.Oleh syaikh Izzuddin semua peristiwa waqi’atu ‘ain ini dirubah sedemikian rupa manjadi ilmu/kaidah umum.
*
Pada halaman 228 ada fashlun fi Ikrami Nisa’ al-Shalihin wa Shibyanihim. Dalilnya menggunakan ayat “wa kana abuhuma shaliha” dan “allahumma shali ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”.Yang pertama maksudnya dalam ayat ini bahwa anak kecil yang dirawat Nabi Khidhir itu belum memiliki jasa dan prestasi. Tetapi beliau merawat anak kecil tersebut dengan pertimbangan bahwa orangtuanya adalah orang yang shalih, kana abuuhuma shaliha. Artinya kita menghormati anak-anak berdasar menghormati ayahnya. Jadi unik sekali dalam beristidlal.Dalil kedua menguunakan shalawat. Pada saat itu Alun Nabi belum memiliki jasa dan prestasi. Tentu saat itu masih anak cucunya masih kecil-kecil. Mungkin usianya sekitar 8 tahunan atau bahkan kurang. Wong kalau Nabi sholat saja, kadang sayyid Hasan dan Husain naik ke atas punggung Nabi. Pada saat itupun kita sudah diperintahkan untuk bersalawat pada keluarganya. Nah, karena kita menghormati Nabi, maka kita menghormati anak cucunya pula. Kalau sekarang, jasa anak cucunya sudah luar biasa.

Dengan dua dalil di atas, ditarik kesimpulan fashlun fi ikrami nisa’ al-shalihin wa shibyanihim – memulyakan bayi-bayi atau anak kecilnya orang-orang shalih.
*
Fashlun fi al-Ihsan ila al-Musi’, yaitu berbuat baik pada orang yang berbuat jelek. Lalu syaikh Izzuddin mengutip ayat “la tatsriba alaikum al-yaum yaghfiru Allahu lakum” (QS. Yusuf [12]: 93.
Diceritakan bahwa ikhwatu Yusuf/saudara-saudara Yusuf itu biadab, tidak sopan sekali pada nabi Yusuf. Meski begitu saat bertemu Nabi Yusuf, beliau berkata “kamu tidak usah khawatir, tidak usah gelisah. Sudah saya maafkan”.

Jadi, itu merupakan suatu waqi’atu ‘ain di mana Nabi Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang kurang ajar – tidak baik. Tetapi dari sini dijadikan menjadi kaidah umum yaitu Fashlun fi al-Ihsan ila al-Musi’, yaitu berbuat baik pada orang yang berbuat buruk. Menurut saya ini luar biasa.
*
Kitab ini saya hadiahkan untuk panjenengan, saya mohon jadi bahan diskusi. Karena kemarin pak Quraish sempat berpesan disuruh menerjemahkan. Tetapi itu kan bukan kewajiban saya. Khitabnya kan ke anak-anak PSQ (😀). Setidaknya saya sudah membantu. Yang jelas kitab ini polanya adalah dari waqi’atu ‘ain atau khususis sabab kemudian diberi judul ditarik kesimpulan menjadi kaidah umum. Ini sesuai dengan kaidah “al-Ibrah bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab”. Tetapi terkadang kita ini kesulitan, karena kita tidak terbesit ayat tersebut untuk hal-hal tersebut. Tentu hal ini membutuhkan sebuah dzauq yang salim.

Seperti kaidah la yutraku al-haqq li ajli al-bathil tadi, yang ternyata contohnya adalah luar biasa (QS. al-Baqarah [2]: 158. (Bertolak dari sini) makanya saya mohon untuk tetap datang ke jenazahnya orang fasiq, asal dia muslim – dia mukmin. Meskipun di situ dia meninggal karena bunuh diri ataupun karena minum oplosan. Karena, kalau kebenaran dalam mengurus jenazah kita tinggalkan, khawatir nanti orang-orang batil membikin cara-cara tersendiri, maka kita akan lebih kesulitan lagi. Lalu, kita datang bukan untu menghormati mereka, tetapi menghormati kaifiyyah Islamiyyah dalam mengurus jenazah. Saya mohon, pola-pola pemahaman tersebut dapat dikembangkan lagi.
*
Jadi, metode tafsir itu bukan sekedar anda belajar Jalalain, al-Munir atau tafsir lainnya. Tetapi, kitab-kitab seperti ini akan sangat membantu sekali.Saya pernah membaca kitab-kitab orang ‘alim yang bercorak Isyari. Mereka kalau ngendikan itu enak sekali.  Seperti saat saya membaca ayat “innama amwalukum wa auladukum fitnah”. Ulama ini nangis “ya Rabbi wa nahnu nastazidu minna. Ini bagaimana, amwal dan aulad jadi fitnah tapi kita ini bodoh sekali malah mengumpulkan fitnah tersebut.” Mereka mengumpulkan harta itu merasa risih, fitnah kok dikumpulkan. Tetapi, orang/ sang Wali ini juga lucu. Saat membaca ayat wa anfiqu mimma razaqnakum, mereka berkata “ya Allah betapa buruknya saya karena saya miskin, tidak bisa melakukan anfiqu.” Jadi, enak sekali, dia langsung mendialogkan ayat dengan ayat. Jadi, mereka miskin tidak berani, karena tidak bisa melakukan perintah anfiqu. Namun, memperkaya pun juga tidak berani, karena itu adalah fitnah. Uniknya, mereka tidak melalui disiplin ilmu tafsir. Karena dzauq nya salim.wAllahu a’lamKitab: https://drive.google.com/file/d/14-bKhJUmFt3cdNN90rax5p_McDTf2TDv/view?usp=drivesdk
(link kitab di atas cetakannya berbeda dgn kitab yg dibacakan gus Baha’ saat ngaji. Jadi, mungkin juga berbeda letak halamannya). Kitab Syajarah al-Ma’arif
Simak Kumpulan video ngaji gus baha’ , Klik