Bicara akan dosa tak akan pernah ada habisnya, karena memang nyatanya perbuatan yang menjerumus pada lembah dosa amat beragam. Salah satu dosa yang disebutkan oleh para nabi adalah mengurangi berat timbangan atau ukuran. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat al-Muthoffifin ayat 1 sampai 3 yang berbunyi:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ○الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ○وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ○

Celakalah bagi orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS, Al-Muthoffifin: 1-3)

Belakangan terjadi dilema di kalangan ulama fiqh, mengingat acuan sebuah ukuran adalah takaran atau timbangan umum, sedangkan di zaman sekarang, banyak terjadi kasus pergeseran praktek dimana arti takaran tak lagi tentang ukuran standar yang umumnya telah ditentukan dan disepakati serta dipahami oleh khalayak, melainkan perihal ukuran menyesuaikan selera si pedagang -di beberapa kasus cenderung ke ranah praktek pengurangan ukuran-. Salah satu contoh konkret yang merebak di masyarakat yakni perihal takaran bensin. Beberapa pengecer bensin di warung-warung kelontong maupun spesialis bensin, menggunakan  acuan takaran bensin ‘per-satu botol’, padahal ukuran per-botol tersebut tak mejamin sesuai dengan ukuran pemahaman masyarakat yang ada, dimana asumsi yang terbangun selama ini, bahwa satu botol sama dengan satu liter, karena memang lumrahnya untuk membeli bensin di pengecer, patokannya adalah per-liter (literan) dan tak bisa disamakan dengan membeli bensin di pom bensin yang bebas membeli sesuai dengan jumlah selera rupiah yang diinginkan. Terlihat sepele bukan? Tapi yang sepele tak menjamin tak mengundang dosa.

Sekisah sentilan anekdot akan bahasan ini. Suatu hari ada seorang kyai membeli bensin di pengecer.

“mang beli bensin satu liter,” tutur pak kyai di ambang pintu toko kelontong. Tak lama si penjual pun datang menghampiri si pelanggan.

“ini pak kyai bensin sebotol,” tutur si penjual

“saya belinya seliter mang,” sahut pak kyai

“lah ini sebotol,” timpal si penjual

Dan sekali lagi pak kyai membalas “kan saya bilangnya seliter, sekarang sampean berani bilang ini seliter enggak?,”

Si penjual pun hanya meringis dan sekali lagi berkilah “ini sebotol pak,”

Sesentil kisah yang mengajarkan bahwa permainan kata-kata dan redaksi dalam berdialog mungkin menjadi alternatife penangkal dosa hehehe.

Wallahu a’lam bisshowab . . .

Yogyakarta,

Ngaji bareng KH. Bahauddin Nursalim