Kalam Ulama – Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»

“Barangsiapa yang berpuasa ramadan kemudian mengikutkan puasa tersebut dengan (puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti telah melakukan puasa selama setahun penuh.”

Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?

Berdasarkan hadis ini, disunahkan bagi setiap muslim untuk berpuasa enam hari di bulan syawal selepas ramadan demi mendapatkan pahala yang agung ini.

Adapun mengenai hukum menggabungkan niat puasa sunnah enam hari di bulan syawal, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan puasa ganti (atau dalam istilah fikih disebut qada) ramadan, maka hukumnya boleh. Seorang muslim boleh menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunah sekaligus, dan ia mendapatkan dua pahala dengan niatnya itu.

Al-Hafidz As-Suyuthi rahimahullahu ta’ala berkata dalam kitab Al-Asybah Wannadzair halaman 22 mengenai hadis tentang menggabungkan beberapa niat:

[صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة، وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة؛ فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ، فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ] اهـ.

“Puasa arafah contohnya, ia berniat qada ramadan, puasa nazar, atau kafarat, lantas ia berniat bersama dengan niat itu untuk berpuasa sunah arafah, maka menurut fatwa Al-Barizi hal ini hukumnya sah dan ia telah mendapat pahala keduanya. Hal ini berlaku secara umum, tidak hanya terbatas dalam masalah tahiyat.”

Maksud dari masalah tahiyat adalah salat dua rakaat tahiyatul masjid.

Begitu pula menurut pendapat Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari rahimahullahu ta’ala dalam kitab Fathul Wahhab Bisyarhi Minhajuth Thullab juz 1 halaman 67:

[وتحصل بركعتين -فأكثر-] اهـ.

“Maka ia telah mendapatkan pahala dua rakaat.”

Maksudnya, orang tersebut telah mendapatkan keutamaan dua rakaat tahiyatul masjid walaupun ia sedang melaksanakan salat fardu atau salat sunah lainnya, baik ia meniatkan keduanya sekaligus ataupun tidak. Berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim:

«إذا دخل أحدُكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين»

“Jika salah seorang diantara kalian telah masuk ke dalam masjid maka janganlah ia duduk hingga ia salat dua rakaat.”

Maksud dari hadis ini adalah mengerjakan salat sebelum duduk, dan orang tersebut sudah mengerjakan hal tersebut walau tidak mengkhususkan untuk tahiyatul masjid.

Ulamapun menjadikan hal tersebut sebagai dalil bolehnya mengikutkan puasa sunah di bawah puasa fardu, tetapi tidak boleh sebaliknya, yakni mengikutkan puasa fardu di bawah puasa sunah.

Oleh karena itu, boleh bagi seorang wanita muslim untuk melaksanakan qada ramadan di bulan syawal dan mencukupi baginya puasa qada ramadan tersebut sebagai puasa sunah enam hari di bulan syawal juga. Ia mendapatkan dua pahala sekaligus, sebab perbuatannya yang melaksanakan qada ramadan di bulan syawal tersebut.

Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar?

Walau seperti itu, tetap yang paling sempurna dan utama adalah mengerjakan keduanya secara terpisah, baik itu qada ramadan terlebih dahulu kemudian puasa sunah syawal atau sebaliknya. Walaupun ia telah mendapatkan pahala keduanya, tidak berarti ia telah mendapatkan pahala yang sempurna. Ia hanya mendapatkan pahala puasa ramadan satu bulan dan pahala puasa syawal enam hari saja, ia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh seperti yang dijanjikan dalam hadis.

Senada dengan ungkapan Al-Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 3 halaman 209:

[وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ، لَكِنْ لَا يَحْصُلُ لَهُ الثَّوَابُ الْكَامِلُ الْمُرَتَّبُ عَلَى الْمَطْلُوبِ] اهـ.

“Dan jikalau berpuasa wajib di bulan syawal, baik qada ramadan, nazar, atau sejenisnya, atau ia melakukannya di hari asyura, maka ia telah mendapat pahala puasa sunah sekaligus. Sebagaimana yang telah difatwakan ayah kami rahimahullahu ta’ala, mengikut pendapat Al-Barizi, Al-Ushfuni, An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Shalih Al-Hadrami, dan lainnya, akan tetapi pahala yang sempurna hanya bagi mereka yang mengikuti tuntutan.”

Tuntutan (atau dalam istilah Al-Imam Ar-Ramli: mathlub) yang dimaksud adalah tuntutan perintah Nabi dalam hadis, yakni “mengikutkan” puasa ramadan dengan puasa enam hari di bulan syawal. Mengikutkan, bukan menggabungkan.

Demikian jawaban kami. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.

Jakarta, 26 Juni 2018
@adhlialqarni

Baca Juga : Kisah Habib Jakfar Alkaff Kudus : Menyuruh Beli Mobil Fortuner dengan Uang 400 Ribu