Tuesday, September 22, 2020
Home Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan cinta-allah kalamulama.com- Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan Tidak ada cinta dengan paksaan. Cinta Tuhan untuk dan kepada manusia merupakan anugerah terbesar, simbol penghormatan-kemuliaan bagi manusia sekaligus modal utama baginya untuk memilih jalan kehidupan di dunia ini: membalas cinta-Nya dengan mengikuti petunjuk-Nya atau malah menolak-Nya dengan pengabaian dan pendustaan. Masing-masing dari kedua pilihan ini berakhir dengan hasil-konsekuensi yang saling bertolak-belakang: sebagaimana yang telah Allah gariskan: “Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapaun orang-orang yang menutup diri dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39) “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) Sudah tentu akal sehat dan naluri manusia kita tidak akan rela merasakan penghidupan yang sempit di dunia, dan kelak menjadi penghuni kekal neraka lagi buta. Akan tetapi masalahnya, ketika kita hendak memutuskan untuk membalas cinta-Nya dengan mencintai-Nya, bagaimanakah kiat mengikuti petunjuk-Nya? Demi memecahkan masalah inilah, Tuhan menurunkan firman-firman-Nya dari Langit kepada manusia-manusia terpilih, yang umat beriman kenal sebagai para Nabi dan Rasul, yang membawa berita gembira dan peringatan mengancam, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudahnya mereka diutus (QS. An-Nisa`: 165). Untuk menghadapi dan menaklukkan mereka yang masih membantah dan mungkir atas ajaran Ilahi ini, Allah memberkati para Nabi-Rasul dengan berbagai keistimewaan yang terlihat luar biasa, yang biasa disebut dengan mukjizat. Sebagai pamungkas para Nabi yang paripurna (khatamun Nabiyyin), Rasulullah Muhammad Saw. diperintah Tuhan agar mengikuti jejak-jalan petunjuk para Nabi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Al-Quran yang diturunkan kepadanya tidak lain merupakan peringatan untuk seluruh umat semesta (QS. Al-An’am: 90). Karena itu, firman Allah agar Muhammad mengatakan: “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutlah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Sumber: Ustadz Roby Mohamad

cinta-allah kalamulama.com- Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan Tidak ada cinta dengan paksaan. Cinta Tuhan untuk dan kepada manusia merupakan anugerah terbesar, simbol penghormatan-kemuliaan bagi manusia sekaligus modal utama baginya untuk memilih jalan kehidupan di dunia ini: membalas cinta-Nya dengan mengikuti petunjuk-Nya atau malah menolak-Nya dengan pengabaian dan pendustaan. Masing-masing dari kedua pilihan ini berakhir dengan hasil-konsekuensi yang saling bertolak-belakang: sebagaimana yang telah Allah gariskan: “Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapaun orang-orang yang menutup diri dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39) “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) Sudah tentu akal sehat dan naluri manusia kita tidak akan rela merasakan penghidupan yang sempit di dunia, dan kelak menjadi penghuni kekal neraka lagi buta. Akan tetapi masalahnya, ketika kita hendak memutuskan untuk membalas cinta-Nya dengan mencintai-Nya, bagaimanakah kiat mengikuti petunjuk-Nya? Demi memecahkan masalah inilah, Tuhan menurunkan firman-firman-Nya dari Langit kepada manusia-manusia terpilih, yang umat beriman kenal sebagai para Nabi dan Rasul, yang membawa berita gembira dan peringatan mengancam, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudahnya mereka diutus (QS. An-Nisa`: 165). Untuk menghadapi dan menaklukkan mereka yang masih membantah dan mungkir atas ajaran Ilahi ini, Allah memberkati para Nabi-Rasul dengan berbagai keistimewaan yang terlihat luar biasa, yang biasa disebut dengan mukjizat. Sebagai pamungkas para Nabi yang paripurna (khatamun Nabiyyin), Rasulullah Muhammad Saw. diperintah Tuhan agar mengikuti jejak-jalan petunjuk para Nabi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Al-Quran yang diturunkan kepadanya tidak lain merupakan peringatan untuk seluruh umat semesta (QS. Al-An’am: 90). Karena itu, firman Allah agar Muhammad mengatakan: “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutlah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Sumber: Ustadz Roby Mohamad

kalamulama.com- Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan Tidak ada cinta dengan paksaan. Cinta Tuhan untuk dan kepada manusia merupakan anugerah terbesar, simbol penghormatan-kemuliaan bagi manusia sekaligus modal utama baginya untuk memilih jalan kehidupan di dunia ini: membalas cinta-Nya dengan mengikuti petunjuk-Nya atau malah menolak-Nya dengan pengabaian dan pendustaan. Masing-masing dari kedua pilihan ini berakhir dengan hasil-konsekuensi yang saling bertolak-belakang: sebagaimana yang telah Allah gariskan: “Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapaun orang-orang yang menutup diri dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39) “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) Sudah tentu akal sehat dan naluri manusia kita tidak akan rela merasakan penghidupan yang sempit di dunia, dan kelak menjadi penghuni kekal neraka lagi buta. Akan tetapi masalahnya, ketika kita hendak memutuskan untuk membalas cinta-Nya dengan mencintai-Nya, bagaimanakah kiat mengikuti petunjuk-Nya? Demi memecahkan masalah inilah, Tuhan menurunkan firman-firman-Nya dari Langit kepada manusia-manusia terpilih, yang umat beriman kenal sebagai para Nabi dan Rasul, yang membawa berita gembira dan peringatan mengancam, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudahnya mereka diutus (QS. An-Nisa`: 165). Untuk menghadapi dan menaklukkan mereka yang masih membantah dan mungkir atas ajaran Ilahi ini, Allah memberkati para Nabi-Rasul dengan berbagai keistimewaan yang terlihat luar biasa, yang biasa disebut dengan mukjizat. Sebagai pamungkas para Nabi yang paripurna (khatamun Nabiyyin), Rasulullah Muhammad Saw. diperintah Tuhan agar mengikuti jejak-jalan petunjuk para Nabi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Al-Quran yang diturunkan kepadanya tidak lain merupakan peringatan untuk seluruh umat semesta (QS. Al-An’am: 90). Karena itu, firman Allah agar Muhammad mengatakan: “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutlah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Sumber: Ustadz Roby Mohamad 
kalamulama.com- Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan Tidak ada cinta dengan paksaan. Cinta Tuhan untuk dan kepada manusia merupakan anugerah terbesar, simbol penghormatan-kemuliaan bagi manusia sekaligus modal utama baginya untuk memilih jalan kehidupan di dunia ini: membalas cinta-Nya dengan mengikuti petunjuk-Nya atau malah menolak-Nya dengan pengabaian dan pendustaan. Masing-masing dari kedua pilihan ini berakhir dengan hasil-konsekuensi yang saling bertolak-belakang: sebagaimana yang telah Allah gariskan: “Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapaun orang-orang yang menutup diri dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39) “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) Sudah tentu akal sehat dan naluri manusia kita tidak akan rela merasakan penghidupan yang sempit di dunia, dan kelak menjadi penghuni kekal neraka lagi buta. Akan tetapi masalahnya, ketika kita hendak memutuskan untuk membalas cinta-Nya dengan mencintai-Nya, bagaimanakah kiat mengikuti petunjuk-Nya? Demi memecahkan masalah inilah, Tuhan menurunkan firman-firman-Nya dari Langit kepada manusia-manusia terpilih, yang umat beriman kenal sebagai para Nabi dan Rasul, yang membawa berita gembira dan peringatan mengancam, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudahnya mereka diutus (QS. An-Nisa`: 165). Untuk menghadapi dan menaklukkan mereka yang masih membantah dan mungkir atas ajaran Ilahi ini, Allah memberkati para Nabi-Rasul dengan berbagai keistimewaan yang terlihat luar biasa, yang biasa disebut dengan mukjizat. Sebagai pamungkas para Nabi yang paripurna (khatamun Nabiyyin), Rasulullah Muhammad Saw. diperintah Tuhan agar mengikuti jejak-jalan petunjuk para Nabi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Al-Quran yang diturunkan kepadanya tidak lain merupakan peringatan untuk seluruh umat semesta (QS. Al-An’am: 90). Karena itu, firman Allah agar Muhammad mengatakan: “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutlah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Sumber: Ustadz Roby Mohamad