mahdzab al bani
via fb Ahmad Sarwat

oleh: Ustadz Ahmad Sarwat, Lc. MA

kalamulama.com -Masih saja ada saja sebagian murid saya yang terjebak kasus beginian. Bukannya salah atau merasa diri paling benar, tapi kadang terjebak dengan keterbatasan ilmu dan informasi.

Lalu main pasang poster beginian. Hasilnya fatal, karena ternyata banyak ulama yng lebih alim malah tidak mengharuskannya. Tapi poster macam ini membuatnya jadi terjebak menghina para ulama.

Mungkin maksudnya bagus, tapi cara menyampaiiannya masih perlu dipoles ulang. Jangan bakai bahasa kasar bin arogan kayak gini lah. Mau nempelin kaki, monggo saja. Tapi gak usah main hina orang. Sebab nanti ketahuan ketrbatasan ilmunya.

Padahal sejak dulu sudah saya jelaskan bahwa urusan menempelkan mata kaki itu wilayah khilafiyah. Bahkan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sendiri tidak mengharuskanya.

Syeikh Bakr Abu Zaid sebagai Imam Masjid Nabawi di masa lalu justru bilang bahwa menempelkan mata kaki dalam shaf termasuk takalluf alias memberat-beratkan.

Yang ngotot kudu nempel hanya Albani saja, sambil main ancam bahwa mengingkari kewajiban menempelkan kaki sama saja mengingkari sifat Ilahiyah.

Jadi silahkan diperhalus bahasanya. Jelaskan dengan jujur bahwa para ulama beda pendapat. Ada yang begini dan ada yang begitu. Kan jadinya enak.

Detailnya baca saja buku ustadz Hanif Luthfi ini. Silhkan downlod pdfny. Free kok. Doakan saja beliau dengan doa yang baik.

Buku Waqaf RFI : Menempelkan Kaki Dalam Shalat : Haruskah? http://www.rumahfiqih.com/pdf/x.php?id=40 -menempelkan-kaki-dalam-shalat–haruskah.htm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here