kalamulama.com- Makna yang Terkandung Dalam Sholawat Oleh : Muhammad Azka Makna sholawat jika ditinjau dari segi siapa yang menyampaikan sholawat, maka ada tiga bagian. Berikut rinciannya yang telah diungkapkan oleh Imam al-Bajuri (wafat 1277 H): “Perbedaan makna yang terkandung dalam sholawat, jika ditinjau secara umum, apakah ia secara maknawi atau secara lafzhi, maka yang benar adalah secara maknawi, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Ibnu Hisyam dalam Mughni-nya. Sedangkan perbedaan makna sholawat jika ditinjau dari segi siapa yang bersholawat, [maka ada 3 bagian]. Yang pertama, Jika ia datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka maknanya adalah rahmat. Akan tetapi menurut kami, jika sholawat itu dihubungkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, para nabi lainnya, dan malaikat, maka maknanya adalah tambahan rahmat.  Dan pemberian tambahan rahmat ini berbeda-beda, bergantung tingkatan kemuliaan mereka. Jika sholawat itu berasal dari Malaikat, maka maknanya adalah istighfar. Dan tidak ada shighot (bentuk) tertentu dari istighfar ini. Dan jika sholawat itu berasal dari selain mereka, maka maknanya adalah doa. Maksud dari “selain mereka” adalah segala yang mencakup Jamadat (benda-benda beku, seperti pohon, batu, air, termasuk manusia) karena telah tsabit sebuah hadits yang menyatakan sholawatnya Jamadat kepada Rosulullah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh al-Halabi dalam as-Siroh bahwasannya jika Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam ingin menunaikan keinginannya, maka beliau menjauh dari keramaian. Tidaklah beliau melewati batu, pohon, dan tanah liat, kecuali mereka semua mengatakan: “ash sholatu was salamu ‘alaika ya Rosulallah.” Selesai.” (Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Kifayatil ‘Awam, halaman 15)
kalamulama.com– Makna yang Terkandung Dalam Sholawat
Oleh :
Muhammad Azka
Makna sholawat jika ditinjau dari segi siapa yang menyampaikan sholawat, maka ada tiga bagian. Berikut rinciannya yang telah diungkapkan oleh Imam al-Bajuri (wafat 1277 H):

“Perbedaan makna yang terkandung dalam sholawat, jika ditinjau secara umum, apakah ia secara maknawi atau secara lafzhi, maka yang benar adalah secara maknawi, sebagaimana
yang telah ditetapkan oleh Ibnu Hisyam dalam Mughni-nya. Sedangkan perbedaan makna sholawat jika ditinjau dari segi siapa yang bersholawat, [maka ada 3 bagian]. Yang pertama, Jika ia datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka maknanya adalah rahmat. Akan tetapi menurut kami, jika sholawat itu dihubungkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, para nabi lainnya, dan malaikat, maka maknanya adalah tambahan rahmat.  Dan pemberian tambahan rahmat ini berbeda-beda, bergantung tingkatan kemuliaan mereka. Jika sholawat itu berasal dari Malaikat, maka maknanya adalah istighfar. Dan tidak ada shighot (bentuk) tertentu dari istighfar ini. Dan jika sholawat itu berasal dari selain mereka, maka maknanya adalah doa. Maksud dari “selain mereka” adalah segala yang mencakup Jamadat (benda-benda beku, seperti pohon, batu, air, termasuk manusia) karena telah tsabit sebuah hadits yang menyatakan sholawatnya Jamadat kepada Rosulullah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh al-Halabi dalam as-Siroh bahwasannya jika Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam ingin menunaikan keinginannya, maka beliau menjauh dari keramaian. Tidaklah beliau melewati batu, pohon, dan tanah liat, kecuali mereka semua mengatakan: “ash sholatu was salamu ‘alaika ya Rosulallah.” Selesai.” (Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Kifayatil ‘Awam, halaman 15)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here