Dalam salah satu majelis durusnya dihari jumat, Syaikh Shalih Al-Ja’fari –radliyallahu ‘anhu– ditanya oleh seseorang: Seseorang melarang kami mengucapkan “madad ya rasulallah”, bagaimana menurut Syaikh?

Syaikh Shalih Al-Ja’fari pun menjawab: Apa sebenarnya makna “madad”? Jika engkau datang kepada seorang ulama dan berkata: madad, maka maksudnya adalah ajarilah diriku. Jika engkau berkata kepada seorang wali: madad, maka maksudnya adalah doakan kebaikan untuk diriku. Begitu pula, ketika engkau berkata: madad ya rasulallah, maka maksudnya adalah mohonkan ampunan untukku wahai rasulullah.

Baca Juga : Tamu Pembawa Rejeki

Oleh karena itu, kata madad harus diketahui kepada siapa kata itu ditujukan. Tidak mungkin saat engkau bertemu seorang wali dan berkata madad sedang maksudmu adalah agar ia memberimu potongan roti contohnya. Maka pahamilah makna madad wahai saudaraku. Madad adalah kata yang sama sekali tidak mengandung kesyirikan, karenanya hukumnya boleh dengan syarat engkau dapat memahami maknanya. Kita berkata: madad ya rasulallah! Maksudnya adalah mohonkan kami syafaat dan istighfar. Ini adalah perkara yang dibolehkan. Pahamilah bahwa makna madad ya rasulallah adalah permohonan untuk disyafaati dan diistighfari. 

Dari sisi ini dapat kita pahami bahwa makna kata “madad” bergantung dengan keadaan orang yang ditujukan kata itu padanya. Jika seseorang membaca sebuah kitab pada salah satu cabang ilmu, kemudian ada orang berkata kepadanya: madad ya syaikh! Maka kita dapat memahami maknanya: perdengarkan kepada kami bacaan kitab ilmumu. Jika seseorang sedang duduk berdoa kepada Allah kemudian ada orang yang berkata kepadanya: madad! Maka kita dapat memahami maknanya: mohonkan juga doa untukku. Jika ada seseorang sedang makan, kemudian ada orang yang berkata kepadanya: madad! Maka kita dapat memahami maknanya: berikan sedikit bagian untukku.

Mudah-mudahan jawaban terhadap pertanyaan mengenai makna madad ini menafikan tuduhan orang terhadap kata ini sebagai perkataan syirik dan dosa. Mengapa? Sebab ulama berkata:

الحكم على الشيء فرع عن تصوره.

“Hukum atas sesuatu bercabang sesuai bentuknya.”

Maksudnya, janganlah menghukumi sesuatu hingga engkau mengetahui hakikat sesuatu itu dengan pengetahuan yang sempurna. Jika sudah engkau ketahui sempurna, baru kamu hukumi. Contohnya, jika engkau melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan di dalam kamar maka jangan terburu-buru berpasangan buruk dan menghukumi hingga engkau mengetahui dengan pasti hubungan kekerabatan antara keduanya. Bisa saja perempuan itu ibunya, istrinya, anak perempuannya, bibinya, keponakannya. Maka jangan tergesa-gesa menghukumi perbuatan khalwat keduanya adalah haram. Masalah ilmu membutuhkan kehati-hatian dan ketelitian.

Begitu pula dengan kata madad. Secara bahasa artinya thalabul atha’ (meminta pemberian). Adapun kontekstual bergantung kepada keadaan orang yang ditujukan kata ini. Maka jika keadaan orang yang ditujukan kata ini baik, maka hukumnya halal. Sebagaimana jika dikatakan kepada ulama yang mengajar, wali yang berdoa kepada Allah, pemilik makanan, atau orang yang dermawan. Adapun jika kata madad ditujukan kepada orang yang minum khamar, menggunakan narkoba, berzina, dan semacamnya maka hukumnya haram.

Kesimpulannya, jika yang dimaksud dengan kata madad adalah meminta sesuatu yang halal maka hukumnya halal. Begitu pula sebaliknya, jika yang dimaksud dengan kata madad adalah meminta sesuatu yang haram maka haram pula hukumnya.
_____________________
Penerjemah: Adhli Al-Qarni

Baca Juga : One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non Muslim