KRITERIA PASANGAN SUAMI ISTRI IDEAL
(Foto: @daylisaida.com)

kalamulama.com– KRITERIA PASANGAN SUAMI ISTRI IDEAL . Sesuatu yang ideal perlu dirumuskan dengan jelas sebagai panduan dalam berproses. Syukur-syukur sejak pra-nikah, tapi di tengah pun tidak apa-apa. Toh kehidupan perkawinan sejatinya bagian dari proses tiada akhir untuk menjadi hamba pilihan-Nya. Nawaitu nasehati diri sendiri. Monggo jika ada yang mau nderek.

Pengantar dulu nih:

  1. Tiap manusia, laki-laki dan perempuan, punya status melekat sebagai hanya hamba Allah (bukan hamba selain-Nya, bukan pula hamba-Nya sambil jadi hamba selain-Nya), sekaligus punya amanah melekat sebagai khalifah fil ardl yang mandatnya adalah wujudkan kemaslahatan seluasnya di muka bumi,
  2. Tiap manusia, laki-laki dan perempuan, sama-sama punya dimensi fisik sekaligus non fisik yaitu intelektual dan spiritual. Bahkan dimensi non fisik adalah jatidiri yang utama. Karenanya, disamping pertimbangan atas dasar panca indra, manusia juga dituntut gunakan akal budi dalam tiap tindakan.
  3. Perkawinan (meliputi semua tindakan di dalamnya) dengan demikian,  tidak hanya mesti bisa dipertanggungjawabkan pada sesama manusia, baik pada suami/istri, keluarga, masyarakat, dan negara tapi juga pada dan ini sangat penting pada Allah.
  4. QS al-Hujurat/ 13 isyaratkan taqwa sebagai satu-satunya standar kualitas manusia di hadapan Allah, yaitu Tauhid pada Allah yang lahirkan kemaslahatan pada makhluk-Nya/ iman pada Allah yang lahirkan prilaku baik (amal shaleh) pada makhluk-Nya/ hubungan baik dengan Allah yang lahirkan hubungan baik dengan makhluk-Nya.
  5. Jadi: 1. Jati diri utama manusia adalah makhluk ruhani/ non fisik, 2. Misi hidupnya adalah wujudkan kemaslahatan seluasnya di muka bumi. Perkawinan tentu saja mesti dikelola sesuai dengan jatidiri manusia, dan gambaran pasutri ideal pun tentunya mesti selaras pula dengan jati diri ini.

kita masuk ke pengantar bagian-2 tentang rambu-rambu perkawinan yang dicita-citakan dalam Islam. Pengantar ini penting untuk rumuskan kriteria pasutri ideal sebagai acuan untuk mendapatkan belahan jiwa atau berproses saling menjadi sigare nyowone suami/istri.

Ada beberapa prinsip dasar perkawinan dalam Islam.

  1. QS Ar-Rum/21 tegaskan dua hal: tujuan perkawinan adalah ketenangan jiwa. Nyambung dengan kedirian pasutri sebagai manusia, yakni jati diri utamanya adalah dimensi non fisik. Jadi perkawinan bukan hanya antara dua fisik tapi juga dua jiwa. Hal ini tidak berarti kebutuhan fisik dapat diabaikan. Selama di alam fisik tentu sandang, pangan, papan, dan kebutuhan biologis lainnya tetap penting. Namun semua adalah sarana dalam perkawinan sehingga mesti dipenuhi tanpa mengorbankan ketenangan jiwa sebagai tujuan.
  2. Ayat ini juga isyaratkan bahwa ketenangan jiwa hanya mungkin didapatkan jika dasar relasi pasutri adalah cinta-kasih keduanya, yakni bukan kekuasaan, bukan pula kepemilikan mutlak satu pihak atas lainnya. Mawaddah wa Rahmah punya arti spesifik yang menarik dan in-line dengan kedirian pasutri sebagai manusia. Mawaddah adalah cinta yang beri manfaat pada pihak yang mencintai, sedangkan rahmah adalah cinta yang beri manfaat pada pihak yang dicintai. Pasutri mesti sama-sama punya, pelihara, dan suburkan cinta yang beri manfaat pada diri sendiri sekaigus suami/istrinya (mawaddah wa rahmah). Sakinah, mawaddah, wa rahmah sejalan dengan kedirian pasutri sebagai manusia, yaitu sama-sama sebagai subyek penuh sistem kehidupan, baik kehid perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia. Keduanya sama-sama wajib ikhtiyar wujudkan kemaslahatan seluasnya di muka bumi,sekaligus menikmatinya.
  3. Prinsip penting lainnya: pasutri adalah berpasangan (zawaj), bukan atasan dan bawahan ya!, pegang teguh nikah sebagai janji kokoh (mitsaqan ghalidlan), saling perlakukan suami/istri secara bermartabat (musyarah bil-ma’ruf), musyawarah, dan taradlin (selagi ridlo).

Konsep pasutri ideal dalam Islam diisyaratkan melalui konsep kafaah/sekufu/sepadan. Islam mengubah konsep kafaah yang bersifat artifisial dan statis menjadi subatansial dan dinamis. Inilah yang akan dijadikan acuan.

Dasar konsep kafaah/sekufunya calon pasutri: HR Bukhari dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

Cara artikan “tunkahu” sangat menentukan. “Tunkahu” kerap diartikan “nikahilah” sehigga standar capasutri ideal jadi 4: harta, nasab, paras, dan agama. Mestinya: Dinikahi (informatif) perempuan karena 4 hal (seperti di atas). Pilihlah (baru normatif) karena agamanya, maka kamu selamat”. Jadi Rasul hanya beri standar 1: agama! Apa artinya?. Agama sebagai standar tunggal kriteria calon istri (begitupun casuami) ini intinya adalah Taqwa yang juga jadi standar tunggal kriteria manusia ideal. Jadi standar manusia maupun pasutri ideal adalah sama, yaitu orang yang hubungan baiknya dengan Allah melahirkan hubungan baik dengan makhluk-Nya!. Kita tidak pernah bisa pastikan kualitas iman kita pada Allah. Apalagi iman orang lain. Namun satu hal yang pasti adalah semakin tinggi iman seseorang pada Allah, sikapnya semakin baik pada makhluk-Nya, karena seperti kata Gus Dur: “Orang yang baik pada Allah, pasti baik pada ciptaan-Nya”. Termasuk padamu. Iyaa kamuu!.

  1. Bolehkah cari calon suami/istri kaya? Boleh tapi no. 1 baik dalam sebab orang kaya yang tidak baik punya modal ekonomi untuk menyakitimu.
  2. Bolehkah cari calon suami/istri dr keluarga terhormat? Boleh tapi no. 1 baik dulu sebab jika tidak, maka dia sekeluarga besarnya akan menyakitimu
  3. Bolehkah cari calon suami/istri ganteng/cantik? Boleh tapi no. 1 baik dulu sebab jika tidak, ia akan tebar pesona pada yang lain untuk menyakitimu
  4. Bolehkah cari calon suami/istri yg ilmu agamanya tinggi? Boleh tp no. 1 baik dulu sebab jika tidak, ia akan menyakitimu dengan dalih agama.

Bagusnya menjadi baik adalah proses dinamis yang mesti terus-menerus diikhtiyarkan. Belum baik bisa berproses jadi baik. Baik bisa berproses jadi lebih baik. Lebih baik bisa terus berproses menjadi dirinya yang terbaik. Tandanya adalah hubugan baik dengan Allah yang bisa bikin hidup kita menjadi bermanfaat seluas-luasnyanya!. Menjadi baik (shaleh/shalehah) itu harus, tapi merasa sudah apalagi merasa paling shaleh/shalehah, jangan ya! Sebab nanti bisa bikin proses terhenti atau bahkan jadikan diri sendiri sebagai standar shaleh/shalehah tidaknya orang lain!.

Rumusan kriteria pasutri ideal buat acuan berproses brg Paksu. Monggo jika jomblowan dan jomblowati mau pakai buat bidik sasaran. Intinya: siap berproses bersama menggali potensi fisik, intelektual, dan spiritual masing-masing lalu sinergi agar bisa sama-sama maslahat seluasnya!. Kriterianya 1, indikatornya banyak!

  1. Tidak menuntut kita taat mutlak karena sama-sama yakin taat mutlak HANYA pada-Nya. Taat pada makhluk bukan pada orang tapi nilai (La tha’ata li makhluqin fi ma’shiatil Khaliq, innamath thaa’atu fil ma’rufi/ tidak ada taat pada makhluk dalam ma’shiat. Taat hanya pada kebaikan).
  2. Tidak takut lalu nakut-nakutin, nyrimpung, dan halangi, bahkan sebaliknya saling dukung untuk terus maju dan sama-sama gunakan kemajuan masing-masing dalam bidang apapun sebagai modal bersama untuk maslahat bagi diri dan pihak lain seluasnya. Selalu bareng-bareng antisipasi dan atasi resiko pilihan untuk bareng-bareng maju.
  3. Sama-sama bisa saling menjadi konco wingking (belakang), ngajeng (depan), kanan, kiri, dan arah lainnya.
  4. sama-sama siap untuk “surgo nunut, neroko katut” atau setia dalam suka dan duka, saling lindungi agar tidak masuk neraka dan bahu membahu biar bisa masuk surga bersama orang lain sebanyak-banayaknya.

 

Semoga Bermanfaat

Sumber: diambil dari Kultwit Ibu Nyai Nur Rofi’ah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here