Oleh : KH Husin Muhammad

Manusia yang semakin dekat kepada Allah seharusnya semakin kreatif, mencintai ilmu dan bertambah arif (bijaksana), karena Tuhan adalah Maha Kreatif, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.

Pendapat Iqbal, filsuf dari Pakistan di atas sayangnya seringkali tidak muncul dalam realitas masyarakat beragama. Ramainya orang shalat dan berdoa di masjid-masjid, di musalla-musalla atau ratusan ribu orang yang beribadah haji setiap tahun, ribuan orang yang berzikir tiap hari, tiap pekan atau saban bulan, ratusan orang menghapal kitab suci, atau ribuan pesantren yang bertebaran di seluruh negeri dan seterusnya tidak serta-merta melahirkan/menghasilkan produk-produk intelektual kreatif yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas

Yang terjadi tampaknya justeru sebaliknya, mandeg, stagnan, tak beranjak dari tempatnya atau bahkan tertinggal sangat jauh sekali. Kreatifitas dan tingkat kecerdasan intelektual mereka dikuasai dan dikalahkan oleh bangsa-bangsa yang sering dicap sebagai jauh dari agama, sesat, kafir, musyrik, gnostik dan sebagainya. ‘Mereka’ ini sangat kreatif dan inovatif. Contohnya internet, komputer, HP, drone, dan lain-lain dalam berbagai bidang. Produk-produk dari kerja intelektual mereka lahir setiap hari, atau bahkan setiap jam dan dikemas dalam bentuk yang beragam dan berganti-ganti. Semuanya diterima oleh dan bermanfaat bagi masyarakat dunia, tak peduli latarbelakang identitas sosial dan agamanya. Produk-produk ‘mereka’ dinikmati bahkan oleh orang-orang yang mencaci-maki dan memusuhi ‘mereka’ itu. Berkat kerja kreatif itu hidup diradakan menjadi lebih mudah. Dunia seakan menjadi wilayah atau perkampungan kecil.

Jarak Indonesia-Makkah dapat ditempuh dalam waktu 9 jam saja. Tak lagi berbulan-bulan, sebagaimana zaman dulu.

Pendapat Iqbal memang ideal, sesuatu yang seharusnya, tetapi sayang sekali kita tidak melihatnya dalam realitas atau tidak sebagai sesuatu yang senyatanya di dunia Muslim. Malah, belakangan ada sebagian orang yang mengatakan bahwa produk-produk kreatifitas itu sebagai kesesatan dan menyesatkan, karena ia adalah “bid’ah”, sesuatu yang tidak ada pada masa Nabi.

Jadi, apa yang seharusnya tidak selalu terbukti dalam kenyataannya. Adakah sesuatu yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang disebut sebagai ‘dekat’ dengan Tuhan itu?.

Cirebon, 13 Juli 2016.