kalamulama.com- Kisah Penyesalan Salah Satu Guru Habib Umar. Kisah ini seringkali kami dengar dari Habib Umar ketika beliau mengenang salah satu guru utama sekaligus mertua beliau, Habib Muhammad Bin Abdullah Al-Haddar. Ceritanya : Suatu malam Habib Muhammad keluar dari Masjid Jami' di kota Baidho' untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba di pintu masjid ada seseorang yang mencaci maki dan berkata buruk atas beliau. Habib Muhammad diam tidak membalas, ketika orang tersebut sudah selesai dengan cacian dan sumpah serapahnya, beliau berkata padanya : .

kalamulama.com– Kisah Penyesalan Salah Satu Guru Habib Umar.

Kisah ini seringkali kami dengar dari Habib Umar ketika beliau mengenang salah satu guru utama sekaligus mertua beliau, Habib Muhammad Bin Abdullah Al-Haddar. Ceritanya : Suatu malam Habib Muhammad keluar dari Masjid Jami’ di kota Baidho’ untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba di pintu masjid ada seseorang yang mencaci maki dan berkata buruk atas beliau. Habib Muhammad diam tidak membalas, ketika orang tersebut sudah selesai dengan cacian dan sumpah serapahnya, beliau berkata padanya : .

” Jazakallah khair.. Semoga Allah membalasmu dengan segala kebaikan”

Beliau lalu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, terlihat raut penyesalan dari wajah beliau, beliau akhirnya bercerita :

” aku baru saja membersihkan hatiku secara sempurna dari rasa benci kepada orang tersebut.. Baru saja aku telah memaafkannya sepenuh hati. Tapi yang aku sesalkan : mengapa aku baru sempurna memaafkannya sekarang ? Seharusnya sudah sejak tadi di pintu masjid aku telah menyempurnakan pemberian maafku ” .
.
” Sekarang kalian tau seperti apa mereka para kekasih Allah ? ” tanya Habib Umar setelah mengisahkan cerita itu.. Sebuah pertanyaan “menggelitik” yang jelas menunjukkan perbedaan antara kita dan mereka. Kita yang seringkali dengan “nyaman” memelihara rasa benci, dengki, dan kesal terhadap sesama tanpa rasa menyesal dan bersalah sama sekali.. Seakan Tak peduli dan acuh tak acuh bahwa dalam sabda-sabdanya Rasulullah sudah sering mengingatkan bahwa itu adalah rasa yang harus dihindari dan di buang jauh-jauh dari dalam hati. Sekali lagi, dari mereka kita harus banyak belajar, setuju dengan apa yang pernah disampaikan Bang Darwish “Tere Liye” :

” Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itusalah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati ” .

* Ismael Amin Kholil, 25 Januari, 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here