Baca kisah sebelumnya #7

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad  Mencapai Sidratul Muntaha. Baca kisah sebelumnya #7 “Dibukanya Pintu Langit”

Baca Juga  Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”
Nabi Muhammad saw diangkat ke Sidratul Muntaha. Disanalah tempat perhentian terakhir segala yang naik dari bumi untuk kemudian disambut dan di sana pula tempat perhentian terakhir apa yang turun dari atas untuk kemudian disambut. Sidratul Muntaha adalah pohon yang amat besar, akarnya di langit ke enam, rantingnya sampai ke langit ke tujuh dan puncaknya hingga menembus langit ke tujuh sebagaimana tersebut dalam beberapa riwayat. Mengalir dari akar kaki Sidratul Muntaha, sungai yang airnya tidak berubah rasa, warna dan baunya. Mengalir pula darinya sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, serta mengalir pula sungai arak yang lezat untuk diminum, dan mengalir pula sungai dari madu yang murni. Orang yang berkendara akan berjalan terus tanpa henti di bawah naungan Sidratul Muntaha selama 70 (tujuh puluh) tahun. Buahnya menyerupai kelapa namun sangat besar sekali. Daunnya bagaikan telinga gajah yang sehelai daunnya hampir menutupi umat ini.

Di dalam riwayat, satu helai daunnya dapat menaungi semua makhluk dan di setiap daunnya ada malaikat. Maka tiba-tiba dedaunannya diselimuti dengan berbagai macam warna yang indah yang tidak dapat digambarkan dan seketika itu dedaunannya berubah menjadi yaqut dan zamrud, dan sungguh tidak ada seorangpun yang dapat menggambarkannya. Padanya terdapat belalang-belalang dari emas. Pada akarnya mengalir empat sungai, dua sungai batin dan dua sungai zhohir. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril sungai-sungai apakah ini?” Jibril menjawab, “kedua sungai batin ini adalah dua sungai di surga dan dua sungai zhahir ini adalah sungai nil dan alfurat.”

Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada akarnya terdapat mata air yang mengalir yang bernama Salsabil. Dari mata air Salsabil ini mengalir dua sungai salah satunya adalah Al Kautsar. Nabi Muhammad saw menyaksikan sungai Al Kautsar yang sangat deras hingga cipratan airnya memancar sangat deras seperti anak panah. Di tepiannya terdapat kemah-kemah yang terbuat dari mutiara, yaqut dan zamrud, dan di atasnya bertengger burung-burung berwarna hijau yang sebagus-bagusnya burung yang pernah engkau lihat. Di sekitar sungai terdapat bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak. Air sungainya mengalir di atas kerikil-kerikil yaqut dan zamrud, dan airnya lebih putih dari pada susu. Nabi Muhammad saw mengambil bejana untuk meminum airnya dan ternyata airnya lebih manis dari madu dan lebih wangi dari minyak misk.

Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Sungai ini adalah hadiah Allah untukmu wahai Muhammad”. Dan sungai lainnya adalah sungai rahmat. Nabi Muhammad saw mandi didalamnya dan ketika itulah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad saw melihat Jibril dengan enam ratus sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap satu sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Rasulullah saw menelusuri Al Kautsar hingga masuk ke dalam surga yang kenikmatannya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam angan-angan manusia. Rasulullah saw melihat pada pintunya tertulis:

“Satu shodaqoh diganjar dengan pahala sepuluh kali lipat, sedangkan memberi hutang diganjar dengan pahala delapan belas kali lipat”.

Rasulullah saw berkata, “Wahai Jibril, mengapa memberikan hutang lebih utama daripada memberi shodaqoh?”. Jibril berkata, ”karena sesungguhnya seseorang yang meminta ia masih memiliki sesuatu, sedangkan seorang tidak akan berhutang kecuali ia dalam keadaan membutuhkan”. Mereka melanjutkan perjalanan dan di perjalanan Nabi saw menyaksikan sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai dari arak yang melezatkan bagi peminumnya dan sungai dari madu murni. Di tepian sungai terdapat kubah-kubah dari permata dan terdapat buah delima yang sangat besar seperti sebuah ember besar.

Dalam riwayat lain, terdapat buah-buah delima yang besarnya bagaikan seekor unta dengan pikulannya dan juga terdapat burung-burung yang besar bagaikan seekor unta berpunuk dua. Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh burung-burung itu sangat dimanja dan merasakan kenikmatan”. Rasulallah menjawab, ”Para pemakan burung-burung itu lebih nikmat dan lebih dimanja lagi, dan aku berharap agar engkau pun memakannya pula wahai Abu Bakar”.

Di perjalanan itu Rasulullah saw melihat sungai Al Kautsar yang di tepiannya terdapat kubah-kubah dari permata dan tanahnya adalah misk yang sangat wangi. Kemudian diperlihatkan kepada Nabi Muhammad saw neraka. Neraka adalah tempat kemurkaan Allah dan siksa Allah. Apabila bebatuan dan besi dilempar kedalamnya maka akan dilahapnya. Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum di neraka yang sedang memakan bangkai. Rasulullah saw bertanya kepada Jibril, ”Siapakah mereka wahai Jibril?”, Jibril menjawab, ”mereka sedang memakan daging-daging manusia”.

Nabi saw menyaksikan malaikat penjaga neraka seperti lelaki bermuka garang yang kemurkaan dan dendam sangat terlihat di wajahnya. Rasulullah saw mengucapkan salam kepadanya dan kemudian neraka dikunci kembali.

Rasulullah diangkat ke Sidratul Muntaha. Tatkala itu Nabi saw diselimuti oleh awan yang berwarna-warni, dan itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah saw. Rasulullah saw diangkat ke tempat yang sangat tinggi hingga Nabi mendengar suara goretan Al Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Rasulullah saw melihat seorang lelaki yang samar-samar di balik cahaya ‘Arsy. Rasulullah bertanya, “Siapakah gerangan orang itu? apakah malaikat?”. Maka dijawab, “bukan”, Rasulullah bertanya kembali, “Apakah dia seorang nabi?”. Dijawab, “bukan”. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah gerangan?” Di jawab, “Dia adalah lelaki yang ketika di dunia mulutnya selalu basah dengan dzikir kepada Allah, hatinya selalu rindu kepada masjid dan tidak pernah menjadi penyebab kedua orang tuanya dicela”.

Rasulullah saw melihat Allah SWT. Tatkala itu tersungkurlah beliau dengan bersujud kepada Allah. Tatkala itulah Allah berbicara kepada Nabi Muhammad saw.

Allah berkata, “Wahai Muhammad!“ Rasulullah menjawab, “Labbaik ya Allah”

Allah berkata, “Mintalah!” Rasulullah menjawab, ”Ya Allah, sungguh Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Kholil dan Engkau memberikannya kerajaan yang agung. Engkau berbicara kepada Musa secara langsung. Engkau memberikan kepada Daud kerajaan yang agung dan Engkau melunakkan besi untuknya dan Engkau menundukkan gunung kepadanya. Engkau berikan kepada Sulaiman kerajaan yang agung dan Engkau tundukkan kepadanya jin, manusia dan syaitan dan Engkau tundukan angin kepadanya dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang tidak ada seorangpun yang pantas setelahnya. Engkau mengajarkan kepada Isa kitab suci Taurat dan Injil dan Engkau menjadikannya dapat menyembuhkan orang yang buta dan menyembuhkan orang yang berpenyakit belang dan dapat menghidupkan orang mati atas izin-Mu. Engkau melindungi Isa dan ibunya dari syaitan yang terkutuk hingga syaitan tidak menemukan jalan untuk mengganggu keduanya”. Kemudian Allah berkata, “Sungguh aku telah menjadikanmu sebagai kekasih”.

Periwayat hadits berkata, tertulis di dalam kitab suci Taurat bahwa Rasulullah saw adalah Habibullah (kekasih Allah).

Allah berkata saat itu kepada Nabi Muhammad saw, “Dan aku mengutusmu kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pembawa peringatan. Dan Aku telah lapangkan dadamu dan Aku telah hapuskan dosa-dosamu dan Aku telah menggangkat namamu sehingga tidaklah nama-Ku disebut melainkan engkau pun di sebut bersama-Ku dan Aku telah menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik dari sekalian manusia dan Aku jadikan umatmu sebagai umat moderat, dan Aku jadikan umatmu sebagai umat yang pertama (masuk ke dalam surga) dan yang terakhir (lahir ke muka bumi), dan Aku telah menjadikan umatmu tidak diperbolehkan pada mereka berkhutbah hingga mereka bersaksi bahwa engkau adalah hamba-Ku dan utusan-Ku. Aku telah menjadikan dari umatmu sekelompok kaum yang hati mereka adalah tempat menampung kitab suci mereka, dan Aku telah menjadikan engkau sebagai Nabi yang pertama diciptakan dan terakhir di utus serta yang pertama dibangkitkan untuk hari pengadilan. Dan Aku berikan kepadamu surat Al Fatihah yang tidak pernah Aku berikan kepada seorang nabi sebelummu, dan Aku berikan kepadamu penutup surat Al Baqarah yang merupakan harta karun di bawah ‘Arsy yang tidak Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Dan Aku berikan kepadamu Al Kautsar. Dan Aku berikan kepadamu delapan karunia: Islam, Hijrah, Jihad, Sodaqoh, Puasa Ramadhan, Amar Ma’ruf, dan Nahi Munkar, Dan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, Aku wajibkan atasmu dan atas umatmu lima puluh kali sholat, maka dirikanlah olehmu dan oleh umatmu.”

Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Tuhanku telah memberi karunia kepadaku, yaitu Allah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian alam dan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah tanamkan di dalam hati musuh-musuhku rasa takut dari jarak satu bulan perjalanan, dan Allah halalkan kepadaku harta rampasan perang padahal tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelumku, dan Allah jadikan bumi sebagai tempat shalat dan suci, dan aku diberikan pembuka, penutup dan keluasan kalimat. Ditunjukkan kepadaku seluruh umatku dihadapku hingga jelaslah kepadaku antara pengikut dan pemimpin, hingga aku melihat mereka mendatangi suatu kaum yang beralas kakikan dari bulu dan aku melihat mereka mendatangi suatu kaum yang berwajah lebar dan bermata sipit seolah-olah mata mereka dijahit dengan jarum, hingga nampak jelas olehku penderitaan yang umatku derita dari kaum tersebut. Dan aku diperintahkan dengan lima puluh kali sholat”.

Dan dalam riwayat lain, Rasulullah saw diberikan tiga anugerah; dijadikan sebagai pemimpin para rasul; dijadikan sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa; dan akan memimpin umatnya yang wajah dan lengan serta kaki mereka bercahaya terang benderang kerena basuhan air wudhu.

Dalam riwayat lain, dianugerahkan untuk Rasulullah saw shalat lima waktu dan akhir surat Al Baqaroh dan ampunan Allah bagi umatnya yang tidak menyekutukan Allah atas dosa-dosa besar mereka.

Kemudian tersingkaplah dari Rasulullah saw awan indah yang menyelimuti dirinya. Jibril meraih tangan Rasulullah saw untuk menuntunnya kembali, maka mereka kembali dengan cepat. Di perjalanan pulang mereka melewati Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak berucap sesuatu apapun.

Mereka melalui Nabi Musa as. Rasulullah saw berkata, “sungguh Nabi Musa adalah sahabat terbaik untuk kalian.” Nabi Musa as berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Apa yang kamu lakukan selama diperjalanan ini wahai Muhammad? Dan apa yang diwajibkan Tuhanmu kepadamu dan kepada umatmu?”. Nabi Muhammad saw menjawab, “diwajibkan kepadaku dan umatku lima puluh sholat sehari semalam.” Maka Nabi Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan untukmu dan untuk umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu untuk menjalankan perintah itu, sungguh aku lebih berpengalaman terhadap manusi.

Nabi Muhammad saw mengabarkan kepada Nabi Musa tentang apa yang Allah tetapkan. Namun Nabi Musa bersikeras berkata, “kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi, karena sungguh umatmu tidak akan mampu.” Nabi Muhammad berkata, ”Wahai Musa, aku telah berkali-kali menghadap kepada Tuhanku hingga aku malu kepada-Nya, dan sungguh aku ridho dan puas menerima ketentuan Tuhanku.” Maka terdengar seruan,”Sesungguhnya aku telah menetapkan ketentuan-Ku dan aku telah meringankan atas hamba-hamba-Ku”. Maka Nabi Musa berkata, “Kalau begitu maka turunlan engkau dengan menyebut nama Allah.”

Di perjalanan pulang Nabi Muhammad saw tidak melewati perkumpulan para malaikat, kecuali mereka berkata, “hendaklah kamu perintahkan umatmu untuk hijamah (bekam)”. Di perjalanan pulang Nabi saw bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, tidak ada seorangpun dari penduduk langit yang aku jumpai melainkan ia pasti menyambutku dengan meriah, dengan senyuman manis, salam dan doa, kecuali satu orang. Ketika aku menemuinya dan mengucapkan salamku untuknya, dia hanya sebatas menyambutku, menjawab salamku dan mendoakanku namun sama sekali tidak tersenyum dan tertawa untukku. Kenapa wahai Jibril?”. Maka Jibril berkata, “Dia adalah malaikat Malik, malaikat penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sejak diciptakan, kalaupun dia dapat tersenyum untuk seseorang maka dia hanya akan tersenyum kepadamu.”

***bersambung***

Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat.

\

Baca Juga  Kisah Isra Mi’raj #9 “Turun Kembali ke Bumi” (Terakhir)