Kajian Islam (Kalam ulama). Keutamaan laki-laki atas perempuan

Segala puji bagi Allah yang telah meneciptakan lelaki pemimpin bagi perempuan. Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 34 :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” 

Kata الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء mengandung maksud :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, maksutnya laki-laki itu penguasa atas adab (tingkah laku) perempuan. Seakan-akan Allah menjadikan lelaki pemimpin bagi perempuan dan pelaksana hukum dalam hak-hak perempuan. Seperti dalam kitab “Mafatihu al-Ghoib” juz 10 halaman 80.

Dalam kitab “Mafatihul Ghoib” juz 10 halaman 80-81 :

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin perempuan dan pelaksana urusan perempuan. Hal itu disebabkan oleh dua perkara :

  • Firman Allah : oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Ketahuilah seungguhnya keutamaan lelaki atas perempuan itu dari berbagai bentuk. Sebagian sifat haqiqiyyah dan sebagian lagi ahkamul syar’iyyah (hukum-hukum syariat). Adapun sifat haqiqiyyah kembali kepada dua perkara : ilmu dan kemampuan. Tak diragukan lagi bahwa akal dan ilmu lelaki lebih banyak. Tak diragukan pula kemampuan melakukan pekerjaan yang berat lebih sempurna. Oleh karena itu dua sebab inilah yang menjadikan keutamaan lelaki atas perempuan. Dalam hal lain yaitu akal, pengambilan keputusan, keuataan, tulis-menulis pada umumnya, tunggang-menunggang kuda, dan panahan. Sungguh nabi-nabi dan ulama dari kaum lelaki. Pemimpin besar maupun kecil juga dari kaum lelaki, jihad, adzan, khutbah, i’tikaf, saksi dalam hudud, qishoh dengan kesepakatan. Adapun dalam hal pernikahan kata imam syafi’i yaitu tambahan bagian dalam hal warisan, tangungan diyat dalam hal pembunuhan dan kesalahan, perwalian dalam pernikahan, talak, rujuk, jumlah istri, dan nasab. Semuanya adalah keutamaan lelaki atas perempuan.
  • Sebab kedua yaitu fadhilah firman Allah : karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maksutnya, lelaki lebih utama dari pada perempuan karena lelaki memberi mahar dan menafkahinya (perempuan). Dalam tafir “al-Baghawi” : memberikan mahar dan nafkah, diriwatkan dari Muad bin Jabal RA berkata: Rasulullah SAW bersabda :

لو كنت امرا أحدا أن يسجد لاحد لامرت المرأة أن تسجد لزوجها

“ Ketika saya menjadi seseorang penyuruh seseorang untuk bersujud, maka sungguh aku perintahkan perempuan (istri) bersujud kepada suaminya.

Oleh : Hamzah Alfarisi