Oleh Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus*
Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal
saleh sepanjang tahun yang seringkali dilupakan kemuliaannya.  Ketika
ditanya oleh sayidah ‘aisyah ra mengapa beliau saw berpuasa di bulan sya’ban
lebih banyak dibanding bulan-bulan lainnya, Rasulullah saw menjawab:
ذاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ
بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إلَى رَبِّ
الْعَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Sya’ban itu bulan antara Rajab dan
Ramadhan. Bulan ini banyak diabaikan oleh umat manusia, padahal dalam bulan ini
(Sya’ban)  amal-amal hamba itu diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan alam
semesta. Aku ingin amalku diangkat (dilaporkan) kepada Allah sedangkan aku
dalam keadaan berpuasa.” (HR Nasai)
Dalam sebuah Hadits yang disampaikan oleh
Khalifah Ali bin Abu Thalib disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ
شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ
فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا. فَيَقُولُ: أَلاَ مِنْ
مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ
مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Jika malam nishfu sya’ban tiba, maka
beribadahlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya, karena
sesungguhnya ketika matahari terbenam di malam nishfu sya’ban allah turun ke
langit dunia dan berkata, “adakah yang meminta ampun kepadaku sehingga aku
mengampuninya, adakah yang meminta rezeki (karunia) kepadaku sehingga aku
memberinya rezeki, adakah yang sedang mengalami musibah sehingga aku
menyembuhkannya (menyelamatkannya), adakah…adakah.., (demikian allah terus
memberikan tawaran kepada hambanya) hingga tiba waktu fajar. (HR. Ibnu Majah)
Para ulama salaf maupun khalaf, senantiasa
mengajak umat untuk memuliakan bulan Sya’ban dan terutama Malam Nishfu Sya’ban.
   Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْ خَمْسِ
لَيَالٍ: فِيْ لَيْلَةِ الجْـُمُعَةِ ، ولَيْلَةِ الأَضْحَى، ولَيْلَةِ الفِطْرِ،
وأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، ولَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Sesungguhnya doa akan dikabulkan di lima
malam, yaitu: Malam Jum’at, Malam Hari Raya Idul Adha, Malam Idul Fitri, Malam
Pertama Bulan Rajab dan Malam Nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban). (Lihat
Sunanul Kubra AlBaihaqi, Darul Fikr, Juz.V, Hal.110)
Dalam sebuah Hadits, Sayidah ‘Aisyah
bercerita, “Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah saw (dari tempat tidur)
kemudian aku mencarinya dan ternyata beliau berada di pemakaman Baqi’, sedang
menengadahkan wajah beliau ke langit, kemudian beliau berkata, “Duhai ‘Aisyah,
apakah engkau khawatir Allah dan RasulNYA akan mengurangi hakmu?”  Maka
aku (‘Aisyah) berkata, “Aku mengira engkau sedang mendatangi salah satu
istrimu.”  Maka Rasulullah saw bersabda:
إنَّ الله ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يَنْزِلُ
لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبانَ إلى السَّماءِ الدُّنْيا فَيَغْفِرُ لأكْثَرَ
مِنْ عَدَدِ شَعرِ غَنَمِ كَلْبٍ
Di malam Nishfu Sya’ban, Allah ‘Azza Wa
Jalla turun ke langit dunia dan memberikan ampunan sebanyak bulu domba yang
dimiliki oleh suku Kalb.  (HR Tirmidzi Dan Ibnu Majah)
Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw
bersabda:
يَطَّلِعُ اللَّهُ إلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ
لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إلاَّ
لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Di Malam Nishfu Sya’ban, Allah mengawasi
seluruh makhlukNYA dan mengampuni seluruh makhlukNYA kecuali seseorang yang
menyekutukan Allah dan seseorang yang bermusuhan.  (HR Thabrani dan Ibnu
Hibban danlam Sahihnya)
*Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir
Ar-Raudloh, Solo