Kalam Ulama - Tragedi Sifat Shalat Nabi

Kalam Ulama – Tragedi Sifat Shalat Nabi

Beberapa kekeliruan mendasar dalam memahami sifat shalat Nabi adalah hanya bermodalkan  membaca teks hadits secara harfiyah.

Kalau bicara shahihnya memang shahih. Kelas Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tentunya sudah paten dan disepakati ulama.

Tapi yang jadi masalah bukan urusan shahih tidaknya suatu hadits. Kalau haditsnya harus shahih, kita sepakat dan sudah selesai. Yang jadi masalah adalah bagaimana menarik kesimpulan hukum dari hadits-hadits shahih itu menjadi sebuah kerangka hukum.

Disinilah duduk masalah yang paling kritis. Kalangan awam yang penguasaan ilmunya terbatas umumnya tidak mampu memilah mana dari sifat shalat nabi itu yang menjadi syarat sah, syarat wajib, rukun, sunnah muakkadah, mustahab, mandub atau mubah.

Padahal tidak mungkin semuanya dikerjakan. Sebut saja misalnya bacaan-bacaan yang Beliau SAW lafazhkan dalam shalat. Kalau pakai logika bahwa semua perbuatan dan perkataan Nabi harus dikerjakan, kalau semua lafazh harus dibaca semuany, maka shalat kita baru rampung 2 sampai 3 jam.

Baca Juga  Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana?

Pasti harus ditetapkan mana bacaan yang kudu dibaca dan menjadi rukun shalat, dan mana yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan menjadi sunnah muakkadah.

Sebenarnya para fuqaha dan ahli ushul sudah melakukan pemilahan dan klasifikasi macam itu. Kita yang punya keterbatasan akut ini sudah dimudahkan sekali.

Tapi berhubung terprovokasi oleh pihak yang tidak bertanggung-jawab bahwa kita boleh ijtihad sendiri, akhirnya kita malah menarik kesimpulan sendiri masing-masing.

Keliru yang perlu dihindari

Parahnya, ketika kita menarik kesimpulan sendiri berdasarkan kedangkalan ilmu kita, hasilnya malah terbolak-balik. Yang sunnah jadi wajib, yang wajib jadi mubah. Yang tidak ada malah ditambah-tambahi. Padahal Nabi SAW malah tidak pernah memerintahkannya, apalagi mencontohkannya.

Alih-alih mengikuti sifat shalat Nabi, yang ada malah bikin aturan shalat sendiri, tapi diklaim sebagai sifat shalat Nabi.

Lalu bagaimana kita bisa tahu kekeliruan semacam ini?

Jawabnya tentu lewat ilmu fiqih yang sudah diajarkan. Sebab ilmu fiqih itu ilmu yang bukan hanya berdasarkan hadits shahih saja, tetapi sudah dilengkapi juga dengan ketentuan bagaimana kita melakukan istimbath hukum dari hadits-hadits itu.

Baca Juga  Hukum Cashback dalam Islam, Apakah sama dengan Riba?

Lalu apa saja contoh kasus dimana orang terjebak hanya pakai hadits saja, tetapi tidak mampu memilah mana yang syarat, mana yang rukun, mana yang sunnah?

Salah satunya adalah kalau kita baca buku berikut ini, yaitu buku yang menceritakan bahwa alih-alih menjalankan sunnah Nabi, yang terjadi malah menambah-nambahi hal yang sebenarnya tidak pernah diperintahkan. Maka judulnya saja sudah asyik punya : “Tidak ada yang baru dalam hukum shalat”.

Ditulis oleh Imam Masjid Nabawi Madinah, Syeikh Bakr Abu Zaid. Beliau membuat catatan penting tentang orang-orang yang suka bikin-bikin aturan shalat sendiri tapi keliru. Ngakunya sebagai sifat shalat Nabi, padahal hasil ngarang-ngarang sendiri. Cuma diklaim sebagai sifat shalat Nabi.

Karyanya berjudul La Jadida fi Ahkami Ash-Ashalah cukup menghentak kita.

Misalnya mengharuskan jamaah untuk menempel-nempelkan mata kaki di kanan kiri adalah takalluf yang tidak pernah diperintahkan oleh Nabi. Begitu juga keharusan menempelkannya saat sujud adalah hal yang diada-adakan saja, tidak berdasarkan perintah Nabi.

http://waqfeya.com/book.php?bid=1620

Ahmad Sarwat, Lc.MA

Baca Juga  Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana?