Oleh  :
Hamzah Alfarisi

Pembaca
yang dirahmati Allah, kriteria mengenai perempuan sholehah telah kita bahas
pada tulisan yang lalu, sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya kembali siapa perempuan sholeh itu. Pembahasan lalu telah
dijelaskan pula  bahwa salah satu tujuan menikah yaitu
mendapatkan anak sholeh yang mendoakan kedua
orang tuanya. Rasanya akan lebih afdhol kalau
kita membahas faktor-faktor yang menjadi
penyebab anak itu menjadi sholeh.

Sesuatu
yang baik tentunya muncul dari perkara yang baik pula, begitu pula dengan
seorang anak. Anak yang sholeh berasal dari ibu yang sholehah juga, karena
perempuan yang sholehah makan makanan yang halal, maka air susu ibu (ASI) yang
dihasilkanpun ikut halal
dan berkah. Air susu tersebut akan memunculkan anak yang mempunyai tabiat/watak
yang condong kepada kebaikan. Berbeda dengan air susu yang yang dihasilkan dari
perkara yang haram yang mana air
susu tersebut dihasilkan oleh perempuan yang tidak sholehah, sehingga air
susunya pun tidak mengandung berkah. Oleh
karenanya jika air susu tersebut diminum oleh si anak maka akan memenculkan tabiat yang jelek, yaitu tabiat yang condong kepada keburukan.

Seperti
disebutkan dalam kitab “Madkhol lil ‘abdary” juz 4 halaman 295:
بنبغي أن يراقبه من أول أمره فلا يشغل في حضانته وإرضاعه إلا امرأة صالحة
متدينة تأكل الحلال فإن البن الحاصل من الحرم لابركة فيه فإذا وقعت عليه نشأة
الصبي عجنت طينته فيميل طبعه إلى ما يناسب الخبائث
Artinya: ”Sayogyannya orang tua menjaga anak di awal perkaranya. Maka orang tua tidak menyibukkan dalam persusuannya
(tidak memberikannya susu) kecuali dengan (air susu) perempuan sholehah yang beragama,
yang (perempuan tersebut) memakanan (perkara yang) halal. Maka sungguh air susu
yang dihasilkan dari makanan haram tidak mengandung keberkahan di dalamnya,
maka ketika air susu tersebut dimakan oleh anak akan memunculkan anak yang tabiatnya
condong kepada perkara yang jelek-jelek”

Imam Nas’i dalam kitabnya “Asyratu al-nisa” juz 1 halaman 104 berkata
bahwa anak yang sholeh merupakan penerus bagi amal kedua orang tuanya setelah
wafat.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا مات ابن ادم
انقطع عمله إلا ثلاث : صدقة جارية أو علم بنتفع به أو ولد صالح يدعو له .رواه
المسلم .

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: ketika anak cucu adam meninggal
maka amalnya putus kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.”

Dari pembahasan diatas dapat diambil pelajaran, jika mempunyai anak
tidak sembarang seoarang anak disusui oleh orang lain apalagi yang tidak
dikenal. Kalaupun disusui oleh orang lain harus dikataui betul bahwa perempuan
yang menyusui tersebut  makan makanan
yang halal dan berperilaku baik. Sehingga anak yang didambakan yaitu anak
sholeh dapat terwujud bi’idznillah. Amiin.