Oleh : Saiful Hidayat

Episode Kedua : Bisyarah Soal Kelahiran, Siapakah Dia?

Berlanjut pada ayat 101 dari Al-Shaffat, Allah SWT menjawab doa Nabi Ibrahim SAW dan mengirimkan kabar gembira ( bisyarah ) kepada beliau melalui Malaikat Jibril. Allah SWT menjajikan bahwa Nabi Ibraihim akan segera dikaruniai seorang anak yang amat sabar sebagaimana Firman Allah SWT :

  فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١

Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar ( AL-Shaffat : 101 )

Ayat ini sekaligus menjadi jembatan penghubung alur cerita dari episode pertama perjalanan Nabi Ibrahim AS yang diceritakan di dalam surat Al-Shaffat menuju episode berikutnya, yaitu sesi yang menceritakan kronologi pelaksanaan perintah penyembelihan yang akan dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS. Pada episode kedua, Nabi Ibrahim AS melakoni cerita bersama tokoh lain. Tokoh ini tidak lain adalah anak Nabi Ibrahim AS sendiri yang telah Allah SWT janjikan pada ayat 101 surat Al-Shaffat. Ia adalah anak yang pada ceritanya yang Nabi Ibrahim AS jadikan sebagai bahan qurban ( usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ).

Pertanyaan kemudian muncul. Siapakah nama anak dimaksudkan pada ayat 101 tersebut? Permasalahan muncul karena pada ayat tersebut Al-Qur’an tidak menyebutkan secara pasti siapa nama anak yang dikabarkan akan segra lahir tersebut. Al-Qur’an hanya sebatas memberikan clue bahwa anak tersebut merupakan anak yang sangat sabar. Jika kita melanjutkan ke ayat 102, kita mendapati bahwa ayat ini memuat cerita sambungan dari ayat 101. Ayat 102 memuat clue lain yang menyebutkan bahwa anak yang disebutkan pada ayat 101 adalah anak yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim AS. Pada kasus ini, Al-Qur’an meninggalkan kekosongan cerita. Al-Qur’an tidak menceritakan detail kisah yang terjadi diantara rentang waktu setelah datangnya bisyarah dari malaikat kepada Nabi Ibrahim AS dengan pernyataan Nabi Ibrahim AS kepada anaknya bahwa beliau akan menyembelihnya sesuai perintah Allah SWT.

Untuk menjawab pertanyaan dan memecahkan misteri siapakah Ghulam Haliim yang dimaksudkan di ayat 101, kita perlu menyimak ulang kisah Nabi Ibrahim AS yang dimulai dari ayat 83 sampai 113. Ayat 83 mulai bercerita bagaimana sepak terjang Nabi Ibrahim AS dalam berdakwah yang berkahir pada pernyataan beliau di ayat 99 bahwa beliau memilih untuk berhijrah saja dari tempat dakwah yang sekaligus tanah kelahirannya. Di tengah perjalanan berhijrah, beliau berdoa seperti pada ayat 100 yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT lewat ayat 101. Hanya saja skenario di ayat 102 menuntut Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya di saat anaknya telah ‘cukup umur’. Karena ayat 102 menyebutkan anak tersebut dengan kata ganti orang ketiga ( dhamir mufrad mudzakkar ), ini berarti anak yang dimaksudkan haruslah anak yang telah disebutkan secara jelas ( isim dzahir ) sebelumya. Anak ini tentu merujuk kepada anak yang disebutkan pada ayat 101, yaitu anak yang dijanjikan. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa alur cerita Nabi Ibrahim AS yang dikisahkan mulai dari ayat 83 sampai 113 bersifat urut dan berkelanjutan.

Pertanyaan mengenai siapa Ghulam Haliim yang sekaligus nanti akan menjadi Dzabih sebenarnya tidak sepenuhnya rumit. Kita  menemukan info tambahan dari ayat 39 surat Ibrahim yang berbunyi :

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٩

  1. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa

Pada ayat tersebut, Nabi Ibrahim AS secara lugas menyatakan rasa syukurnya kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan dua putra kepada beliau, yaitu Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS. Dari info ini, kita dapat memecahkan misteri siapa sosok anak Nabi Ibrahim AS yang diisyaratkan pada ayat 101 surat Al-Shaffat. Kita dapat menyimpulkan bahwa anak yang dimaksukan tentu hanya salah satu dari dua kemungkinan, yaitu kalau bukan Nabi Ismail AS berarti Nabi Ishaq AS. Info ini meskipun belum sepenuhnya menjawab pertanyaan, tetapi setidaknya telah memberikan kepastian kepada kita bahwa tidak mungkin lagi anak yang dimaksudkan adalah selain salah satu diantara Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS.

Info tambahan lain untuk mengungkap misteri anak Nabi Ibrahim AS yang tidak disebutkan namanya di ayat 101 dan 102 surat Al-Shaffat dapat kita peroleh dari ayat 112 dan 113 yang merupakan episode ketiga dari biografi Nabi Ibrahim AS yang disebutkan pada syrat Al-Shaffat. Jika kita menengok dua ayat tersebut, kita akan menemukan nama tokoh selain Nabi Ibrahim AS yang disebutkan secara lugas sebanyak dua kali oleh Al-Qur’an, yaitu Nabi Ishaq AS putra Nabi Ibrahim AS seperti terlihat pada ayat-ayat berikut :

وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١١٢ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ١١٣

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata ( Al-Shaffat : 112-113 )

Keunikan dari dari episode ketiga ini adalah awal ayat dimulai dengan bisyarah soal kelahiran Nabi Ishaq AS. Senada dengan ayat 100 surat AL-Shaffat, Nabi Ibrahim AS juga mendapat bisyarah berupa kelahiran Ghulam Haliim yang masih menjadi misteri siapakah dia. Dengan demikian, Nabi Ibrahim AS memperoleh bisyarah sebanyak 2 kali, bisyarah pertama pada ayat 100, sedangkan bisyarah kedua pada ayat 112.

Jika kita mengaitkan info dari ayat 39 surat Ibrahim dengan info ini, misteri siapakah nama Ghulam Haliim telah terpecahkan dengan mudah. Berdasarkan konteks sekumpulan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, Ghulam Haliim pada ayat 101 surat Al-Shaffat yang kemudian menjadi Al-Dzabih di episode ‘pengorbanan’ menjadi mengerucut dan mengarah kepada nama Ismail AS. Argumen ini semakin diperkuat oleh realita bahwa nama Ishaq AS baru muncul di ayat 112 surat AL-Shaffat. Jika kita berandai-andai bahwa Nabi Ishaq AS adalah sosok anak misteri di episode ‘pengorbanan’, justru alur cerita yang berjalan terkesan aneh karena nama Al-Dzabih yang menjadi aktor utama selain Nabi Ibrahim AS justru baru dimunculkan ketika episode tersebut telah usai.

Sampai sejauh ini, mungkin kita mempertanyakan judul yang digunakan pada kajian kali ini. Setidaknya ada dua poin utama yang seharusnya kita peroleh dari judul kajian, yaitu siapa yang dimaksudkan dengan Sang Khalilullah, sosok sentral yang diangkat di dalam kajian dan apa  sebenarnya konsep Lillah & Fillah yang dibawakan oleh Sang Khalilullah. Namun, sejauh ini hanya pertanyaan pertama yang telah terjawab. Jawaban mengenai siapa Khalilullah telah kita temui di paragraf pertama. Pertanyaan yang masih tersisa sekarang, bagaimanakah sebenarnya konsep Lillah & Fillah yang tercantum di dalam judul?

Mari kita senantiasa memohon ke hadirat Allah SWT agar senantiasa diberikan istiqomah dalam menjalankan kajian tafsir. Biidznillah, kita akan menmperoleh jawaban dari pertanyaan yang kedua pada kajian berikutnya. Semoga kita semua senantiasa diberikan semangat dan kesabaran dalam menimba ilmu sebagai salah dua dari enam syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pelajar.** Amiinn…

——————

** mengacu pada dua bait legendaris di dalam kitab Ta’lim Muta’allim

ألا لا تنال العلم إلا بستة            سأنبيك عن مجموعها ببيان

ذكاء وحرص واصطبار وبلغة            وإرشاد أستاذ وطول زمان

Ingat, kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali telah memenuhi 6 kriteria

Aku akan memberitahukan 6 kriteria tersebut kepadamu secara gamblang

Jeli, bersemangat, sabar dan berkorban secara materiil

Petunjuk dari Guru serta menjalani proses yang lama

Baca Kajian Tafsir Al-Munir #04 : Konsep Lillah & Fillah di Balik Kisah Sang Khalilullah