Oleh : Saiful Hidayat

Alhamdulillah, Kita masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk turut meryakan Hari Raya Idul Adha 1437 H. Saat kita menyimak khutbah yang disampaikan oleh khatib setelah pelakasanaan sholat ‘Idul Adha, kita sering mendapati bahwa nama Nabi Ibrahim AS disebutkan. Berbicara soal Nabi Ibrahim AS, nama beliau memang kerap disebutkan dan sepak terjangnya juga kerap kali diceritakan di berbagai tempat di dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh, Ayat 125 surat Al-Nisa’ mengikrarkan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah sang Khalilullah. Selain itu, Al-Qur’an juga merekam banyak cerita dan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS sepanjang perjalanan hidup beliau. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat kita dapat kita temukan denga menyimak beberapa ayat dari berbagai surat di dalam Al-Qur’an.

Pembahasan sejarah Nabi Ibrahim AS yang secara spesifik berhubungan langsung dengan cerita di balik perayaan ‘Idul Adha, tentu akan memposisikan Nabi Ibrahim AS sebagai sosok sentral atau tokoh utama. Namun, dalam perkembangan cerita yang akan menghantarkan Nabi Ibrahim AS mencapai klimaks cerita, kita akan menemukan tokoh-tokoh lain yang terlibat dalam cerita, antara lain Siti Sarah sebagai istri pertama Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar sebagai istri kedua dan Nabi Ismail AS sebagai anak pertama.

Lantas bagamainakah cerita yang terselubung di balik Hari Idul Adha yang akan kita telah jumpai dan kita rayakan pada minggu yang lalu? Melalui tulisan ini, mari kita bersama-sama menelusuri kembali dan menapak tilas cerita di balik hari besar tersebut dengan berangkat dari ayat Al-Qur’an sebagai sumber informasi utama. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan informasi dari sumber-sumber terkait yang relevan sebagai data pendukung. Usaha tersebut ditujukan agar kita tidak hanya mengetahui cerita hanya sebatas kronologinya saja. Namun, kita juga sudah seharusnya mampu menggali hikmat yang terpendam serta mampu menangkap pelajaran yang tersirat di balik cerita.

Episode Pertama : Cerita Awal

Term Adha yang tersemat pada Hari Raya Idul Adha merujuk kepada kata Udhiyyah yang berarti pengorbanan. Hari Raya Idul Adha disebut pula dengan Yaum Al-Nahr. Kata Al-Nahr inilah yang dituturkan secara implisit di dalam Surat Al-Kaustar sebagai berikut :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah ( Al-kautsar : 2 )

Menurut salah satu penafsiran, Allah SWT melalui ayat di atas memerintahkan Rasulullah SAW untuk menunaikan Sholat ‘Idul Adha dan menyembelih hewan korban. Seperti nama yang digunakan, Hari ‘Idul Adha atau Yaum Al-Nahr sebenarnya mengarahkan kita untuk mengingat kembali cerita pengorbanan yang terjadi di hari itu. Aktor yang terekam oleh sejarah sebagai pelaku utama dalam kasus kisah ‘pengorbanan’ yang terjadi di tanggal 10 Dzul Hijjah adalah Nabi Ibrahim AS.

Kisah ‘pengorbanan’ yang kemudian sampai sekarang kita peringati sebagai Hari Raya Idul Adha direkam oleh Allah SWT melalui firman-Nya secara khusus di dalam surat Al-Shaffat. Kisah pengorbanan terjadi setelah Nabi Ibrahim AS mengalami cobaan yang berat. Cobaan tersebut dialami oleh Nabi Ibrahim di tanah kelahirannya, Babilonia yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan Raja Namrud.

Nabi Ibrahim AS yang diceritakan di dalam surat Al-Shaffat mulai dari ayat 83 sampai ayat 113 secara global menempuh tiga episode. Episode pertama yang dimulai dari ayat 83 menjelaskan perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam menyebarkan dakwah di tanah kelahirannya. Namun, kaum yang beliau seru dan bahkan ayahnya sendiri ( atau pamannya menurut salah satu penafsiran ) dengan tegas menolak ajaran yang disebarkannya. Bahkan mereka melakukan kekerasan fisik terhadap beliau.

Akidah yang dianut kaum Nabi Ibrahim AS -yaitu menyembah berhala- telah dikritisi habis-habisan oleh Nabi Ibrahim AS melalui pendekatan yang rasional. Singkat cerita, mereka tidak sanggup mematahkan hujjah ( argumen ) yang dilontarkan oleh Nabi Ibrahim AS. Hanya saja mereka tetap saja bersikukuh degan keyakinan yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Demi menjaga akidah buta yang sesat dan menyesatkan tersebut, kaum Nabi Ibrahim AS berdasarkan perintah dari Raja Namrud bersepakat untuk melempar Nabi Ibrahim AS ke dalam kubangan bara api. Hanya saja Allah berkehendak lain. Meski api secara natural bersifat membakar, realita berkata lain. Allah SWT mematahkan hukum adat tersebut dengan cara menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari lalapan si jago merah melalui firman Allah SWT :

قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Al-Anbiya : 69)

Sebagai penutup dari episode pertama ini, Nabi Ibrahim AS menyatakan diri untuk melakukan hijrah karena tidak memungkinkan lagi baginya untuk melanjutkan dakwah di tanah kelahirannya sendiri. Niatan Nabi Ibrahim AS kemudian disebutkan di ayat 99 surat Al- Shaffat :

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهۡدِينِ ٩٩

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku ( Al-Shaffat : 99 )

Nabi Ibrahim kemudian berhijrah dengan sekelompok masyarakat yang berkenan beriman bersamanya. Orang-orang yang ikut dalam rombongan Ibrahim AS untuk melakukan hijrah antara lain Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS dan Nabi Luth AS yang masih merupakan merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS sendiri.

Saat berhijrah, Nabi Ibrahim AS berharap kepada Allah SWT agar langkah kakinya diarahkan ke negeri dimana beliau dapat menyebarkan agama Tauhid disana. Nabi Ibrahim AS pada akhirnya berhijrah ke negeri yang diberkahi oleh Allah SWT, sebagaimana pada salah satu ayat dari surat Al-Anbiya :

وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ ٧١

Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia ( Al-Anbiya : 71 )

Para pakar tafsir, bersepakat bahwa negeri yang dimaksudkan sebagai negeri yang telah diberkahi oleh Allah SWT pada ayat tersebut adalah negeri Syam.

Di saat melaksanakan hijrah, Nabi Ibrahim AS telah memasuki usia 86 tahun. Karena faktor usia ini, perjuangan mempertahankan paham monotheisme jelas bukan usaha yang bisa dianggap enteng. Usaha tersebut bahkan cenderung memberatkan pundak Nabi Ibrahim AS karena sepanjang perjalanan dakwah yang dijalani, beliau kerap kali harus mengahadapi ujian dan penentangan.

Beban yang dipikul oleh Nabi Ibrahim AS terasa semakin berat. Beliau diuji oleh Allah SWT dari segi psikis. Di usia yang telah semakin renta, Nabi Ibrahim AS yang sudah menjalani rumah tangga dengan Siti Sarah selama kurang lebih 20 tahun belum juga dikaruniai putra. Oleh karena itu, beliau kemudian memohon kepada Allah SWT agar segera diberikan keturunan. Usia renta tanpa momogan bukanlah alasan semata-mata di balik doa yang beliau panjatkan. Tetapi beliau lebih memikirkan bagaimana nanti nasib dakwah yang beliau perjuangakan dengan seluruh tumpah darah beliau. Apakah bisa tetap berjalan secara berkesinambungan setelah kepergian beliau jika beliau sendiri tidak mempunyai penerus? Pertanyaan ini yang mengahantui Nabi Ibrahim AS. Di tengah perjalanan hijrah, Nabi Ibrahim AS pun melantunkan doa di hadapan kehadirat Allah SWT sebagaimana dijelaskan pada ayat 100 dari surat Al-Shaffat :

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٠٠

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh ( Al-Shaffat : 100 )