بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ
*

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى
سَيِّدِنَا مُـحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِـيِّـيْنَ ، وآله وصحبه أَجْمَعِيْنَ
*

“Bismillahir Rahmanir Rahim
Alhamdu Lillahi Rabbil ‘alamin,
wabihi Nasta’inu ‘ala umurid Dunya wad Din * Wa shallallahu wa sallama ‘ala
Sayyidina Muhammadin Khatamin Nabiyyin, wa ‘Alihi wa Shahbihi ajma’in
*
Hanya dengan nama Allah yang Rahman
nan Rahim
Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian
semesta alam. Dan hanya dengan-Nya, kami memohon pertolongan atas segala urusan
dunia dan agama. Dan semoga Allah senantiasa bersholawat dan bersalam kepada
Baginda kita Muhammad, sang penutup Nabi-nabi, dan kepada keluarga serta para
sahabatnya keseluruhan.”
***

Definisi dan Menghormati Sahabat
Baginda Nabi
Setelah Baginda Nabi dan keluarganya,
shalawat dan salam semoga juga terlimpahkan kepada para Sahabat Baginda Nabi,
seluruhnya. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalany mendefinisikan sahabat Nabi dengan
cukup mudah: “sesiapa yang bertemu Baginda Nabi Muhammad Saw di masa hidup
beliau dengan mengimaninya dan meninggal dunia dalam keadaan Islam.”
[1] Meskipun pertemuan
tersebut hanya sejenak seperti beberapa orang Badui-Arab atau bahkan buta
seperti Sahabat Ibnu Ummi Maktum (w. 23 H), mereka tetap menyandang gelar
terhormat “Sahabat” asal beriman dan meninggal dalam keadaan Islam. Berbeda
dengan gelaran Tabi’in, pelanjut Sahabat. Seseorang tak bisa disebut
Tabi’i hanya sekedar bertemu sejenak dengan Sahabat Nabi. Pertemuannya
harus lama, hingga ia benar-benar belajar dan meneladani Sahabat Nabi; barulah
ia mendapat gelar Tabi’in.
            Kenapa mesti dibedakan? Demikian itu,
tulis Syekh Nawawi Banten, karena sekali seseorang bersua dengan Baginda Nabi,
maka hatinya akan lebih bercahaya berkali-kali lipat, melebihi dampak pertemuan
lama dengan Sahabat Nabi atau pun yang lainnya.[2]
            Oleh
karena itu, wajib bagi kita untuk menghormati Sahabat Nabi dan meneladaninya.
Jangankan kita, Allah Sang Pencipta saja sering sekali menyanjung perjuangan
Sahabat Nabi dalam berbagai firman-Nya. Nabi Muhammad pun mengingatkan kepada
kita: “Janganlah kalian mencela para Sahabatku; karena jika saja salah
seorang dari kalian meng-infaq-kan emas sebesar gunung Uhud sekalipun, niscaya pahala
infaq tersebut takkan bisa menyamai satu mud (seukuran telapak tangan) dari
salah seorang Sahabatku dan tidak juga setengahnya.”
[3]
            Banyak lagi hadits yang mengajarkan
kita agar beradab dengan para Sahabat dengan penuh hormat, dan melarang kita dari
mencela, apalagi melaknat para manusia terbaik yang telah Allah pilih untuk
menemani perjuangan Baginda Nabi Muhammad Saw.

Maksud “Semua Sahabat Nabi itu Adil”
Ketika Baginda Nabi Muhammad Saw.
wafat pada Dluha Senin, 12 Rabi’ul-awwal 11 H (8 Juni 632 M), total
jumlah sahabat saat itu adalah kisaran 124 ribu hingga 164 ribu Sahabat.[4]
Sahabat yang paling terakhir wafatnya ialah Abut Thufail ‘Amir bin Wa`ilah
Al-Laytsi (w. 100 H).
            Ulama
Ahlussunnah waljama’ah sepakat bahwa seluruh Sahabat Nabi itu adil semuanya.
Adil di sini bukan berarti terjaga (ma’shum) dari segala dosa, atau tak
pernah lupa. Maksud adil disini lebih diartikan dalam pendekatan ilmu hadits:
bahwa mereka tidak pernah sama sekali menyengaja bohong atas Baginda Nabi
Muhammad Saw. Mereka semua tidak pernah memalsukan hadits, sehingga ajaran
Baginda Nabi tersampaikan pada Tabi’in, generasi berikutnya, dengan
benar dan terjaga dari pemalsuan.
            Bahkan
para Munafiq di era kenabian pun tak ada yang berani meriwayatkan hadits dari
Baginda Nabi, apalagi sanggup berbohong atau memalsukannnya. Terbukti dengan
banyak sekali ayat Al-Quran yang membongkar tipu-muslihat dan sifat-sifat buruk
mereka, namun tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan bahwa mereka sanggup
berbohong atas nama Baginda Nabi Muhammad Saw.
            Dalam
ayat 44-47 surat Al-Haqqah, Allah Swt. berfirman: “Seandainya dia (Muhammad)
mengada-adakan sebagaian perkataan atas (nama) Kami * niscaya benar-benar Kami
pegang dia pada tangan kanannya.* Kemudian benar-benar Kami potong urat tali
jantungnya. * Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat
menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.”
            Ayat ini tegas mengancam bila saja
Baginda Nabi mengada-ada, maka bagaimana dengan selain Nabi bila berupaya untuk
berbohong atau mengada-ada? Ditambah lagi dengan peringatan keras Baginda Nabi
terhadap orang yang sengaja memalsukan sabdanya; “Maka hendaklah
mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka!”
[5] Atas dasar ini,
tidak ada satupun Sahabat dan Munafiq sekalipun yang berani berdusta atas nama
Baginda Nabi Muhammad Saw.[6]
            Namun,
ancaman ini tidak lantas membuat para Sahabat enggan meriwayatkan hadits Nabi
sama sekali. Tidak! Justru sebaliknya, dengan peringatan keras ini, mereka
sangat berhati-hati dalam mengutarakan hadits. Bahkan sebagian pembesar Sahabat
(kibarus Shahabah) seperti Sahabat Abu Bakar dan Sahabat Az-Zubair bin
‘Awwam tergolong jarang meriwayatkan hadits, saking khawatir adanya
pengurangan, penambahan, atau pemalsuan hadits. Dan disisi lain, banyak juga
para Sahabat yang begitu cinta menimba hadits Baginda Nabi, menghafalkannya,
hingga dikenal banyak meriwayatkan hadits, seperti Sahabat Abu Hurairah Abdur
Rahman Ad-Dusy Al-Yamany (w. 59 H) dengan meriwayatkan 5374 hadits, Siti Aisyah
Ummi Mukminin (w. 58 H) dengan riwayat 2210 hadits, dan Abdullah bin
‘Umar (w. 73 H) yang riwayat haditsnya kurang lebih 2630 hadits.
            Banyak
sekali buku-buku yang merekam jejak kehidupan para Sahabat dan wawasan pengetahuan
beliau, terutama tentang hadits. Misalnya saja, buku Usudul Ghabah karya
Imam Ibnul Atsir (555-630 H), yang berhasil mengisahkan sekitar 7554 Sahabat
Nabi. Beliau juga menyampaikan bahwa jumlah perawi hadits dari kalangan
Sahabat, yang riwayatnya sampai kepada sang penulis, ada sekitar 1800 Sahabat.[7]
Jumlah yang sangat fantastis, inilah yang membuat jejak kehidupan Nabi Muhammad
sekaligus ajarannya sangat jelas, menyeluruh, dan sangat mudah untuk kita
telaah. Berbeda dengan kehidupan dan ajaran para Nabi sebelumnya, yang hingga
kini masih sukar kita jelajahi referensi otentiknya selain apa yang dikisahkan
via Al-Quran.

Semua Sahabat Ahli Fiqh-Mujtahid?
Meski jumlah Sahabat Nabi dan perawi
hadits dari mereka lebih dari seribu orang, namun tidak semua dari mereka
merupakan ahli fiqh yang mampu menggali hukum langsung dari Al-Quran dan Hadits
(mujtahid). Bapak Sosiolog Muslim sekaligus sejarawan ternama, Abdurrahman
ibnu Khaldun Al-Hadhramy (732-808 H) menyatakan, tidaklah semua Sahabat itu ahli
fatwa.[8]
Lebih banyak Sahabat yang belum sampai level mujtahid ketimbang yang mujtahid.
            Dari
sekian ribuan Sahabat, jelas Ibnu Qayyim, hanya ada seratus tiga puluhan
Sahabat saja yang mencapai level mufti-mujtahid. Diantara mereka ada
tujuh Sahabat yang paling sering berfatwa: ‘Umar bin Al-Khatthab (w. 23 H),
‘Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud (w.
32
H), Siti ‘Aisyah istri Baginda Nabi, Zaid bin Tsabit (w. 45 H), Abdullah bin
Abbas (w. 68 H), dan Abdullah bin ‘Umar. Ada juga kalangan Sahabat yang
sedang-sedang (al-mutawassithun) saja mengeluarkan fatwa, seperti
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Abdullah bin Abi Quhafah Utsman (w. 13 H), Istri
Baginda Nabi Ummi Salamah Hindun binti Suhayl (w. 62 H), dan Sahabat Anas bin
Malik khadim Rasulillah (w. 93 H). Dan ada juga yang sedikit sekali memberi
fatwa, seperti kedua cucu Rasulullah Saw. Al-Hasan dan Al-Husain.[9]
            Melihat
dari sedikitnya para Sahabat yang mencapai level mujtahid-mufti, apa
yang dapat kita simpulkan? Bahwa mencapai derajat ijtihad itu memang tidaklah
mudah, hingga seseorang yang bergelar Sahabat pun tak lantas menjadi mujtahid
secara otomatis. Lalu, setelah wafatnya Rasul, apa yang dilakukan Sahabat
bila terdapat masalah baru yang memerlukan status hukum Syariat? Tanpa rasa
gengsi, mereka senantiasa bertanya kepada Ahladz Dzikri alias Al-Qurra`,
para Sahabat yang sudah mencapai derajat ijtihad. Setelah persoalan
tersebut terjawab, mereka mengikutinya. Ini yang kemudian disebut taqlid, mengikuti
pendapat seorang ‘alim. Bahkan, tidak jarang sesama Sahabat Mujtahid
pun sering terjadi saling tanya, dialog-diskusi, dan musyawarah bersama demi
memecahkan sebuah persoalan baru (nazilah/mustajaddah), sebagaimana
keputusan memerangi kaum murtad dan anti zakat, me-mushhaf-kan Alquran,
dan banyak kasus lain lagi.
            Jadi,
fenomena taqlid-ijtihad itu sebuah keniscayaan. Banyaknya orang ber-taqlid
itu memang sudah dari dulu. Atas dasar kebijakan Sahabat ini, Imam Ghazaly
menegaskan bahwa seorang ‘awwam tidak ada jalan lain baginya kecuali taqlid.
Salah satu alasan terkuat sang Imam adalah kesepakatan (ijma’) para
Sahabat ketika mereka memberi fatwa kepada masyarakat, mereka tidak
memerintahkan masyarakat tersebut agar mencapai darajat ijtihad.[10]
 
            Tidak
bisa kita paksakan semua Muslim menjadi mujtahid. Selain menyalahi sunnatullah,
pemaksaan ini akan menyebabkan kehancuran agama Islam itu sendiri. Sama halnya
kita memaksa semua orang agar menjadi dokter. Apa hasilnya? Cukuplah kita
mengikuti pendapat pakarnya masing-masing, bila kita memang bukan pakarnya.
Keberagaman dan perbedaan bakat-minat memang diciptikan agar kita saling
mengisi, tolong-menolong, dan melengkapi satu sama lain, bukan untuk dipaksakan
agar menjadi satu warna yang tidak hanya membosankan, tapi juga memusnahkan
keindahan hikmah di balik terciptanya perbedaan itu sendiri.
            Mari
teladani para Sahabat Rasulullah yang mulia budi pekerti dan kedudukannya
disisi Allah. Meneladani bukan hanya hal taqlid saja, tapi juga sikap
para Sahabat yang memang sudah mencapai derajat ijtihad, namun enggan langsung
memberi jawaban selagi ada yang lebih ‘alim dari dirinya. Syekh Nawawi
Banten mengisahkan, suatu ketika Syuraih bin Hani` (w. 78 H) mendatangi Siti
Aisyah untuk menanyakan tentang mengusap dua Khuff. Siti ‘Aisyah pun
tidak menerangkan hukum, dan menyarankan Syuraih agar menemui Sayyidina ‘Ali
bin Abi Thalib sebab beliau seringkali menemani perjalanan Rasulullah Saw.
            Demikian
juga sikap Sahabat Ibnu Abbas yang pernah ditanya tentang bagaimana Rasulullah
menjalankan Salat Witir. Kepada penanya, Ibnu Abbas justru berbalik nanya: “Inginkah
kutunjukkan kepadamu seseorang yang paling tahu di muka bumi ini tentang salat
witirnya Rasul?
” Tentu saja sang penanya mau dan bertanya, siapakah?
Jawabannya Sahabat Ibnu ‘Abbas adalah Siti ‘Aisyah. “Tanyakanlah kepadanya
terkait ini.”
Begitulah jawaban bijak Ibnu ‘Abbas.
            Konon,
sikap seperti ini merupakan ciri khas ulama Akhirat.[11]
Sikap penuh rendah hati, tahu memposisikan diri, tidak sembarang merespon, dan
tetap berkonsultasi dengan seseorang yang lebih di atasnya. Sikap-sikap bijak
Sahabat seperti inilah yang perlu kita teladani dalam kehidupan beragama kita.

Wallahu a’lam bis Shawab           

*) Ditulis untuk Pengajian Online
Safinah (POS) Kmnu Iium dan Kalam Ulama


[1] Al-Ishabah fi
Tamyizis Shahabah
karya Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, hal. 9.
[2] Kasyifatus Saja` karya
Syekh Nawawi Banten, hal. 32.
[3] HR. Imam Bukhari 3/1343
no. 3470 dan Imam Muslim 4/1967 no. 2540.
[4] Nailur Raja` karya
Sayyid Ahmad Asy-Syathiry, hal. 8.
[5] HR. Imam Bukhari no.
1291.
[6] Bara`atus Shahabat
minan Nifaq
karya Syekh Mundzir Al-As’ad, hal. 36-37.
[7] Ruwwatul Hadits
minas Shahabah ridlwanullah ‘alaihim
karya Dr. Ali Jom’ah.
[8] Muqaddimah Ibn
Khaldun,
hal 255.
[9] I’lamul Muwaqqi’in
‘an Rabbil ‘Alamin
karya Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, juz 1, hal. 12.
[10] Al-Mustashfa karya
Imam Muhammad Al-Ghazaly, juz 2, hal. 358.
[11] Muraqil ‘Ubudiyyah karya
Syekh Nawawi Banten, hal. 14.