Oleh: Roby Muhammad

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ *

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُـحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِـيِّـيْنَ ، وآله وصحبه أجمعين *
“Bismillahir Rahmanir Rahim
* Alhamdu Lillahi Rabbil ‘alamin, wabihi Nasta’inu ‘ala umurid Dunya wad Din 
*Wa shallallahu wa sallama ‘ala Sayyidina Muhammadin Khatamin Nabiyyin, wa ‘Alihi wa Shahbihi ajma’in
Hanya dengan nama Allah yang Rahman nan Rahim
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dan hanya dengan-Nya, kami memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama. Dan semoga Allah senantiasa bersholawat dan bersalam kepada Baginda kita Muhammad, sang penutup Nabi-nabi, dan kepada keluarga serta para sahabatnya keseluruhan.”

***
Keluarga Baginda Nabi
Selanjutnya, sholawat dan salam semoga tercurahkan ke atas keluarga Baginda Nabi. Pertanyaannya, siapakah keluarga sang nabi?
Dalam kitab Jilaa`ul Afham fi Fadllish Sholati was Salami ‘ala Khairil Anam ﷺ , Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (691-751 H) memaparkan empat pendapat tentang keluarga Nabi dalam untaian sholawat sebagai berikut[1]:
a. Keluarga Nabi adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib
Keluarga Nabi adalah mereka yang diharamkan menerima zakat, yaitu keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Diantara landasan pendapat ini, Sahabat Zaid bin Arqam (w. 68 H) pernah meyampaikan Khutbah Rasulullah Saw di (dekat) sebuah mata air bernama Khum, daerah antara Makkah dan Madinah:
“Amma Ba’du: Ingatlah, wahai manusia, aku hanyalah manusia yang hampir akan didatangi utusan Rabb-ku (Malaikat maut) ‘azza wa jalla. Dan sungguh aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang sangat berharga. Pertama adalah Kitab Allah ‘azza wa jalla, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya; maka ambillah Kitab Allah dan berpegang teguhlah dengannya,”
Nabi Muhammad terus mensupport para Sahabat agar mencintai Al-Quran sebagai pedoman hidup dan peninggalan Rasulullah yang pertama. Lantas, sang nabi melanjutkan yang kedua:
“Dan ahlu bait-ku (keluargaku), aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu bait-ku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu bait-ku.”

Kemudian, seorang tsiqqah dari Tabi’in Hushain bin Sabrah bertanya kepada Sahabat Zaid sang perawi hadits:
“Dan siapakah Ahlu bait Rasulullah ini, wahai Zaid? Tidakkah istri-istrinya termasuk ahlul bait?”
“Sungguh istri-istri Nabi memang termasuk ahlul bait, dan bahkan ahlul bait adalah mereka yang diharamkan ash-shodaqah setelahnya.” Balas Zaid bin Arqam.
“Siapakah mereka?” Hushain bertanya lagi, belum paham siapa saja yang diharamkan menerima shodaqah dari kalangan Ahlul bait.
“Mereka adalah keluarga Ali, keluarga ‘Aqiel, keluarga Jakfar, dan keluarga Abbas.” Jawab Sahabat yang menemani Baginda Nabi Muhammad sepanjang sepuluh peperangan.
“Jadi, apakah mereka semua ini diharamkan (menerima) sedekah?” Hushain masih bertanya untuk meyakinkan dirinya dan lebih memahami.
“Iya.” Sahabat Zaid mengiyakan[2].
Nah, dari hadits Zaid bin Arqam dan beberapa hadits shohih lainnya, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan keluarga Nabi yang diharamkan menerima sedekah dan yang dimaksud saat bersholawat adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib.
b. Keluarga Nabi adalah Keturunan dan para Istrinya
Diantara landasan terkuat pendapat kedua ini adalah sebuah hadits Sahabat Abi Humaid as-Sa’idy Al-Anshary (w. 60 H).
Bahwa setelah turunnya ayat Sholawat 56 surat Al-Ahzab, ada beberapa riwayat hadits yang mengisahkan bagaimana caranya bersholawat. Riwayat pertama dari Sahabat Ka’ab bin ‘Ujrah (w. 71 H):
“Wahai utusan Allah, sungguh kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, namun bagaimanakah caranya kami bersholawat kepadamu?”
“Katalankah: Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala `Ali Muhammad, kamaa Shallaita ‘ala `Ali Ibrahima. Innaka Hamidum Majid,” hingga akhir hadits[3].
Terlihat dalam hadits pertama ini masih belum menjelaskan siapakah `Ali Muhammad (keluarga Muhammad) yang dikehendaki? Nah, untungnya ada riwayat kedua dari Sahabat Abi Humaid as-Sa’idy sebagai berikut:
“Bahwa mereka (para Sahabat) bertanya: “Duhai utusan Allah, bagaimanakah kami bersholawat kepada Engkau?” Maka, Rasulullah pun menjawab: “Katakanlah: Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriyyatihi, kama Shallaita ‘ala `Ali Ibrahima, wa Barik ‘ala Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriyyatihi, kama Barakta ‘ala `Ali Ibrahima. Innaka Hamidum Majid.[4]
Jadi, hadits kedua ini menafsirkan `Ali Muhammad dalam hadits pertama diatas dengan “Istri-istri dan keturunan Nabi Muhammad.” Atas dasar pendapat kedua ini, masih ada yang mempertanyakan: istri-istri Rasul sudah jelas, sedangkan siapakah yang dimaksud keturunan Rasul selain para putra dan putri Rasul?
Rasulullah Saw. menjawabnya dengan bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan keturunan setiap nabi di dalam tulang rusuk setiap nabi tersebut, sementara Ia menjadikan keturunannku melalui tulang rusuk ‘Ali bin Aby Thalib.” [5] Dalam menafsiri Ahlal Bait ayat 73 surat Al-Ahzab pun, para Mufassir termasuk Ibnu Taymiyah (661-728 H) menyatakan yang dimaksud adalah Sayyidina ‘Ali (23 S.H-40 H), Siti Fathimah (18 S.H-11 H), Sayyidina Al-Hasan (3-50 H), dan Sayyidina Al-Husain (4-61 H); atau biasa yang dikenal dengan Ahlul Kisa`.
Melalui Ahlul Kisa` inilah keturunan Baginda Muhammad Saw. menyebar ke seantero dunia hingga akhir zaman. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah menyamakan sosok kedua cucu Rasulullah ini bak kedua putra Khalilullah Ibrahim ‘alaihimus salam: 
“Maka sebagaimana para Nabi itu dominannya dari keturunan Nabi Ishaq, maka begitulah mayoritas para Imam-imam terkemuka (as-saadatul a`immah) berasal dari keturunan Al-Husain. Dan sebagaimana pamungkas para Nabi yang ajarannya diterapakn di penjuru negeri timur bumi dan baratnya itu berasal dari keturunan Nabi Isma’il, maka demikianlah Khalifah Rasyidah Imam Al-Mahdi, yang merupakan akhir para khalifah, kelak berasal dari keturunan Al-Hasan.”[6]

Bila kita mengikuti pendapat kedua ini, maka bersholawat dengan menambahkan wa ‘alihi merupakan media sekaligus bukti kecintaan kita kepada Ahlul Bait. Sebab bukan hanya Syi`ah saja, semua umat Nabi Muhammad sudah selayaknya mencintai dan meneladani Ahlu Bait Rasulillah Saw, sebagaimana yang diingatkan hadits Khum diatas dan firman Allah Swt: 
“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepada kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam al-qurba.”” (QS. Ash-Shura: 23)

Ketika ayat Ash-Shura ini turun, para Sahabat pun bertanya: “Duhai Rasulullah, siapakah mereka yang Allah perintahkan (kita) agar mengasih-sayangi mereka?” Rasul pun menjawab: “Fathimah dan kedua putranya.” Demikianlah diantara sifat terpuji Muslim sejati, mencintai dan dan mengasihi para keturunan Rasulullah Saw. Banyak sekali pesan Nabi agar umatnya senantiasa ber-mahabbah dan ber-mawaddah dengan Ahlul Bait.
c. Keluarga Nabi adalah Seluruh Pengikutnya hingga Kiamat
Pendapat ketiga ini bersumber dari dua firman Allah Ta’ala, yaitu:
“Kecuali `Ala Luth. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr: 59)
“Masukkanlah `Ala Fir’aun ke dalam azab yang sangat keras.”
(QS. Ghafir: 46)
Kata `Ala yang dimaksud dalam dua ayat ini adalah para pengikutnya, baik yang kerabat maupun yang tidak.
Ini juga didukung dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Watsilah bin Al-Asqa`. Suatu ketika Nabi Muhammad tengah mengajak Hasan dan Husain. Sang Nabi mendudukkan setiap dari mereka berdua di atas pahanya, seraya mendekatkan Fathimah dan suaminya dari pangkuan sang Nabi. Kemudian Sang Nabi melipat bajunya di hadapan mereka, lantas berdoa: “Ya Allah, merekalah keluargaku.” Mendengar doa ini, akhirnya Sahabat Watsilah langsung bertanya: “Wahai Rasulullah, dan aku termasuk keluarga Baginda kan? Sang Nabi pun menjawab, “Dan kamu termasuk keluargaku.” Padahal jelas, Watsilah tak memiliki hubungan kerabat dengan Rasul, melainkan ia sebagai pengikut sang nabi.
Dan nampaknya, pendapat ketiga inilah yang sering ditekankah oleh Syaikh Nawawi Banten dalam berbagai syarahnya saat menafsiri wa `alihi.[7] Dalam Kasyifatus Saja`, misalnya, pendapat ketiga inilah menurut Syekh Nawawi yang paling sesuai saat berdoa, termasuk di dalam `alihi juga para pelaku maksiat, sebab mereka lebih memerlukan doa daripada yang lain. Sedangkan untuk konteks zakat, yang dimaksud `alihi atau ahlul bait barulah Bani Hasyim dan Bani Muthalib.


d. Keluarga Nabi adalah Kaum Beriman yang Bertakwa
Argumentasi pendapat ini berlandaskan sebuah hadits dari Sahabt Anas bin Malik (10 S.H-93 H) bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya: “Siapakah `Alu Muhammad itu?” Rasul menjawab: “Setiap yang bertakwa,” dan menyitir ayat 34 surat Al-Anfal: “Orang-orang yang berhak menguasainya (Masjidil Haram) hanyalah orang-orang yang bertakwa.”
Pendapat keempat ini diperkuat dengan firman Allah Swt saat menanggapi Nabi Nuh ‘alaihis salam perihal putranya yang tertelan banjir besar: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sungguh (perbuatan)-nya perbuatan yang tidak baik.” (QS. Hud: 46). Karena tak beriman, apalagi bertakwa, Kan`an tidak termasuk keluarga Nabi Nuh. Namun, nampaknya argumentasi ayat ini lebih sesuai untuk menguatkan pendapat ketiga, bukan keempat. Wallahu a’lam.
Demikianlah masing-masing keempat pendapat dengan berbagai landasannya, kami ringkas dari Jilaa`ul Afham fi Fadllish Sholati was Salami ‘ala Khairil Anam ﷺ karya Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah. Menurutnya, pendapat yang kuat adalah pendapat pertama dan kedua.[8] Namun, yang dipilih oleh sebagian ulama belakangan, tulis Seykh Abu Bakar Syattha` (1226-1310 H), bergantung pada konteks dan redaksinya. Harus disesuaikan.[9] Dan semuanya memiliki latar belakang landasan kuat yang mesti kita hargai dan posisikan pada tempatnya dengan tepat.
Alhasil, bila kita menafsiri keluarga Nabi dengan pendapat pertama dan kedua, maka saat bersholawat kita niatkan pula untuk menyemai cinta Ahlul Bait yang senantiasa Rasulullah pesankan dalam berbagai hadits mulianya. Dan bila kita mengikuti pendapat ketiga dan keempat, maka alangkah bahagianya kita setiap kali ada yang bersholawat dan berdoa dengan redaksi “wa `alihi”, sehingga memupuk rasa persatuan umat Islam lebih kuat dalam membangun perdamaian dan kasih sayang sebagai sesama keluarga Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa `alihi wasallam.
Wallahu a’lam bish Showab
[1]– Jilaa`ul Afham fi Fadllish Sholati was Salami ‘ala Khairil Anam ﷺ karya Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, 236-239/1.
[2]– Shahih Imam Muslim, no. 2408 tentang keutamaan-keutamaan para Sahabat Rasul.
[3]– Shahih Imam Bukhari, no. 6357.
[4]– At-Tamhid lima fil Muwattho` minal Ma’ani wal Asanid karya Imam Ibnu ‘Abdil Barr, 302/17.
[5]– Al-Mu’jam Al-Kabir karya Imam Ath-Thabrani, 43/3. Meski ada beberapa pakar hadits yang menyatakan hadits ini lemah, bahkan Al-Albani menuding hadits ini palsu. Namun, menurut murid Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Imam As-Sakhawy hadits ini layak untuk dijadikan hujjah. Lihat: Al-Ajubah Al-Mardliyyah karya Imam As-Sakhawy, 424/2.
[6]– Fadllu Ahlil Bait wa Huququhum karya Imam Ibnu Taymiyah, hal. 47.
[7]– Bahjatul Wasa`I, hal. 2, Kasyifatus Saja`, hal. 31, dan Nihayatuz Zain, hal. 8.
[8]– Jilaa`ul Afham fi Fadllish Sholati was Salami ‘ala Khairil Anam ﷺ, hal. 239-250 dikutip secara ringkas.
[9]– Kifayatul Atqiya` karya Abu Bakar Syattha, hal. 6.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here