Kajian Safinah Najah #6 : Allah, Alam Semesta, Dan Agama
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ
*

“Bismillahir Rahmanir Rahim
Alhamdu Lillahi Rabbil ‘alamin, wabihi Nasta’inu ‘ala umurid Dunya wad Din
Hanya dengan nama Allah yang Rahman nan Rahim
Segala
puji bagi Allah, Rabb sekalian semesta alam. Dan hanya dengan-Nya, kami
memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama.”

Yup, alhamduillah, bisa kembali lagi membahas prolog kitab
Safinah. Masih ingat, apa kesimpulan dari pengajian Hamdalah minggu
silam? Betul, salah satu inti dari kandungan ayat kedua surat Pembuka
Kitab suci kita ini adalah pujian. Islam itu agama pujian, bukan cacian.
Agama ini lebih menganjurkan para pemeluknya untuk memuji, dan melarang
mereka untuk mencaci, bahkan terhadap berbagai Tuhan sesembahan pemeluk
lain sekalipun (QS. Al-An’am: 108). Sepelik apapun problem, optimis dan
tetaplah say “Alhamdulillah ‘ala kulli haal.”

Memahami Rabbul ‘Alamin dari Dialog Nabi Musa dengan Raja Fir’aun

Kali ini mari kita awali pengajian dengan membahas Rabbil
‘alamin. Kata Rabb memang sangat multi makna. Karenanya, penulis kurang
nikmat menerjemahkan kata ini hanya dengan “Tuhan”. Selain Tuhan, Rabb
mengandung arti sang pencipta, pemilik, pemberi rizki, pendidik
(murabbi), pengatur, pengelola, penyempurna, dan lain-lain. Dengan multi
maknanya ini, Rabb dalam Al-Quran sering dihubungkan dengan pelbagai
ciptaan-Nya, seperti alam semesta, langit, bumi, timur, barat, kami,
kamu, dan seterusnya. Melihat banyaknya makna dan objek Rabb, kita akan
bisa memahami mengapa kata Rabbul ‘alamin diletakkan setelah
Alhamdulillah. Segala pujian itu sudah selayaknya ditujukan kepada
Allah. Betapa tidak? Dialah Rabb sekian alam semesta, yang
menciptakannya, mengaturnya, mendidik isinya, dengan sangat sempurna,
rapih, dan teratur.

Dari sini, tampaklah tekanan spiritual
Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamin, agar kita senantiasa menanam keyakinan
akan hakikat karunia nikmat-Nya yang maha luas tak terbatas, sehingga
mendorong kita untuk selalu memuji-Nya dan ber-“komunikasi” secara
kontinyu dengan baik dan benar. Dengan mengingat Allah sebagai Sang
Rabb, ketenangan dan ketentraman akan menyemai ke dalam batin kita,
sebab segala sesuatu kebutuhan kita sungguh telah disajikan oleh Allah
Swt, rasa harapan (raja`) pun akan semakin meletup-letup ke
haribaan-Nya.

Setelah jelas kedalaman makna kata Rabb, apa pula
arti Al-‘Alamin? Namun, sebelum ini, mari kita tengok lembaran sejarah
Mesir kuno yang diabadikan Al-Quran, Surat Asy-Syu’ara`: Dialog Nabi
Musa dengan Raja Fir’aun yang juga penasaran, apa itu Rabbul ‘alamin?

Al-Kisah,
setelah “hijrah” sekian lama di Kota Madyan, Nabi Musa kembali ke Mesir
dengan status sebagai utusan Allah Swt. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu,
(yaitu) kaum Fir’aun: Mengapa mereka tidak bertakwa?” (QS. Asy-Syu’ara`:
10-11). Setelah beberapa ayat, Al-Quran lebih lanjut mengisahkan
pertemuan awal antara Nabi Musa dan Nabi Harun dengan Raja Fir’aun:
“Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu:
“Sesungguhnya Kami adalah utusan Rabbul ‘alamin, bahwa lepaskanlah Bani
Israil (pergi) beserta kami.” Terjadilah sanggahan Raja Fir’aun yang tak
terima seseorang yang dulu ia asuh sejak kecil, lalu pernah membuat
“onar”, tahu-tahu sekarang mendaku sebagai utusan Rabbul ‘alamin. Usai
mendengar respon Nabi Musa atas sanggahannya, Fir’aun pun melontarkan
pertanyaan ingkar; “Apa itu Rabbul ‘alamin?” (QS. 23) Ia tak memakai
kata “man” (siapa), tapi ma (apa), menandakan ejekan Fir’aun terhadap
Dzat yang mengutus Nabi Musa sekaligus menunjukkan kecongkakannya yang
tak mempercayai eksistensi Tuhan selain dirinya sendiri.

Dengan
tetap santun, Nabi Musa menjawab, “Tuhan Pencipta langit-langit, bumi,
dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanm), jika kamu sekalian
(orang-orang) mempercai-Nya.”

Nah, dari jawaban Nabi Musa ini,
Seorang Mufassir Kenamaan Syiria, Imaduddin Isma’il Ibnu Katsir
Asy-Syafi’I (701-774 H) menyimpulkan bahwa maksud Al-‘Alamin disini
adalah langit-langit, bumi, dan apa saja yang ada di antara keduanya[1].
Bahasa ringannya, yaa, alam semesta raya ini. Bahkan Imam Ar-Razi (w.
606 H) berani memprediksi kemungkinan besar eksistensi alam-alam semesta
nan tiada hingga lainnya, yang tidak sebatas alam semesta versi
pengetahuan manusia[2].
Konon, kutip Syekh Nawawi Banten dalam Bahjatul Wasa`il-nya, Allah
telah menciptakan seratus ribu alam, berdasarkan riwayat bahwa Allah
menciptakan seratus ribu pelita dan Ia gantungkan semua pelita ini di
‘Arys, maka, tujuh langit-bumi dan seisinya beserta surga-neraka, semua
itu masihlah dalam satu pelita saja, dan tiada yang tahu apa yang ada
dalam sisa pelita-pelita lainnya kecuali Allah Swt.[3]

Bayangkan, betapa luas dan dahsyatnya “seni-kreasi” ciptaan Allah Rabbul ‘Alamin.

Imam Abu Hanifah dan Sekelompok Atheis

Dan,
sayangnya, banyak yang masih belum percaya. Masih banyak Fir’aun yang
berkeliaran hidup sejak dulu hingga sekarang. Contohnya, kisah Abu
Hanifah berikut. Sejarah mencatat, jauh sebelum menjadi imam mujtahid
fiqh, Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit (80-150 H) pernah dikenal
sebagai seorang teolog (mutakallim) masyhur di Iraq. Karena keahliannya
di bidang teologi, Imam Abu Hanifah kedatangan rombongan atheis. Mereka
mempertanyakan eksistensi Allah Swt.

“Sebentar,” dengan santai,
Imam Abu Hanifah mulai merespon, “tinggalkan aku sendiri. Sebab aku
sedang memikirkan informasi yang baru saja aku terima.”

Karena penasaran dengan informasi tersebut, para atheis ini enggan meninggalkan sang imam dan nyaman menyimaknya.

“Mereka
sampaikan informasi ini kepadaku,” lanjut Imam Abu Hanifah, “Bahwa di
samudera lautan terdapat perahu besar. Di dalamnya, banyak perabotan dan
barang-barang dagang. Hebatnya, meski tiada seorang pun yang
menahkodai, perahu tersebut bisa berjalan lancar dengan sendirinya.
Meski sering diterpa ombak-ombak besar, perahu itu bisa selamat. Perahu
ini bisa berjalan kemana saja yang ia mau tanpa dinahkodai satu orang
pun.”

Mendengar informasi perahu ajaib dari sang imam, para
atheis itu langsung membentak, “Ini informasi yang tak mungkin
disampaikan oleh orang waras.” Tukas mereka terheran-heran, dan tak
percaya.

“Celakah kalian, lantas bagaimana dengan seluruh alam
semesta yang indah dan teratur ini. Tidakkah semua ini memerlukan Sang
Pencipta (yang menahkodainya)?”[4]

Guru Komunis dan Pelajar Sekolah Dasar

Lagi-lagi
tidak hanya pada era Nabi Musa dan Imam Abu Hanifah, kisah berikut tak
kalah uniknya. Disampaikan oleh tokoh Ikhwanul Muslimin, Said Hawa
(1935-1989), kisah ini terjadi pada masa kejayaan negara komunis, Uni
Soviet (1922-1991 M). Pada saat itu, panca indera diyakini sebagai
satu-satunya sumber kebenaran. Yang tak bisa dilihat, berarti tak bisa
dibenarkan. Doktrin ini disebarkan dengan berbagai pendekatan dan
tingkatan, termasuk di tingkat sekolah dasar. Mari kita simak detail
kisahnya![5]

Di depan para pelajar sekolah dasar kelas enam, seorang guru bertanya, “Apa kalian melihatku?”

“Iya, tentu!” jawab para murid serentak.

“Berarti, aku ini ada.” Ujar sang guru dengan senyum. “Apa kamu bisa melihat papan tulis ini?” tanyanya lagi.

“Iya, terlihat, Guru!” para murid menjawabnya tegas.

“Artinya,
papan tulis itu ada.” Simpul sang guru, lalu melanjutkan pertanyaan
berikutnya, “Bagaimana dengan meja ini, bisakah kalian melihatnya?”

“Iyaaa, bisaa.” Jawab mereka tangkas.

“Maknanya,
meja itu ada.” Setelah sadar otak para pelajar mulai tercuci, sang guru
pun langsung menyodorkan pertanyaan intinya, “Nah, Anak-anak, apakah
kalian bisa melihat Allah?”

“Tidaaak.” Teriak para pelajar.

“Kalo
begitu, berarti Allah itu tidak ada.” Dengan percaya diri, sang guru
merasa sukses mendoktrin para pelajar Muslim yang masih lugu-lugu
tersebut.

Namun, tiba-tiba ada seorang pelajar berdiri secara
refleks, dan ganti bertanya; “Hai Kawan-kawan, apakah kalian bisa
melihat akalnya pak guru?”

Mereka langsung menjawab, “Tidaak!”

“Itu artinya akal guru kita ini tidak ada!” Lol

Apa
yang dapat kita petik dari trio kisah di atas? Yup, untuk mengetahui
wujud-nya Allah, tidak bisa hanya melalui panca indera saja. Meyakini
panca indera sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar
merupakan penyakit keyakinan yang sudah melanda manusia-manusia tempo
bahela, modern, hingga akhir zaman. Sebaliknya, mari optimalkan fungsi
dan daya akal kita untuk menemukan dan merasakan eksistensi-Nya dari
sela-sela setiap ciptaan-Nya, terutama alam semesta ini.

Kosakata Agama dalam Bahasa Arab

Eh,
ini kok malah jadi ngaji Tauhid dan sains segala? Yepp, sengaja kita
paparkan disini sebagai prolog untuk fasal-fasal berikutnya, yang akan
membahas sedikit tentang akidah. Sekarang kita kembali ke teks matan
Safinah: “Dan hanya dengan-Nya, kami memohon pertolongan atas segala
urusan dunia dan agama.”

Saat memandang diksi ini, Syekh Nawawi
Banten menguraikan definisi ad-din. Secara bahasa, kata din, yang kita
terjemahkan dengan agama, ternyata mengandung banyak arti, diantaranya:
taat, ibadah, balasan, dan perhitungan (hisab). Sementara secara
Syariat, din dimaknai sebagai ajaran yang Allah jelaskan melalui lisan
Nabinya, yang memuat pelbagai hukum-hukum. Ajaran ini disebut din, sebab
kita memeluknya, dengan meyakininya dan kadang juga dengan
mengkritisinya. Bisa juga disebut dengan millah, sebab Malaikatlah yang
mewartakan ajaran ini kepada sang rasul, yang kemudian rasul tersebut
menyampaikannya hingga sampai kepada kita. Dan bisa dinamai Syariat,
karena sungguh Allah lah yang mensyariatkannya kepada kita, maksudnya
Ialah yang mengajarkannya kepada kita melalui lisan Baginda Nabi Saw.

Kenapa
agama diajarkan? Tentu antara lain untuk menjadi petunjuk bagi akal.
Sebab, tentu akal saja tidak cukup menemukan dengan benar identitas
Allah Swt. Karena keterbatasan akal ini, Allah mengutus Rasul untuk
setiap umat secara berkala. Setiap Rasul membawa wahyu dari-Nya, yang
kemudian disebut dengan agama. Maka, apa salahnya kita mengingat pepatah
dari Albert Einstein (1879-1955), “Science without religion is lame,
religion without science is blind.”

Dalam bahasa Arab, alam itu
bisa diartikan sebagai sebuah tanda. Jadi, alam semesta ini merupakan
tanda eksistensi pencipta-Nya, yaitu Allah Swt. Tidak heran, banyak yang
menafsirkan alam sebagai segala sesuatu selain Allah Swt. Dengan agama
dan akal ilmu pengetahuan, kita akan menyadari bahwa semua selain Allah
itu pasti menyimpan tanda-tanda-Nya, yang perlu kita singkap.

Wallahu a’lam bish Showab

Kamis Dini Hari, 03/03/2016 di Ampang, Kuala Lumpur


[1] Tafsir Ibn Katsir, 1/46.
[2] Mafatihul Ghaib, 1/24.
[3] Bahjatul Wasa`il, 1. Namun, Ibnu Katsir menilai riwayat semacam ini unik, masih memerlukan dalil yang benar.
[4] Ma’arijul Qabul karya Syekh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami (w. 1377 H), 1/111.
[5] Allah Jalla Jalaluh karya Syekh Said Hawa, hal. 15.