Kehidupan Penulis Safinah, Syekh
Salim bin Sumair (w. 1271 H/1855 M): Dari Bumi Hadlramaut menuju Tanah
Abang-Batavia       

Sangat
disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun tak mengetahui siapa
yang menulisnya. Terasa ada yang kurang, dan bisa jadi berkah ilmu kita bakal minus.
Sebaliknya, mengenali sang penulis akan menjalin hubungan batin, sehingga
cahaya ilmu yang tertransfer mampu menerangi relung hati pembaca.  Dalam konteks sekarang, kita telah
menyaksikan betapa manfaatnya kitab Safinah. Tidakkah terbenak dalam
hati kita; siapa, sih, sang penulis kitab tersebut?
            Rahasia di balik kedahsyatan Safinah
tentu, antara lain, terletak pada sosok penulisnya. Beliau adalah Syekh
Salim bin ‘Abdillah bin Sumair. Seorang maha guru yang tak hanya bergulat dalam
dunia pendidikan, tapi juga seorang qadli’ nan ahli politik, penasehat
Sultan, sekaligus memiliki keahlian dalam bidang militer.
            Sang Mu’allim
Syekh
Salim dilahirkan di desa Dzi Ashbuh, sebuah wilayah yang berada dalam
lembah Hadlramaut dan di bawah kekuasaan Kerajaan Al-Katsiry (781-1387 H/1379-1967
M). Bin Sumair, yang sekarang di Indonesia -seperti di Solo- lebih dikenal
dengan Bin Semir, merupakan keluarga yang melahirkan banyak tokoh ulama besar,
panutan masyarakat sekitar Hadlramaut, tak terkecuali ayah Syekh Salim. Dengan
bimbingan sang ayah, Syekh Salim telah menguasai Al-Qur`an Al-Karim di usianya
yang masih belia. Beliaupun dipercaya sebagai pengajar Al-Qur`an, hingga diberi
title “Mu’allim”, sebuah gelar kehormatan di wilayah Hadlramaut
untuk seorang yang tekun mengajarkan Al-Quran. Dalam pengamatan Sayyid Umar bin
Hamid Al-Jaylani hafidzahuLlah, gelar “Mu’allim” ini
terinspirasi dari sebuah hadits riwayat Sahabat ‘Utsman bin ‘Affan ra;
“Sebaik-baiknya
kalian adalah sesiapa yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.”
  (HR. Al-Bukhari, no. 5027)
Meski
telah menjadi “guru ngaji”, api semangat belajar Syekh Salim tidak
pernah padam. Kepada sang ayah dan beberapa ulama besar Hadlramaut abad 13 H,
beliau menimba pelbagai ilmu Syariat. Berkat kesungguhan, kecerdasan, dan
tekun, Syekh Salim mendapat kepercayaan untuk ikut mengajarkan berbagai ilmu
bersama para gurunya. Dalam waktu yang tak lama, namanya terkenal bagai mentari
hingga mendapat pujian yang membanggakan dari kalangan guru-guru beliau sendiri,
seperti Syekh Al-‘Allamah Abdullah bin Ahmad Basaudan (1178-1266 H).
Kemelut
Katsiri-Yafi: Ahli Militer, Juru Damai dan Penasihat Sultan
Tidak
berhenti pada prestasi intelektual saja, Syekh Salim juga dikenal sebagai sosok
politikus yang diperhitungkan. Karena keahliannya di bidang militer, beliau
diutus Kerajaan Katsiry ke India untuk mencari senjata perang tercanggih saat
itu. Ini menunjukkan bahwa pada zaman beliau kondisi politik kerajaan sedang
tidak stabil, dan diliputi kemelut peperangan serta perebutan kuasa.
Atas
mandat sultan Katsiry tersebut, Syekh Salim akhirnya bisa mengenal “dunia luar”
dan memulai pengembaraan pertamanya. 
Setelah mengarungi lautan samudera dan melacak berbagai peralatan perang
di berbagai wilayah India dan sekitarnya, beliau menemukan peralatan militer
tercanggih justru di Singapura. Beliau langsung membeli dan mengirimnya ke
Hadlramaut.
Selain
ahli strategi militer, beliau juga dikenal sebagai juru damai antar penguasa.
Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Al-Katsiry memiliki konflik
politik dengan suku Yafi` sejak tahun 926 H. Sepanjang tiga abad lebih sebelum
Syekh Salim lahir, kedua penguasa ini saling berperang demi “rebutan kuasa”
di berbagai wilayah Hadlramaut. Kemelut ini semakin memanas pada era Syekh
Salim. Kisaran tahun 1264 H, daerah kelahiran Syekh Salim, Dzi Ashbuh
dan sekitarnya menjadi saksi bisu pertumpahan darah merah antara pasukan
Katsiry dengan Yafi`.
Demi
kemaslahatan rakyat yang menjadi korban kekuasaan, Syekh Salim memainkan peran
besar dalam rekonsiliasi perdamaian antara Yafi’ dan Kerajaan Al-Katsiry. Di
akhir Rabi’ul Awwal tahun 1265, serangan 800 pasukan Yafi’ untuk menguasai kota
Seyyun mengalami kegagalan telak. Kerajaan Katsiry menang dan menawan banyak
prajurit Yafi’. Akhirnya rekonsiliasi antar pimpinan mereka pun terjadi. Hasil
mufakat memutuskan agar suku Yafi’ harus “diusir-balik” ke daerah asalnya,
timur laut Teluk Aden[1],
tidak boleh bergerilya lagi di wilayah Hadlramaut[2].
Berkat
jasa dan manuver politiknya, Syekh Salim diangkat sebagai penasihat pribadi
Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry[3].
Di awal karier, sang sultan sangat patuh dan tunduk dengan segala arahan dan
nasehat Syekh Salim. Namun, seiring berjalannya waktu dan saratnya kepentingan,
ia enggan mendengar petuah Syekh Salim, bahkan cenderung meremehkannya. Ini
yang menjadikan hati Syekh Salim terluka, hingga mendorongnya untuk hijrah
meninggalkan tanah air menuju India, kemudian menetap di Batavia sebagai akhir
pengembaraan keduanya.
Dari
Bumi Hadlramaut, Berdakwah di Batavia
Kami
belum menemukan tahun berapa Syekh Salim hijrah dan tiba di Batavia. Data
sejarah yang kami dapat hanya menjelaskan bahwa setelah tinggal di Batavia,
sebagai seorang tokoh terpandang, kabar hijrah ini tersebar luas. Masyarakat
pun datang berduyung-duyung untuk menimba ilmu dan memohon doa kepada beliau.
Karena antusias masyarakat setempat, Syekh Salim mendirikan berbagai majelis
ilmu dan dakwah. Dalam berdakwah dan membumikan syariat Islam di Batavia, Syekh
Salim bin Sumair dikenal sangat tegas menegakkan kebenaran, apapun resikonya.
Beliau menyayangkan para ulama yang mendekat, bergaul, apalagi menjadi “budak”
para pejabat Kolonial Belanda yang menguasai Batavia sejak tahun 1621 M. Tidak
jarang beliau memberi nasihat dan kritik tajam kepada para ulama-kiai yang
gemar mondarmandir kepada pemerintahan Belanda.
Dongeng
Martin van: Seteru Syekh Salim dengan Mufti
Betawi Sayyid Utsman
Namun,
perlu kami tegaskan disini ketidaktepatan Martin van Bruinessen. Dalam bukunya,
Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, ia mengungkapkan konflik Syekh Salim bin
Sumair terhapad pendirian Sayyid Utsman bin Yahya (1238-1331
H/1822-1913 M) yang mau menjabat Mufti Betawi. Kritikan dan konflik ini
tidak pernah terjadi, sebab Syekh Salim telah wafat tahun 1271 H/1855 M
terdahulu sebelum Sayyid Utsman bin Yahya memulai dakwahnya di Batavia sekitar
tahun 1862 M/1279 H. Kemungkinan yang bertemu dengan Syekh Salim saat itu
adalah Mufti Betawi sebelum Sayyid Ustman, yaitu Syekh Abdul Ghani (1801-1933 H).
Wallahu a’lam
Terlepas
dari “dongeng” Martin van Bruinessen, Syekh Salim memang dikenal sangat zuhud,
dan anti dengan pemerintah lalim. Ini sudah terbukti dengan tekad hijrahnya
dari Kerajaan Katsiry yang sudah tidak pro-rakyat, apalagi saat di Batavia yang
pemerintahannya adalah penjajah kolonial Protestan Belanda yang anti-Islam.
Kepribadian
dan Akhir Hayat Syekh Salim di Tanah Abang
Selain
keteguhan prinsip, Syekh Salim bin Sumair adalah tipikal ulama Akhirat yang tak
pernah luput berdzikir dan sangat istiqamah melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran. Dikisahkan oleh Syekh Ahmad Al-Hadlrawi, bahwa Syekh Salim senantiasa
mengkhatamkan Al-Quran saat beliau thawaf, mengelilingi Kakbah. Figur
ulama yang perlu kita teladani dan hidupkan kembali spiritnya dalam keseharian
kita.
Beliau
menghabiskan akhir hayatnya di Batavia dengan mujahadah dan dakwah. Pada
tahun 1271 H/1855 M, Syekh Salim bin Sumair terpanggil ke rahmat Allah Swt, dan meninggalkan beberapa karya ilmiah untuk
kita telaah dan amalkan. Diantara warisan ilmu beliau adalah kitab Safinatun
Najah
yang akan menjadi topik pengajian online kita ini, insya Allah, dan
kitab Al-Fawa`id Al-Jaliyyah fiz Zajr ‘an Ta’athil Hiyalir Ribawiyah (Hikmah-hikmah
Jeli di Balik Larangan Saling Memberi melalui Trik-trik Tipudaya Ribawi).
Makam
beliau tidak semasyhur kitabnya, Safinah, padahal sangat mudah untuk
dijangkau. Jasad beliau dikebumikan di bawah Mihrab Masjid Al-Ma’mur, Tanah
Abang, Jakarta-Indonesia. Semoga kita dapat menziarihinya, dan Allah memberi
kita kekuatan untuk mengikuti prinsip perjuangan Syekh Salim bin Sumair, yang
senantiasa Allah rahmati.
Empat
Soalan Historis
Mengakhiri biografi
Syekh Salim, penulis merasa masih banyak misteri yang masih perlu digali lagi.
Meninggalkan banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab,
1) Siapa yang
mengajarkan beliau keahlian militer,
2) Tahun berapa Syekh
Salim pertama kali menuju India dan Singapur untuk mencari peralatan perang
tercanggih,
3) Kebijakan Sultan
Katsiri seperti apa yang menyulut “amarah” Syekh Salim, hingga rela meninggalkan
tanah air tercintanya, bagaimana kronologisnya
4) kapan lagi beliau
sampai di India untuk kedua kalinya, dan kapan pula tiba di Batavia.
Setidaknya,
dengan menjawab empat pertanyaan historis ini, kita akan lebih mengenal sosok
legendaris Syekh Salim bin Abdillah bin Sumair, dan semakin mampu menelusuri
jejak-jejak hikmahnya di balik tirai kehidupan beliau yang sangat menarik.
Sebab, pada abad tiga belas Hijriah hingga sekarang, sangat jarang ditemukan
seorang álim ulama “multi-talenta”: ahli militer, pakar politik hingga
menjadi penasihat Sultan, namun secara misterius meninggalkan seluruh jabatan
duniawi tersebut, lalu berhijrah ke bumi asing nan jauh dari tanah airnya.
Sebagai
penutup, mari kita sama-sama membaca al-fatihah yang dihadiahkan kepada Syekh
Al-‘Allamah Al-Qadli Al-Khabir As-Siyasi Salim bin Abdlillah bin
Sumair, semoga amal kebajikan beliau Allah lipatgandakan balasannya, ruhnya
senantiasa diliputi rahmat rabbaniyyah, dan kita bisa melanjutkan api
perjuangan dakwah beliau di bumi pertiwi. Amiin, ya Rabbal ‘alamin.
Makam Syekh Salim bin Sumair (Pengarang Kitab Safinah Najah)

Baca Juga  Anjuran Menikah dalam Al-Quran (Pendahuluan Kitab Qurratul Uyun)
[1] Lihat:
https://ar.wikipedia.org/wiki/%D9%8A%D8%A7%D9%81%D8%B9
[2] Lebih lengkap, baca:
http://samaaden.org/articles/s/646
[3] Dalam pengantar Syarh
Ad-Durratul Yatimah
, Sayyid ‘Umar bin Hamid Al-Jaylani hafidzahLllah
menuturkan nama Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry, yang otomatis berkuasa
pada tahun 1265-an. Namun, setelah kami lacak dalam sejarah Kerajaan
Al-Katsiry, Sultan Katsiry saat itu adalah Sultan Ghalib bin Muhsin Al-Katsiry
dengan masa kekuasaan sejak tahun 1261 H/1845 M hingga wafat pada 1287 H/1870
M. Versi lain menyatakan tahun wafatnya 1853 M di Arafat saat menunaikan ibadah
Haji.
Jadi, siapa sultan Katsiry yang menjadikan Syekh Salim
bin Sumair sebagai penasihatnya? Wallahu a’lam. Ini memerlukan kajian
lebih teliti dan referensi yang lebih. Semoga ke depan ada yang menelitinya
lebih jeli. Amin,