kalamulama.com - Hukum Pernikahan, siapa yang tidak ingin merasakan indahnya sebuah pernikahan? Pernikahan bukan semata-mata merupakan takdir maupun siklus kehidupan. Pernikahan menjadi bergitu bernilai karena banyak sekali keberkahan di dalamnya. Pernikahan sendiri merukan sebuah ibadah yang digambarkan dapat menyempurnakan separuh iman seseorang. Tapi pernahkah kita tahu jika pernikahan bukan hanya menjadi sebuah anjuran. Ternyata hukum nikah itu terbagi menjadi 5, yaitu: Wajib, Hukum pernikahan menjadi wajib bagi orang yang mengharapkan keturunan dari pernikahan tersebut dan takut akan berbuat zina jika tidak menikah. Sunnah, Hukum awal pernikahan, bagi orang yang mengharapkan keturunan dari pernikahan tersebut dan ia tidak takut akan berbuat zina jika tidak nikah, baik dia ingin atau tidak, meskipun pernikahannya akan mengganggu keistiqomahan ibadah yang tidak wajib yang biasa ia lakukan. Makruh, Bagi orang yang tidak ingin menikah dan tidak mengharapkan keturunan dari hasil pernikahan serta pernikahannya dapat memutuskan ibadah yang tidak wajib. Mubah, Bagi orang yang tidak takut melakukan zina, tidak mengharapkan keturunan dari hasil pernikahan dan tidak memutuskan ibadah yang tidak wajib. Haram, Bagi orang sebab pernikhan tersebut akan membahayakan sang istri karena tidak mampu memberikan nafkah baik lahir maupun batinatau memiliki pekerjaan haram, meskipun ia ingin menikah dan tidak takut berbuat zina.            Pembagian hukum ini juga berlaku bagi seorang wanita dan menurut Ibnu Arofah menjadikan wajibnya menikah bagi wanita yang lemah dalam memelihara dirinya dan tidak ada benteng lain kecuali menikah.           Pembagian hukum pernikahan di atas menurut Syaikh al-Alamah al-Hadari dalam bait-bait beliau yang ber-bahar rajaz sebagai berikut: واجب على الذى يخشى الزنا # تزوج بكل حال امكنا
kalamulama.com – Kajian Qurratul ‘Uyun #3 Hukum-hukum pernikahan – siapa yang tidak ingin merasakan indahnya sebuah pernikahan? Pernikahan bukan semata-mata merupakan takdir maupun siklus kehidupan. Pernikahan menjadi bergitu bernilai karena banyak sekali keberkahan di dalamnya. Pernikahan sendiri merukan sebuah ibadah yang digambarkan dapat menyempurnakan separuh iman seseorang. Tapi pernahkah kita tahu jika pernikahan bukan hanya menjadi sebuah anjuran. Ternyata hukum nikah itu terbagi menjadi 5, yaitu:
  1. Wajib, Hukum pernikahan menjadi wajib bagi orang yang mengharapkan keturunan dari pernikahan tersebut dan takut akan berbuat zina
    jika tidak menikah.
  2. Sunnah, Hukum awal pernikahan, bagi orang yang mengharapkan keturunan dari pernikahan tersebut dan ia tidak takut akan berbuat zina jika tidak nikah, baik dia ingin atau tidak, meskipun pernikahannya akan mengganggu keistiqomahan ibadah yang tidak wajib yang biasa ia lakukan.
  3. Makruh, Bagi orang yang tidak ingin menikah dan tidak mengharapkan keturunan dari hasil pernikahan serta pernikahannya dapat memutuskan ibadah yang tidak wajib.
  4. Mubah, Bagi orang yang tidak takut melakukan zina, tidak mengharapkan keturunan dari hasil pernikahan dan tidak memutuskan ibadah yang tidak wajib.
  5. Haram, Bagi orang sebab pernikhan tersebut akan membahayakan sang istri karena tidak mampu memberikan nafkah baik lahir maupun batinatau memiliki pekerjaan haram, meskipun ia ingin menikah dan tidak takut berbuat zina.
Pembagian hukum ini juga berlaku bagi seorang wanita dan menurut Ibnu Arofah menjadikan wajibnya menikah bagi wanita yang lemah dalam memelihara dirinya dan tidak ada benteng lain kecuali menikah.
Pembagian hukum pernikahan di atas menurut Syaikh al-Alamah al-Hadari dalam
bait-bait beliau yang ber-bahar rajaz sebagai berikut:
واجب على الذى يخشى الزنا # تزوج بكل حال امكنا
“Wajib bagi yang takut berbuat zina # untuk menikah kapan saja waktunya asal memungkinkan”
وزيد فى النساء فقدالمال # وليس منفق سوى الرجال
“Menikah wajib bagi wanita yang tidak memiliki harta # karena tidak ada kewajiban memberi nafkah selain bagi pria”.
وفي ضياع واحب والنفقة # من الخبيث حرمة متفقة
“Jika kewajiban itu diabaikan, atau nafkah istri # dari jalan haram, para ulama sepakat menikah hukumnya haram”.
لراغب او راجى نسل يذنب # وان به يضيع مالايجب
“Bagi yang Ingin menikah atau ingin punya anak disunahkan untuk menikah # walaupun amal yang tidak wajib menjadi sia-sia karena nikah”.
ويكره انبه يضبع النفل # وليس لفيه رغبة اونس
“Dan di makruhkan menikah apabila bisa meninggalkan ibadah yang sunah # sedang ia tidak ingin menikah dan tidak ingin punya keturunan”.
وان انتفي ما يقتضى حكما مضى # جازالنكاح بالسوى المرتضى
“Apabila yang menyebabkan hukum tidak ada # maka menikah atau tidak hukumnya mubah”.
Adapun pertanyaan tentang lebih utama menikah atau tidak menikah, demi agar giat
beribadah? Menurut pendapat yang paling kuat adalah menggabungkan kedua-duanya.
Karena menikah tidak menjadi penghalang bagi keistiqamahan suatu ibadah.
Wallahua’lam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here