Qurratul Uyun merupakan kitab
buah karya Syaikh Muhammad At-Tahami bin Madani. Kitab ini merupakan
kitab penjabaran yang menguraikan karya Syaikh al imam al alim al alamah
al hammam abi Muhammad Sayid Qosim bin Ahmad bin Musa bin Yamun at
Talidi al Akhmasyi. Merupakan kitab yang mengulas segala sisi yang
berkaitan dengan syariat nikah, etika pernikahan, sunah-sunah nikah, dan
hal hal yang membahagiakan dalam pernikahan.

Di dalam Alqur’an telah disebutkan bahwa Allah memerintahkan para
hamba-Nya dan melarang mereka melakukan zina. Pernikahan merupakan
karunia dan rahmat dari Allah bagi hamba-Nya yang beriman. Pernikahan
adalah benteng yang kokoh tempat yang menjaga manusia dari
ketergelinciran ke lembah dan jurang kehinaan serta godaan setan yang
terkutuk.

Pentingnya pembahasan tentang pernikahan ternyata telah jauh dipikirkan
oleh Syaikh At-Tahami beberapa dekade lampau, sampai pada akhirnya
tersusunlah risalah yang berjudul “Qurratul Uyun syarah Nazam Ibnu
Yamun”. Qurratul Uyun berisikan penjabaran dari Nadzam-nadzam Syaikh
Ibnu Yamun yang berbahar (sajak) Rojaz.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam untaian penjelasan tentang mahligai
pernikahan, seperti halnya para Masyayikh pengarang kitab-kitab yang
masyhur, beliau sangat memperhatikan adab. Dalam penyusunan kitab ini
misalnya Syaikh at-Tahami mengawalinya dengan bacaan basmalah, hamdalah,
sholawat atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan kerabatnya


بسم الله الرحمن الرحمن الرحيم

الحمد لله على الدوام # ثم صلته مع السلام

“Segala puji bagi Allah untuk selamanya # kemudian Rahmat beserta Salamnya”

على امام الرسل والامبياء # محمد والال والابناء

“Semoga dilimpahkan kepada pemimpin Rasul dan para Nabi # Muhammad dan keluarga dan keluarga beliau

Pentingnya mengawali segala perkara dengan lafal basmalah bukan tanpa dasar. Merujuk pada hadits musalsal, Barang siapa membaca Bismillahirrahmanirrohim,
kemudian dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah sekali saja, maka
saksikanlah oleh kamu bahwa aku telah memaafkannya, semua amal
kebaikannya Aku terima, semua perbuatan jeleknya telah Aku ampuni, Aku
tidak akan membakar lidahnya di dalam api neraka dan Aku selamatkan dia
sari siksa kubur, siksa neraka, dan siksa pada hari kiamat”


Keutamaan membaca basmalah ini tentunya benar dipahami oleh para
mushonnaif kitab-kitab kuning, terlebih oleh Syaikh at-Tahami. Sebagian
ulama Rahimahullah menuturkan, “Disunnahkan memulai membaca Alhamdulillah
setiap kali menyusun buku, mempelajari ilmu, berkhotbah, menikah dan
lainnya. Pujian kepada Allah SWT ini ibarat hadiah dari orang yang
hendak meminta pertolongan sebelum permintaanya disebutkan, dengan
harapan permintaannya itu akan dikabulkan. Adapun maksud dari bacaan
hamdalah itu sendiri adalah “Pujian atas Allah dengan sebaik baiknya
usaha dengan jalan mengagungkan dan memuliakan-Nya.

Imam Qurtubi berkata mengenai sabda Nabi Muhammad SAW : “Ucapan Alhamdulillah bisa memenuhi timbangan amal”. Maka barang siapa yang memuji Allah dengan menghadirkan makna Alhamdulillah
secara mendalam pada hatinya maka timbangan amalnya akan penuh dengan
kebaikan, dalam artian jika lafal hamdalah memiliki wujud benda maka ia
akan memenuhi timbangan amal tersebut.

Pembahasan mengenai Alhamdulillah juga sangat masyhur, diantaranya adalah :

– Imam Hakim dan Baihaqi telah mengeluarkan hadis dari Jabir
ra, berkata Jabir ra, bahwasanya Nabi Muhammad saw telah bersabda : ”
tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba, kemudian ia berkata Alhamdulillah, kecuali Allah telah menilai ia telah mensyukuri nikmat tersebut. Apabia ia mengucapkan Alhamdulillah yang kedua kali, maka Allah akan memberinya pahala yang baru lagi, apabila ia mengucapkan Alhamdulillah yang ketiga kalinya, maka Allah akan mengampuni dosa dosanya”.

– Imam Addailimi telah menyebutkan sebuah hadis dari Ibnu umar
ra, bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda: ” Perbanyaklah kalian membaca
Alhamdulillah, karena sesungguhnya bacaan Alhamdulillah
itu, mempunyai dua mata dan dua sayap, yang selalu berdoa di dalam surga
dan memohon ampunan bagi pembacanya sampai hari kiamat”.

– Imam Thobroni telah mengeleuarkan sebuah hadis dari Abi
Amamah ra, bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda: ” Tidaklah Allah
memberi sebuah nikmat kepada seorang hamba, kemudian ia memuji
kepada-Nya, melainkan pujian itu lebih utama dari nikmt tersebut,
meskipun nikmat tersebut sangat besar”.

– Ibnu Asyakir telah mengeluarkan sebuah hadis dari Anas ra,
bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda: “Andai kata seisi dunia dikuasai
oleh seorang laki laki dari umatku, kemudian ia mengucapkan Alhamdulillah, maka ucapan Alhamdulillah itu lebih utama dari dunia dan isinya itu”.

– Dan di dalam satu hadis, “Barang siapa membaca SUBHANALLAH,
maka ditetapkan baginya 10 kebaikan dan barang siapa membaca LAA ILAHA
ILLALLAH, maka ditetapkan baginya 20 kebaikan dan barang siapa yang
membaca ALHAMDULILLAH maka ditetapkan baginya 30 kebaikan. hadis
tersebut tidak bertentangan dengan hadis, “Kalimat yang paling baik yang
diucapkan olehku dan para Nabi sebelumku adalah LAA ILAHA ILLALLAH”.
Sebab TASBIH dan TAHMID adalah TAHLIL, bahkan dengan tambahan.

Imam Khotib berkata: “Kata ALHAMDULILLAH memiki 8 huruf dan pintu pintu
surga memiiki 8 pintu, maka barang siapa yang membaca ALHAMDULILLAH,
maka dibukakan untuknya 8 pintu pintu surga tersebut. Kemudian seorang
hamba harus mengetahui, bahwa dirinya lemah dalam memuji dan bersyukur
kepada Allah, disamping itu ia juga tidak akan mampu menghitung pujian
dan syukurnya kepada Allah. dan karena itulah Nabi Muhammad saw
bersabda: “Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, sebagaimana
Engkau memuji Dzat-Mu sendiri “.

Diriwayatkan pula, bahwasanya Nabi Musa as berkata: ” Ya Tuhanku,
kapankah aku bisa menghaturkan pujian dan syukur kepada-Mu, sedangkan
pujian dan syukurku adalah nikmat dari-Mu juga”. Maka Allah berfirman
kepada Nabi Musa as, ketika kamu mengerti bahwa dirimu tidak akan mampu
memuji-Ku, maka itu bertanda bahwa dirimu telah benar benar memuji-Ku.
Dan diriwayatkan dari Sayyidina Nabi Daud as, bahwasanya ia berkata: “Ya
tuhanku tidak ada satu rahmat pun pada diri anak Adam, kecuali diatas
dan dibawah rambut itu ada nikmat, maka dengan apa anak Adam dapat
mensyukuri nikmat itu.”Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Daud, “Hai
Daud, sesungguhnya Aku telah memberikan nikmat yang sangat banyak, namun
Aku rela dengan pujian yang sedikit, dan sesungguhnya, syukurmu atas
nikmat itu adalah kamu mengerti dan mengakui, bahwa nikmat nikmat yang
telah kamu terima itu semuanya dari-Ku.”