Awal mula rokok di kenal oleh Negara-Negara Islam itu bermula dari Amerika, yang kemudian menyebar ke benua Eropa pada abad ke-16 M. Sejak saat itu pula, para ulama mulai membahasnya, banyak sekali tulisan-tulisan para ulama saat itu tentang merokok, ada yang mengharamkannya dan ada juga yang menghalalkan. Sebagaimana para dokter juga sangat antusias dalam meneliti kandungan yang ada di dalamnya dan menjelaskan ke khalayak umum mengenai dampaknya bagi kesehatan.

Tentang merokok, terdapat tiga pendapat :

  1. Haram secara mutlak. Mereka yang berpendapat demikian beristinbat dari banyak nash baik al Qur’an maupun al Hadits. Diantaranya ويحرم عليهم الخبائث “Dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka” (al A’raf : 157). Karena merokok itu buruk maka hukumnya haram. kemudian ولاتقتلوا أنفسكم “Dan janganlah kamu membunuh dirimu” (an Nisa : 29). Telah tercatat dalam sejarah banyak orang meninggal dikarenakan penyakit yang timbul akibat merokok, maka hukumnya haram. Kemudian ولاتبذر تبذيرا “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan -hartamu- secara boros” (al Isra’ : 26). Membelanjakan harta untuk rokok termasuk menghambur-hamburkan harta, maka di larang. Juga dari sabda Nabi SAW : لاضرر ولاضرار “Tidak ada bahaya dan tidak ada kerusakan” di dalam Islam. Merokok itu membahayakan menurut para ahli, maka tidak diperbolehkan dalam Islam. Kemudian sabda Beliau : إن الله نظيف يحب النظافة “Allah itu Dzat yang bersih dan menyukai kebersihan”. Asap rokok itu tidak bersih, maka tidak disukai oleh Allah atau dengan kata lain diharamkan. Dan sabda Beliau : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Kiamat, maka jangan menyakiti -orang- sekitarmu”. Dan asap perokok itu mengganggu dan menyakiti orang-orang disekitarnya, maka dengan demikian ia di larang.
  2. Halal, mereka yang berpendapat demikian berdasar pada hukum asal bahwa segala makanan dan minuman itu mubah atau halal selama tidak ada nash yang mengharamkannya, atau masuk dalam kriteria suatu kaidah yang berakibat hukum haram, atau disebabkan qiyas (penyamaan) kepada yang lain yang diharamkan. Dan dalam permasalahan merokok semua itu tidak ada.

Kemudian kelompok kedua ini juga menyanggah dalil-dalil dari kelompok pertama dengan menyatakan bahwa semua alasan yang diungkapkan oleh kelompok pertama itu dzonniyah (masih sangkaan), maka tidak bisa menunjukkan keharaman.

Karena merokok belum tentu masuk dalam kategori الخبائث . Kematian yang disebutkan juga tidak terjadi kepada setiap orang dan setiap keadaan perokok, sehingga tidak bisa digunakan sebagai acuan. Kemudian hal yang mengandung ضرر juga tidak mesti diharamkan karena bisa jadi hanya sampai batas makruh, begitu juga الإيذاء .

  1. Dengan perincian, bisa menjadi haram juga bisa menjadi halal.

Pertama : merokok itu haram jika si perokok sebab dengan merokok tersebut mengalami gangguan kesehatan yang jelas. Maka baginya merokok itu haram. Sehingga berbeda hukum satu orang dengan yang lainnya tergantung ada tidaknya illat (alasan). Juga hukumnya haram ketika dia menjadi tidak bisa mengatur uang (الإسراف) , menjadi boros membelanjakan hartanya untuk membeli rokok padahal banyak kebutuhan yang lain yang lebih penting dan wajib baginya.

Kedua : merokok hukumnya makruh jika dua alasan pengharaman di atas tidak ada, gangguan kesehatan dan gangguan keuangan. Dihukumi makruh karena merokok itu condong dengan kerusakan-kerusakan di atas, juga karena bau asapnya yang sering mengganggu orang disekitarnya. Sehingga hal ini mirip dengan permasalahan kebanyakan makan bawang putih dan bawang merah yang termuat dalam hadits Nabi SAW من أكل ثوما أو بصلا فليعتزلنا أو فليعتزل مسجدنا ، وليقعد في بيته “Barang siapa makan bawang putih atau bawang merah (sehingga tidak sedap bau mulutnya) maka hendaknya ia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami dan berdiam saja di rumah”.

Dan juga, banyak hal-hal yang lebih utama dan bermanfaat untuk kita beri anggaran dana dari pada uangnya kita belanjakan untuk membeli rokok. Serta, hukum merokok dimakruhkan dengan berlandaskan تورع (sikap sangat hati-hati dengan hal yang diharamkan), karena sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa hukum dari merokok adalah haram.

Adapun saya (Syeikh Athiyah Shoqr, sang pengarang kitab, Mufti Mesir pada masanya) lebih condong kepada pendapat yang ketiga ini, yang menyatakan dengan perincian di atas. Tetapi menurut pendapat saya, hukum makruh di sana bukan makruh tanzih, tapi makruh tahrim. Maksudnya yaitu si perokok tetap berdosa walaupun dalam keadaan yang kedua, tetapi hukumannya tidak seberat hukuman dari dosa yang ditimbulkan dalam keadaan pertama (penyebab hukum haram).

Wallahu A’lam.

____

Sumber : Mausu’ah Ahsanil Kalam fil Fatawa wal Ahkam Syekh Athiyah Shoqr