Oleh : Zuhal Qobili

Fatwa adalah  إخبار عن حكم الله , menyampaikan tentang hukum Allah. Maka, bagaimana hukumnya menyampaikan hukum-hukum Allah tanpa landasan pengetahuan (ilmu)?

                Allah berfirman dalam surat al Isra ayat 85 “Sedangkan kalian tidak diberikan ilmu melainkan sedikit”, surat Yusuf ayat 76 “Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui”, surat Taha ayat 114 “Dan katakanlah : ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku”, surat an Nahl ayat 43 “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”, dan an Nahl ayat 116 “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta : ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung”.

                Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda “Sesungguhnya Allah tidak menghilangkan ilmu serta merta dengan merenggutnya dari hati manusia, melainkan dengan merenggut para ulamanya sehingga tidak sersisalah orang alim, yang kemudian manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin, maka mereka berfatwa tanpa ilmu, tersesat dan menyesatkan”. Juga bersabda “Yang paling sembrono dengan fatwa adalah yang paling tidak berhati-hati dengan neraka”. Juga “Sesungguhnya Nabi Isa AS pernah bersabda : perkara itu ada tiga, perkara yang jelas baiknya maka ikutilah, perkara yang jelas buruknya maka tinggalkanlah dan perkara yang masih diperselisihkan maka tanyakanlah kepada orang alim”. Dan bersabda “Tidakkah mereka bertanya ketika tidak mengetahui? Sesungguhnya obat ketidak mampuan adalah bertanya”.

                Di atas adalah beberapa nash yang menunjukkan bahwa manusia sepintar apapun dia tidak akan mungkin mampu mengetahui semuanya, dan orang yang tidak tahu tentang hukum maka wajib baginya bertanya kepada ahlinya, serta barang siapa berfatwa tanpa ilmu sungguh dia telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah dan Rasulnya, tersesat dan menyesatkan. Dan barang siapa mengajarkan keburukan (kesesatan) maka baginya dosa keburukan tersebut dan dosa orang yang mengerjakan apa yang diajarkannya sampai hari kiamat, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

                Sehingga, tidak boleh bagi siapapun berfatwa tanpa ilmu, juga tidak boleh fanatik (ta’assub) terhadap suatu pendapat mujtahid yang belum ditelaah juga pendapat-pendapat lainnya yang berbeda dari para mujtahid lain tentang masalah tertentu.

                Nabi SAW pernah di tanya tentang ruh, ahlul kahfi dan Zulkarnain tetapi beliau tidak berani serta merta menjawab pertanyaan tersebut sampai datang wahyu kepadanya, tidak menghiraukan apa yang dicibirkan musyrikun dan para musuhnya karena wahyu tidak kunjung turun untuk menjawabnya. Ketika di tanya tentang hal lain Nabi pun pernah bersabda “nanti sampai aku bertanya kepada Jibril”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Demikianlah Nabi SAW berhenti sampai batas pengetahuannya, mengajarkan kepada kita manusia setelahnya bagaimana adab menyebarkan pengetahuan dan menjawab pertanyaan.

                Dari sejarah kita juga tahu bahwa sebagian sahabat Nabi ketika mereka di tanya mereka lebih suka menyerahkannya kepada sahabat yang lain untuk menjawabnya, dan bahwa Abu Bakar pernah berkata : langit mana yang akan meneduhiku, bumi mana yang akan aku pijaki, kemana aku akan pergi dan apa yang akan aku perbuat jika aku berkata tentang satu huruf dalam al Qur’an (tanpa ilmu) dan tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah SWT?

                Maka, kata لا أدري “saya tidak tahu” bagi ulama salaf mempunyai tempat yang sangat tinggi dan menjadi kata yang sangat biasa diucapkan. Dalam sebuah riwayat dikatakan, ilmu itu ada tiga : al Qur’an, as Sunah dan kata لا أدري .

            Ibnu Mas’ud berkata : perisai orang alim adalah لا أدري

            Ibnu Umar pernah di tanya tentang 10 masalah dan hanya berani menjawab satu di antaranya secara langsung. Imam Malik pernah di tanya 48 masalah dan menjawab 32 pertanyaan di antaranya dengan mengatakan لا أدري .

            Cerita-cerita di atas merupakan teladan dari para ulama salaf, bagaimana mereka sangat takut berfatwa sembarangan tanpa ilmu, di samping mereka tahu betul kewajiban menyampaikan ilmu dan larangan menyembunyikannya.

            Maka, mari kita saling mengingatkan dengan sesama agar lebih berhati-hati ketika berbicara, menyampaikan ilmu sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki, dan tidak terlalu fanatik dalam masalah-masalah ijtihadi. Mari kita landasi keilmuan kita denga penuh ikhlas kepada Allah, jauh dari riya dan sombong, terlepas dari tujuan-tujuan tidak baik, agar kita lebih amanah ketika menyampaikannya.

Wallahu A’lam.

____

Sumber : Mausu’ah Ahsanil Kalam fil Fatawa wal Ahkam Syekh Athiyah Shoqr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here