Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Ummi Hani binti Abi Thalib mendatangi Nabi Muhammad SAW pada hari Fathu Makkah, dan beliau mengucapkan salam kepada Nabi.
           Diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzi dari Atha’ al Khurosani sabda Rasulullah SAW, ليس للنساء سلام ولا عليهن سلام “Perempuan tidak perlu mengucap salam juga tidak perlu diucapi salam”.
          Dengan demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa tidak boleh mengucapkan salam kepada lawan jenis secara mutlak, bersandar kepada hadits yang diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzi. Namun, jumhur ulama berpendapat, jika dalam mengucap salam kepada lawan jenis dikhawatirkan timbul fitnah (Daya tarik, Godaan, Kegaduhan, Cobaan) maka tidak boleh hukumnya mengucap salam permulaan maupun menjawabnya. Maka, wanita yang cantik tidak boleh diucapi salam. Seandainya ada laki-laki yang menyalaminya dia tidak wajib menjawabnya, bahkan tidak boleh. Dan dia juga tidak boleh mengucap salam permulaan kepada laki-laki. Seandainya dia mengucap salam permulaan, tidak wajib bagi laki-laki yang disalaminya untuk menjawab, seandainya menjawab maka hukumnya makruh. Adapun jika dalam mengucap salam kepada lawan jenis aman dari fitnah maka boleh boleh saja. Seperti mengucap salam kepada lawan jenis yang sudah tua atau kepada mahram, bersandar kepada hadits Ummi Hani.
          Yang di atas tadi adalah hukum mengucap salam kepada lawan jenis jika keduanya sendirian. Adapun ucapan salam seorang laki-laki kepada kumpulan perempuan hukumnya adalah boleh, bahkan dikatakan bahwa hukumnya adalah sunah dan wajib bagi kumpulan perempuan tersebut untuk menjawab salamnya, karena aman dari fitnah. Dalilnya yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melintasi sekumpulan perempuan yang sedang duduk di masjid dan Nabi menyampaikan salam kepada mereka dengan melambaikan tangannya.
           Adapun ucapan salam sekumpulan laki-laki kepada perempuan yang sendirian hukumnya tidak boleh kecuali ketika aman dari fitnah. Dalilnya yaitu bahwa dulu pernah sekumpulan sahabat Nabi saat pulang dari sholat jum’at menjumpai perempuan tua di tengah perjalanan, dan mereka mengucapkan salam kepadanya. Demikian hukum mengucap salam kepada lawan jenis.
          Adapun berjabat tangan dengan lawan jenis maka hukumnya tidak boleh karena lebih berpotensi menimbulkan fitnah dari mengucap salam. Dan Nabi Muhammad SAW tidak berkenan berjabat tangan saat di bai’at oleh para perempuan. Nabi juga pernah menyatakan bahwa tangan juga berzina, yaitu ketika tangan laki-laki menyentuh perempuan ajnabi, sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Nawawi, dan beliau tidak mengecualikan apapun selain mahram dan orang yang sudah tua. Namun ada juga yang menyatakan bahwa hukumnya makruh, tidak sampai haram. Akan tetapi sandarannya lemah sebagaimana yang di nukil oleh Imam Qurthubi dari Ibn Arabi dalam tafsir surat al-Mumtahinah.

Sumber: Mausu’ah Ahsanil Kalam fil Fatawa wal Ahkam Syekh Athiyah Shoqr