Oleh : Zuhal Qobili

Dalam takhrijnya Imam al Iroqi terhadap hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumi ad Din karya Imam al Ghozali, disebutkan bahwa hadits ini terdapat dalam kitab Amaalii Ibni Mandah dari riwayat Ibni al Mughiroh al Qowwas dari Abdullah bin Umar dengan sanad dloif. Tapi mungkin yang di maksud adalah Abdullah bin Amr karena Ibnu al Mughiroh tidak meriwayatkan selain dari Abdullah bin Amr. Kemudian hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Mansur ad Dailami dalam kitab Musnad al Firdaus dari riwayat Abdullah bin Abi Aufa. Dan dalam silsilah rowinya terdapat Sulaiman bin Amr an Nakh’i, salah satu kadzibin.

Maka dengan demikian hadits نوم الصائم عبادة ini statusnya bukanlah hadits Shohih juga bukan Hasan dari Nabi SAW, melainkan hadits Dloif atau bahkan mungkin Maudlu’. Namun, dengan tanpa melihat dari sisi sanad hadits ini, ada dua hal penting yang hendaknya diketahui berkaitan dengan tafsiran hadits ini.

Yang pertama : jika seseorang yang berpuasa dengan bangunnya kemudian bermuamalah dengan orang lain biasanya menyebabkan dirinya melakukan hal-hal yang tidak baik seperti berbohong, bergosip (ghibah), memandang hal-hal yang di larang dan sebagainya dan dengan tidur dia bisa terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk tersebut, maka tidurnya tersebut merupakan suatu amal ibadah. Dia merupakan ibadah salbiyah sebagaimana sedekahnya orang yang tidak punya apa-apa dengan menahan diri dari perbuatan buruk, Nabi SAW bersabda فليمسك عن الشر فإن إمساكه عن الشر صدقة “hendaknya (orang yang tidak mampu bersedekah dengan harta) senantiasa menjauhi hal-hal yang buruk, karena menjauhi hal-hal buruk adalah sedekah”. Maka tidurnya orang yang berpuasa dalam koridor ini merupakan suatu bentuk ibadah jika diniatkan.

Baca Juga  Anjuran Menikah dalam Al-Quran (Pendahuluan Kitab Qurratul Uyun)

Yang kedua : jika seseorang yang berpuasa dengan tidurnya menyebabkan dia tidak bisa melakukan banyak hal positif, padahal Islam mewajibkan manusia untuk memanfaatkan kekuatan dan kemampuannya untuk digunakan dalam hal-hal yang baik. Islam juga mengajari untuk berlindung dari sifat lemah dan malas ketika berdoa, sehingga Islam adalah agama yang menyukai gerak, kerja dan karya. Dan orang yang berpuasa mampu untuk bergerak, bekerja juga berkarya sesuai batas kemampuannya. Para sahabat Nabi SAW pun tidak lantas bermalas-malasan ketika sedang berpuasa. Bahkan sebaliknya, banyak peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah yang terjadi pada bulan Ramadhan yang merupakan bulan puasa, diantaranya adalah perang Badar dan Fathu Makkah. Maka, jika tidur seseorang yang berpuasa itu tidak dalam rangka menjauhi hal-hal yang dilarang Allah melainkan sebaliknya membuat orang yang berpuasa lebih sedikit gerak, kerja dan karya positifnya, tidurnya tersebut adalah suatu perbuatan yang tidak baik, sama sekali bukan ibadah.

Dan hendaknya diketahui, amal baik yang dikerjakan dalam keadaan puasa apalagi pada bulan Ramadhan, pahalanya itu berlipat-lipat. Dalam hadits disebutkan, barang siapa melaksanakan perbuatan sunah dalam bulan Ramadhan maka pahalanya seperti melaksanakan perbuatan wajib di selain Ramadhan, dan barang siapa melaksanakan satu perbuatan wajib pada bulan Ramadhan maka pahalanya seperti melakukan 70 kalinya di selainnya.

Baca Juga  Ngaji Gus Baha April 2019 Tentang Kitab Syajarah al-Ma'arif