اللهم صل وسلم وبارك عليه

Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)

وَمَا عَسٰى أَنْ يُقَالَ فِيْمَنْ وَصَفَهُ الْقُرْاٰنُ

Mudah-mudahan kata-kata pujian selalu diucapkan untuk Nabi yang sifat-sifatnya telah disebut dalam al-Qur’an.

وَأَعْرَبَ عَنْ فَضَائِلِهٖ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيْلُ وَالزَّبُوْرُ وَالْفُرْقَانُ

Telah diuraikan pula tentang keutamaannya dalam Taurat, lnjil, Zabur dan Furqon

  وَجَمَعَ اللهُ لَهٗ بَيْنَ رُؤْيَتِهٖ وَكَلاَمِهِ

Dan Alloh telah mengumpulkan kepada beliau antara memandang Dzat-Nya dan menerima Firman-Nya.

وَقَرَنَ اسْمُهٗ مَعَ اسْمِهٖ تَنْبِيْهًا عَلىٰ عُلُوِّ مَقَامَهِ

Juga menyertakan sebutan nama-Nya dengan nama Nabi, yang merupakan peringatan akan ketinggian derajatnya.

وَجَعَلَهٗ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَنُوْرًا

Dan Alloh menjadikan beliau sebagai rahmat dan cahaya kepada seluruh alam dengan sebab kelahirannya,

وَمَلَأَ بِمَوْلِدِهِ الْقُلُوْبَ سُرُوْرًا

maka Alloh penuhi hati manusia dengan rasa gembira.

Keterangan:

Jikalau ada pertanyaan, Siapakah yang menjadi “sebab” orang-orang Anshor masuk Islam kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam?

Maka jawabannya adalah, ABU LAHAB dan ABU JAHAL

Kenapa Abu Lahab dan Abu Jahal?

Sebab pada musim haji, merekalah yang telah bersusah-payah memberi tahu orang-orang yang datang melalui pintu Makkah dengan maklumat seperti ini;

“Hai fulan, nanti di Makkah akan ada orang, namanya Muhammad, dia gila, dia tidak waras, kalau dia berbicara jangan kamu dengar”

Adalah fitrah bagi setiap manusia memiliki sifat (hubbul istithla’) atau “rasa ingin tahu / penasaran / kepo”.

Demikian juga yang dialami oleh orang-orang Anshor pada saat itu manakala mendengar ucapan Abu Jahal, namun ternyata rasa penasaran itu justru mengantarkannya menuju cahaya hidayah Alloh, yaitu al-Islam.

Tanpa disadari oleh Abu Jahal, stigma negatif yang dilontarkan olehnya, pada hakikatnya justru memperkenalkan Rosululloh kepada orang-orang yang tak kenal.

Lihatlah! bagaimana Alloh Subhanahu Wa Ta’ala apabila ingin menghina suatu kaum, maka hinalah kaum itu dan menjadi sebab hidayah bagi orang lain.

Bukan itu saja, perasaan hasad dan dengki Abu Jahal terhadap baginda Nabi. Menyebabkan ia tak henti-hentinya menyakiti baginda beserta para pengikutnya.

Bahkan ketika Nabi Muhammad terpaksa meninggalkan kota Makkah untuk berhijrah ke Madinah, Abu Jahal adalah manusia yang paling gembira. Seolah-olah dia telah mencapai kemenangan besar karena berhasil mengusir musuh ‘bebuyutannya’ keluar dari Makkah.

Menghadapi kondisi demikian, baginda Nabi dengan akhlak mulianya tak pernah berputus asa dalam menyeru dakwah kepada Abu Jahal. Bahkan dikatakan, beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pernah menjadi tamu Abu Jahal sebanyak 70 kali semata-mata demi tujuan dakwah dan berbuat baik terhadap sesama manusia.

Sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, “Sungguh yang paling kucintai diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (Shohih Bukhori)

Sayyidil Habib Musa al-Kadzim bin Ja’far Assegaf dalam taushiyahnya di Majelis Rasulullah SAW pada 23 Maret 2009, ketika mensyarahkan hadits tersebut, beliau mengatakan bahwa apabila kita ingin dijadikan orang-orang yang paling dicintai oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, ini adalah jalur yang paling cepat yaitu dengan memperbagus akhlak (budi pekerti) kita sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Ketahuilah! Bentuk dan rupa yang dzhohir, apabila rupa kita kurang baik, niscaya ketika meninggal dunia, maka bentuk dan rupa yang tidak baik itu akan berakhir.

Akan tetapi bentuk dan rupa yang bathin (yang tidak terlihat kecuali oleh orang-orang tertentu yang diizinkan Alloh), yaitu berupa akhlak yang mulia, akan terus terbawa hingga nanti di hari kiamat berjumpa dengan Alloh Ta’ala.

Sebagaimana merawat diri, maka kita pun diajarkan oleh baginda Nabi  untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti kita.

Selain itu, al-Habib Musa juga menegaskan bahwa apabila seseorang ingin berakhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, disamping ia berusaha, maka jangan lupa untuk memohon dan berdoa kepada Alloh Ta’ala sebagaimana Nabi Muhammad berdoa kepada Alloh agar diberikan petunjuk dan kesabaran.

Telah banyak cobaan dan penderitaan yang dialami oleh baginda Nabi. Akan tetapi segala muamalah yang buruk dari orang kuffar, dihadapi oleh Rosululloh dengan akhlak yang baik. Itulah yang dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga Alloh Ta’ala memuji Nabi Muhammad di dalam al-Qur’anul Karim.

Yang dipuji bukanlah kesabarannya, bukan pula ibadahnya, akan tetapi akhlak beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, “wa innaka la‘ala khuluqin adzim” (sesungguhnya engkau Ya Rosululloh didalam budi pekerti yang sangat agung). (QS. al-Qolam: 4).

Sebagai manusia biasa, kita bisa berakhlak tapi dikatakan sebagai akhlaqul hasanah. Akhlak yang bagus, tidak dikatakan akhlak kita agung.

Akhlak yang agung itu hanyalah diberikan Alloh Ta’ala kepada baginda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Maka keluarlah pujian yang diberikan oleh Alloh Ta’ala kepada baginda Nabi tentang bagaimana akhlaknya, sehingga mereka yang tadinya ‘musuh-musuh’ Nabi (yakni orang-orang kafir) mendapatkan hidayah Alloh dengan masuk kedalam agama Islam.

Dan mereka pun taat kepada Nabi Muhammad, karena apa? Bukan hanya dari kesabaran Nabi saja, tetapi juga karena melihat betapa agungnya akhlak Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Bahkan diriwayatkan tentang akhlak beliau yang sangat agung, sampai anak-anak kecil pun mengetahui bagaimana akhlaknya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang sangat mulia.

Ketika baginda Rosul pulang dari peperangan, beliau mempunyai kebiasaan kumpul bersama anak-anak kecil yang masih berumur kanak-kanak.

Mereka berbaris di hadapan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Terkadang di barisan depan yaitu Sayyidina Ja’far bin Abu Tholib, Sayyidina Hasan dan Husein, serta beberapa sahabat sampai shaf yang kedua dan ketiga. Sedangkan Rosululoh duduk di hadapan mereka sambil melihat mereka semua, Rosululloh memberikan sayembara kepada mereka,

“hai anak-anak, sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu di ketiakku ini atau di pakaianku. Barangsiapa yang cepat mengambil apa yang aku sembunyikan, maka dia akan mendapatkan hadiah dariku, silahkan mengambil sesuatu yang aku sembunyikan di pakaianku”.

Maka semua anak-anak yang berbaris di depan Rosululloh, satu-persatu dari mereka berlomba-lomba menghampiri Rosululloh, ada yang datang dari belakang, ada yang datang dari dadanya Rosululloh, ada yang datang dari kepalanya, mereka berebutan mengambil sesuatu yang disembunyikan oleh Rosululloh.

Baginda tertawa dengan gembira melihat tingkah laku anak-anak yang memperlakukan baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Inilah akhlak, inilah budi pekerti yang dicontohkan oleh Rosululloh sehingga beliau dicintai oleh ummatnya.

Demikian juga akhlak baginda terhadap istri-istrinya. Pada suatu hari baginda Nabi sedang duduk bersama istri-istrinya, Sayyidah Hafshoh, Sayyidah Zainab, Sayyidatuna ‘Aisyah dan yang lainnya duduk bersama Rosululloh.

Dan mereka para istri Nabi kumpul bersama beliau, mereka tertawa, bahkan dari mereka ada yang mengangkat suaranya di hadapan Sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Satu sama lainnya saling bercanda di hadapan Nabi Muhammad, dan baginda melayani candaan  istri-istrinya tersebut.

Tidak lama kemudian, sedang asyik-asyiknya mereka saling bercanda, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, “Assalaamu’alaikum”

Dilihat bahwa yang datang adalah Sayyidina Umar bin Khoththob, maka semua para istri Nabi yang tadi sedang asyik duduk bersama Nabi, sedang bersenda gurau bersama baginda Nabi saw, mereka semua mengenakan hijab (cadar) nya.

Yang tadinya membuka kerudungnya, mereka semua kembali memakainya dan menutup cadarnya sampai mereka semua masuk ke dalam kamar bersembunyi, tidak mau lagi duduk dengan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam karena kedatangan Sayyidina Umar.

Ketika Sayyidina Umar bin Khoththob masuk dan melihat Rosululloh tertawa gembira, maka beliau bertanya, “apa yang membuat engkau tertawa ya Rosulalloh?”

Jawab Rosululloh, “tadi sebelum engkau datang, semua istri-istriku sedang berkumpul, sedang bersenda gurau denganku, kemudian tatkala engkau datang, mereka masuk ke dalam menutup cadarnya dan bersembunyi”.

Kemudian Sayyidina Umar bin Khoththob berteriak dari depan, “hai para istri Nabi, kalian lebih takut kepadaku daripada Rosululloh? Rosululloh lebih berhak dan lebih pantas untuk ditakuti daripada aku?”

Maka menyahut salah satu istri baginda, “ya Umar benar, kami lebih takut padamu, kami tidak takut kepada Rosululloh, karena kami mengenal engkau adalah orang yang keras. Nanti kalau kami tertawa, engkau akan memarahi kami. Akan tetapi kalau kami tertawa dan bercanda di hadapan suami kami yaitu Rosululloh, beliau tidak pernah memarahi kami”.

Lantas Sayyidina Umar bin Khattab terdiam, dan Rosululloh tertawa (Shohih Bukhori).

Riwayat yang lain daripada keagungan akhlaknya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah pernah satu kali baginda didatangi anak dari seorang Munafiqin yang bernama Abdulloh bin Ubay.

Abdulloh bin Ubay adalah seorang yang terkenal di Madinah. Tatkala ia wafat, anak-anaknya mendatangi Rosululloh, “ya Rosulalloh, aku minta kain kafan untuk mengkafani ayahku yang sudah meninggal dunia”

Maka Rosululloh mengatakan, “baik” Padahal baginda tahu ayahnya adalah seorang munafik, tetapi diberikan kain oleh Rosul untuk mengkafani ayahnya tersebut.

Tidak itu saja, bahkan baginda berkata, “coba engkau memberitahu sebelumnya, maka aku akan datang dan menyolati ayahmu itu”

Kemudian anak itu berkata, “ya Rosulalloh, boleh disholati”

Maka Rosululloh datang ke pekuburannya dan menyolatkannya. Tatkala Rosul menyolatkan diatas kuburnya, Sayyidina Umar bin Khoththob sedih dan berkata, “ya Rosulalloh, engkau tahu ia ini munafik, tidak akan diridhoi seorang munafikin, kenapa engkau sholatkan?”

Berkata Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, “ya Umar, belum ada larangan dari Alloh untuk aku menyolatkan kepadanya walaupun ia orang munafik”.

Maka disholatkan oleh Rosul sebelum turunnya ayat,

Sehingga dikatakan oleh ahli tafsir setelah turunnya ayat tersebut, “beruntung kepada munafikin Abdulloh bin Ubay bahwasanya ia mendapatkan ampunan dari Alloh Ta’ala berkat sholatnya Rosululloh untuknya”.

Lihatlah betapa agungnya akhlak baginda Rosulillah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam kepada siapapun. Bukan hanya kepada manusia, tetapi juga semesta alam.

Maka kita berusaha agar memiliki akhlak yang baik. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Selain dengan berusaha, kita pun berdoa kepada Alloh sebagaimana telah Nabi ajarakan sebuah do’a ketika hendak bercermin, “Allohumma kamaa hassanta kholqiy fahassin khuluqiy”

(Wahai Alloh, sebagaimana Engkau memperbaiki bentuk dan rupaku, maka perbaikilah juga akhlakku).

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

[VIDEO]: Bekas rumah Abu Jahal yang sudah dialihfungsikan menjadi WC umum (toilet). Persisnya berada dekat pintu keluar Marwah, tempat orang mengakhiri ibadah Sa’i.

wAllohu a’lam bishshowaab.

Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi

 

Baca juga : Kajian Maulid Diba’ #23 : Wa Qiila Liba’dhihim