Oleh: Ahmad Ulul Azmi

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad semakin menarik minat penduduk Mekkah. Sehingga jumlah yang mengaku beriman dari waktu ke waktu semakin bertambah banyak. Keadaan ini menyebabkan kaum Kafir Quraisy kehilangan kesabaran.

Jika sebelumnya Nabi Muhammad dan kaum muslimin lebih banyak disakiti dengan ucapan dan ejekan, namun kali ini mulai dengan cara menyakiti fisik. Para sahabat yang masuk Islam mendapat siksaan yang sangat kejam. Bahkan kepada Nabi pun mereka telah berani melakukannya.

Suatu hari Utbah bin Robi’ah datang kepada Nabi menawarkan sejumlah harta apabila Nabi mau menghentikan dakwahnya. Kaum kafir Quraisy seakan sudah kehilangan akal sehat dan kesabaran ketika melihat pertumbuhan Islam yang semakin hari semakin pesat.

Semakin banyak yang disiksa semakin banyak yang membela dan masuk Islam. Meskipun demikian, Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tetap tidak merasa tenang melihat berbagai siksaan yang ditimpakan kepada sahabat beliau.

Melihat keadaan yang menimpa kaum muslimin, baginda Muhammad mengusulkan kepada sahabat agar hijrah ke wilayah lain yang lebih aman. Wilayah itu adalah negeri Habsyi, hijrah ke Habsyi itu menjadi pilihan terbaik dan terjadi pada tahun kelima (dari kenabian).

Negeri Habsyi juga dikenal dengan nama Abbessina atau Ethiopia. Raja Habsyi (raja Negus / Najasyi) adalah penganut agama Nashrani yang didalam kitabnya telah diberitakan akan datang suatu saat seorang Rosul Alloh yang memiliki sifat-sifat yang sangat terpuji.

Hijrah ke Habsyi tahap pertama mempunyai makna lain disamping menghindari siksaan dari orang Quraisy, juga memperkenalkan Islam kepada penduduk di luar Arab. Hijrah ke Habsyi ini adalah diplomasi pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam ke luar Arab.

Setelah rombongan kaum muslimin sampai di Habsyi, pimpinan rombongan menghadap raja. Mereka diterima secara baik dan tidak mendapat kesulitan menemui raja.

Kenyataan yang mereka alami memang sesuai dengan apa yang diberitakan Rosululloh, yakni raja Habsyi baik hati dan menjamin keamanan seluruh rakyat dan orang-orang yang datang ke sana.

Para sahabat yang berhijrah pun merasa lega. Penderitaan yang mereka alami sewaktu di Makkah telah hilang. Kini mereka dapat bekerja dengan baik, beribadah dengan tenang, dapat mengamalkan ajaran agama Islam dengan bebas.

Adapun awal mula ibadah yang difardhukan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan seluruh umatnya adalah sholat tahajjud di waktu malam, sebagaimana tersebut dalam firman Alloh Ta’ala Quran Suroh Al-Muzzammil,

يٰأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۙ١
Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيْلًا ۙ٢
bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali-* sebagian kecil,

نِّصْفَهٗ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًا ۙ٣
(yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu,

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا ۗ٤
atau lebih dari (separuh) itu, dan bacalah al-Quran itu perlahan-lahan.

إِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا ٥
Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.

إِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَّأَقْوَمُ قِيْلًا ۗ٦
Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.

Maka Rosululloh dan para sahabatnya melaksanakan perintah tersebut, yakni melaksanakan sholat tahajjud dengan membaca al-Quran pada tiap malamnya dan dalam waktu yang cukup lama sehingga menjadi bengkaklah kaki Rosululloh dan para Sahabat.

Lalu diringankan oleh Alloh Ta’ala waktu sholat tahajjud tersebut dengan mengambil sedikit saja daripada waktu malam. Yang sunnah dikerjakan bagi umat Rosululloh, namun menjadi kewajiban bagi Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Kendati demikian, baginda Nabi beserta umatnya tetap diwajibkan mengerjakan Sholat sebanyak dua roka’at pada waktu pagi dan sore hari sebagaimana yang difirmankan Alloh Ta’ala,

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Quran dan laksanakanlah sholat,

Sehingga senantiasalah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan Sahabatnya menunaikan sholat pada waktu pagi dan sore tersebut sampai dengan peristiwa Isro Mi’roj yang memfardhukan atas baginda dan juga umatnya untuk menunaikan sholat sebanyak lima waktu dalam sehari semalam.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa Syafii’inaa Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min Khiyaari Ummatihii wa min Ahli Syafaa’atihi. BirohmatiKa Yaa Arhamar-Roohimiin. Aamiin.

wAllohu a’lam bishshowaab.