KalamUlama.com - Fasubhana man Khoshshohu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَسُبْحَانَ مَنْ خَصَّهٗ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَشْرَفِ الْمَنَاصِبِ وَالْمَرَاتِبِ Maka Maha suci Alloh yang mengkhususkan Nabi Muhammad SAW dengan kemuliaan pangkat dan martabat أَحْمَدُهٗ عَلىٰ مَا مَنَحَ مِنَ الْمَوَاهِبِ Aku menyanjungkan pujian kepada-Nya, atas segala nikmat anugerah dan pemberian-Nya. وَأَشْهَدُ أَنْ لَآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَشَرِيْكَ لَهٗ رَبُّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبْ Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, pemilik arah timur dan barat. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلٰى سَآئِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْأَعَارِبِ Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya penghulu kami Nabi Muhammad itu adalah seorang hamba Alloh dan utusan-Nya yang diutus kepada semua bangsa ‘Ajam dan Arab. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلىٰ اٰلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ أُوْلِى الْمَآَثِرِ وَالْمَنَاقِبِ Semoga rahmat Alloh dan salam-Nya tetap dilimpahkan kepada Nabi dan keluarga serta sahabatnya yang mempunyai perilaku agung dan sebutan nama baik. صَلاَةً وَسَلاَمًا دَآئِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ يَاتِيْ قَآئِلُهُمَايَوْمَ الْقِيَامَةِ غَيْرَ خَآئِبِ Dengan rahmat dan salam yang kekal, keduanya merata kepada para pembacanya yang datang kelak di hari kiamat tanpa merugi. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ------------------------------------------ Keterangan : Salah satu kekhususan Nabi Muhammad SAW adalah membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori, Rosul SAW bersabda, “Ana awla bil mu’minina min anfusihim”, Aku (Nabi SAW) lebih awla (lebih utama didahulukan) daripada orang mukmin atas diri mereka sendiri. Kok bisa Rosul SAW mengatakan “aku lebih awla daripada orang-orang mukmin atas diri mereka sendiri”. Kenapa? Karena Firman Alloh SWT “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim” (QS. Al-Ahzab:6). Nabi SAW itu lebih utama, lebih patut didahulukan dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, Kalau tidak kita ikuti sabda Beliau (SAW) yang selanjutnya, ucapan diatas terkesan 'sombong'. Aku (Nabi SAW) yang lebih utama dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, tapi lihat ucapan (hadits beliau saw) selanjutnya, “...barangsiapa yang wafat masih meninggalkan hutang dan dia tidak punya uang atau harta untuk membayar hutangnya, aku (Nabi SAW) yang akan menyelesaikan hutangnya”. Setelah terjadinya fatah makkah, Rosul SAW mengatakan, “siapa yang punya hutang, datang padaku kalau tidak bisa bayar hutang”. Berapa banyak orang – orang muslimin yang wafat dan tidak mampu membayar hutangnya, mereka datang kepada Nabi SAW. Rosululloh SAW yang membayar hutang mereka. Subhanalloh! Inilah orang yang paling dermawan dari semua yang dermawan. Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqolani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shohih Bukhori menjelaskan, menukil beberapa hadits lainnya bahwa sebelum Fatah Makkah, Rosul SAW tidak mau menyolatkan jenazah yang masih punya hutang. Jadi kalau jenazah seseorang yang wafat, Rosul SAW bertanya, “ini masih punya hutang?”, kemudian dijawab “masih ada”. Maka Rosul SAW tidak mau sholat. Kalau sudah selesai hutangnya, atau ada orang yang bilang “aku yang menanggung”, baru Rosul SAW mau menyolatkannya. Ini bukan karena Rosul SAW benci atau menghina jenazah itu, tapi Rosul SAW tidak mau ada satu jenazah masuk ke dalam kuburnya masih membawa hutang, karena ia akan dihimpit oleh bumi. Demikian indahnya Nabiyyuna Muhammad SAW, tidak rela beliau ada satu jenazah yang masuk ke dalam kubur dihimpit oleh bumi. Ya Hanana bi Muhammad (Betapa Beruntungnya Kami dengan adanya Nabi Muhammad SAW). Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik 'Alaihi wa 'ala aalih. ADAPUN KEKHUSUSAN LAIN DARI PRIBADI AGUNG NABI MUHAMMAD SAW YANG TIDAK UNTUK UMATNYA ADA 4 (EMPAT) PERKARA, DIANTARANYA: 1. Kekhususan Nabi SAW dalam kewajiban, antara lain : Sholat dhuha Sholat witir Berkurban (udl-hiyyah) Siwak Bermusyawarah dalam setiap perkara, namun menurut Imam Syafi'i, ini tidak wajib mencegah kemungkaran yang Beliau lihat secara mutlak, bahkan menurut Imam Ghozali termasuk juga kemungkaran yang beliau tidak lihat. Membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Namun menurut Al-Imam, ini apabila Beliau punya keluasan harta. Menceraikan diantara istri-istri Beliau yang memilih kehidupan dunia dan mempertahankan istri-istri Beliau yang memilih kehidupan akhirat Menasakh (menghapus) kewajiban sholat tahajud bagi Beliau. Roudlotut Tholibin VI / 238 - 241 Cetakan Beirut ----------------- 2. Kekhususan Nabi SAW dalam keharaman, antara lain : Menerima zakat dan sedekah, namun boleh menerima hadiah. Mengetahui tulisan dan lagu, Kanjeng Nabi adalah bergelar Al-Ummy. Beliau juga diharamkan meletakkan pedang-Nya sebelum peperangan usai. Ingin memiliki harta. Memandang bebas sana sini (jelalatan, red). Dan juga Beliau diharamkan untuk menahan (tidak menceraikan) istri yang tidak suka kepada Beliau. Roudlotut Tholib VI / 241 - 244 Cetakan Beirut -------------------- 3. Kekhususan dalam keringanan dan kebolehan, antara lain : Nabi SAW boleh menikah sampai sembilan, atau bahkan lebih, karena Beliau adalah sosok yang adil. Nabi SAW boleh menikah tanpa wali dan saksi. Nabi SAW boleh menikahi istrinya (ijab) dengan lafadl hibah, bukan ketika qobulnya (menjawab wali yang menikahkan) dan juga tanpa mahar. Wanita yang disukai oleh Nabi SAW wajib memenuhi apabila Beliau menginginkan, dan bagi suami dari wanita tersebut wajib menceraikannya apabila wanita itu diinginkan oleh beliau. Namun demikian dalam sejarah tidak pernah terjadi, hal ini semata-mata adalah karena kemuliaan dari akhlaq Beliau SAW. Nabi SAW boleh menikahi wanita yang Beliau suka tanpa sepengetahuan dari wanita itu sendiri dan juga tanpa sepengetahuan walinya. Nabi SAW diperbolehkan puasa wishol (bersambung terus menerus). Nabi SAW diperbolehkan memilih harta rampasan perang sebelum dibagi dan juga khumusul khumus ghonimah dan barang faik (temuan), juga boleh mengambil 4/5 sisanya jika Beliau menginginkan, walaupun demikian Beliau tidak pernah mengambil yang 4/5. Nabi SAW diperbolehkan menghukumi suatu perkara berdasarkan ilmu Beliau dan juga menghukumi dan bersaksi untuk Beliau sendiri dan juga untuk putra-putri Beliau. Nabi SAW juga tidak batal wudlu sebab tidur. Dan lain lain masih banyak lagi. Namun demikian sebagian besar kebolehan ini Beliau SAW tidak melakukannya. (وَمُعْظَمُ هَذِهِ الْمُبَاحَاتِ لَمْ يَفْعَلْهُ) Roudlotut Tholib VI / 244 Cetakan Beirut. -------------------- 4. Keutamaan Nabi Muhammad SAW : Istri-istri Beliau yang telah diceraikan / ditinggal wafat, haram dinikahi oleh orang lain, sekaligus mulianya Istri-istri beliau mengalahkan wanita sedunia, Taubat dan siksa mereka dilipat gandakan, mereka adalah

KalamUlama.com – Fasubhana man Khoshshohu – Kajian Maulid Diba (07)

اللهم صل وسلم وبارك عليه

Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi
Muhammad)

فَسُبْحَانَ مَنْ خَصَّهٗ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَشْرَفِ الْمَنَاصِبِ وَالْمَرَاتِبِ

Maka Maha suci Alloh yang mengkhususkan Nabi Muhammad SAW dengan kemuliaan pangkat dan martabat

أَحْمَدُهٗ عَلىٰ مَا مَنَحَ مِنَ الْمَوَاهِبِ

Aku menyanjungkan pujian kepada-Nya, atas segala nikmat anugerah dan pemberian-Nya.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَشَرِيْكَ لَهٗ رَبُّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبْ

Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, pemilik arah timur dan barat.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلٰى سَآئِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْأَعَارِبِ

Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya penghulu kami Nabi Muhammad itu adalah seorang hamba Alloh dan utusan-Nya yang diutus kepada semua bangsa ‘Ajam dan Arab.

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلىٰ اٰلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ أُوْلِى الْمَآَثِرِ وَالْمَنَاقِبِ

Semoga rahmat Alloh dan salam-Nya tetap dilimpahkan kepada Nabi dan keluarga serta sahabatnya yang mempunyai perilaku agung dan sebutan nama baik.

صَلاَةً وَسَلاَمًا دَآئِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ يَاتِيْ قَآئِلُهُمَايَوْمَ الْقِيَامَةِ غَيْرَ خَآئِبِ

Dengan rahmat dan salam yang kekal, keduanya merata kepada para pembacanya yang datang kelak di hari kiamat tanpa merugi.

اللهم صل وسلم وبارك عليه

Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi
Muhammad)

——————————————
Keterangan :

Salah satu kekhususan Nabi Muhammad SAW adalah membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori, Rosul SAW bersabda, “Ana awla bil mu’minina min anfusihim”, Aku (Nabi SAW) lebih awla (lebih utama didahulukan) daripada orang mukmin atas diri mereka sendiri.

Kok bisa Rosul SAW mengatakan “aku lebih awla daripada orang-orang mukmin atas diri mereka sendiri”. Kenapa? Karena Firman Alloh SWT “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim” (QS. Al-Ahzab:6). Nabi SAW itu lebih utama, lebih patut didahulukan dari orang mukmin atas diri mereka sendiri,

Kalau tidak kita ikuti sabda Beliau (SAW) yang selanjutnya, ucapan diatas terkesan
‘sombong’. Aku (Nabi SAW) yang lebih utama dari orang mukmin atas diri mereka
sendiri, tapi lihat ucapan (hadits beliau saw) selanjutnya, “…barangsiapa yang wafat masih meninggalkan hutang dan dia tidak punya uang atau harta untuk membayar
hutangnya, aku (Nabi SAW) yang akan menyelesaikan hutangnya”.

Setelah terjadinya fatah makkah, Rosul SAW mengatakan, “siapa yang punya hutang, datang padaku kalau tidak bisa bayar hutang”.

Berapa banyak orang – orang muslimin yang wafat dan tidak mampu membayar hutangnya, mereka datang kepada Nabi SAW. Rosululloh SAW yang membayar hutang mereka. Subhanalloh! Inilah orang yang paling dermawan dari semua yang dermawan.

Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqolani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shohih Bukhori
menjelaskan, menukil beberapa hadits lainnya bahwa sebelum Fatah Makkah, Rosul SAW tidak mau menyolatkan jenazah yang masih punya hutang. Jadi kalau jenazah seseorang yang wafat, Rosul SAW bertanya, “ini masih punya hutang?”, kemudian dijawab “masih ada”. Maka Rosul SAW tidak mau sholat. Kalau sudah selesai hutangnya, atau ada orang yang bilang “aku yang menanggung”, baru Rosul SAW mau menyolatkannya.

Ini bukan karena Rosul SAW benci atau menghina jenazah itu, tapi Rosul SAW tidak mau ada satu jenazah masuk ke dalam kuburnya masih membawa hutang, karena ia akan dihimpit oleh bumi. Demikian indahnya Nabiyyuna Muhammad SAW, tidak rela beliau ada satu jenazah yang masuk ke dalam kubur dihimpit oleh bumi.

Ya Hanana bi Muhammad (Betapa Beruntungnya Kami dengan adanya Nabi Muhammad SAW). Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘Alaihi wa ‘ala aalih.

ADAPUN KEKHUSUSAN LAIN DARI PRIBADI AGUNG NABI MUHAMMAD SAW YANG TIDAK UNTUK UMATNYA ADA 4 (EMPAT) PERKARA, DIANTARANYA:

1. Kekhususan Nabi SAW dalam kewajiban, antara lain :

  • Sholat dhuha
  • Sholat witir
  • Berkurban (udl-hiyyah)
  • Siwak
  • Bermusyawarah dalam setiap perkara, namun menurut Imam Syafi’i, ini tidak wajib mencegah kemungkaran yang Beliau lihat secara mutlak, bahkan menurut Imam Ghozali termasuk juga kemungkaran yang beliau tidak lihat.
  • Membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Namun menurut Al-Imam, ini apabila Beliau punya keluasan harta.
  • Menceraikan diantara istri-istri Beliau yang memilih kehidupan dunia dan mempertahankan istri-istri Beliau yang memilih kehidupan akhirat
  • Menasakh (menghapus) kewajiban sholat tahajud bagi Beliau.

Roudlotut Tholibin VI / 238 – 241 Cetakan Beirut

—————–

2. Kekhususan Nabi SAW dalam keharaman, antara lain :

  • Menerima zakat dan sedekah, namun boleh menerima hadiah.
  • Mengetahui tulisan dan lagu, Kanjeng Nabi adalah bergelar Al-Ummy.
  • Beliau juga diharamkan meletakkan pedang-Nya sebelum peperangan usai.
  • Ingin memiliki harta.
  • Memandang bebas sana sini (jelalatan, red).
  • Dan juga Beliau diharamkan untuk menahan (tidak menceraikan) istri yang tidak suka kepada Beliau.

Roudlotut Tholib VI / 241 – 244 Cetakan Beirut

——————–

3. Kekhususan dalam keringanan dan kebolehan, antara lain :

  • Nabi SAW boleh menikah sampai sembilan, atau bahkan lebih, karena Beliau adalah sosok yang adil.
  • Nabi SAW boleh menikah tanpa wali dan saksi. Nabi SAW boleh menikahi istrinya (ijab) dengan lafadl hibah, bukan ketika qobulnya (menjawab wali yang menikahkan) dan juga tanpa mahar.
  • Wanita yang disukai oleh Nabi SAW wajib memenuhi apabila Beliau menginginkan, dan bagi suami dari wanita tersebut wajib menceraikannya apabila wanita itu diinginkan oleh beliau. Namun demikian dalam sejarah tidak pernah terjadi, hal ini semata-mata adalah karena kemuliaan dari akhlaq Beliau SAW.
  • Nabi SAW boleh menikahi wanita yang Beliau suka tanpa sepengetahuan dari wanita itu sendiri dan juga tanpa sepengetahuan walinya.
  • Nabi SAW diperbolehkan puasa wishol (bersambung terus menerus).
  • Nabi SAW diperbolehkan memilih harta rampasan perang sebelum dibagi dan juga khumusul khumus ghonimah dan barang faik (temuan), juga boleh mengambil 4/5 sisanya jika Beliau menginginkan, walaupun demikian Beliau tidak pernah mengambil yang 4/5.
  • Nabi SAW diperbolehkan menghukumi suatu perkara berdasarkan ilmu Beliau dan juga menghukumi dan bersaksi untuk Beliau sendiri dan juga untuk putra-putri Beliau.
  • Nabi SAW juga tidak batal wudlu sebab tidur. Dan lain lain masih banyak lagi. Namun demikian sebagian besar kebolehan ini Beliau SAW tidak melakukannya.

(وَمُعْظَمُ هَذِهِ الْمُبَاحَاتِ لَمْ يَفْعَلْهُ)

Roudlotut Tholib VI / 244 Cetakan Beirut.

——————–

4. Keutamaan Nabi Muhammad SAW :

  • Istri-istri Beliau yang telah diceraikan / ditinggal wafat, haram dinikahi oleh orang lain, sekaligus mulianya Istri-istri beliau mengalahkan wanita sedunia, Taubat dan siksa mereka dilipat gandakan, mereka adalah “ummahatul mukminin”
  • Bagi wanita-wanita dilarang bertanya kepada beliau kecuali dari balik hijab / tabir.
  • Beliau SAW bergelar “khotamun nabiyyin” nabi terakhir.
  • Beliau SAW bergelar “sayyidu waladi Adam” tuan dari anak Adam.
  • Beliau SAW adalah nabi pertama yang dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat.
  • Beliau SAW adalah nabi yang pertama mengetuk pintu surga.
  • Beliau adalah nabi yang pertama mensyafa’ati dan disyafa’ati.
  • Umat beliau adalah sebaik-baik umat dibandingkan dengan umat nabi lain, umat yang selalu terhindar dari berkumpul dalam kesesatan, umat yang shofnya seperti shofnya para malaikat.
  • Mu’jizat beliau tetap ada dan terjaga, yakni Al-Qur’an.
  • Umat beliau dimuliakan dengan syafa’at istimewa.
  • Beliau SAW diutus untuk seluruh alam.
  • Hati Beliau tidak pernah tidur.
  • Beliau SAW mengetahui orang yang ada di belakang tanpa menoleh.
  • Ibadah Beliau sambil duduk sama dengan ibadah Beliau sambil berdiri nilai pahalanya
  • Tidak diperkenankan meninggikan suara diatas suara Beliau SAW.
  • Haram memanggil Beliau SAW dengan nama beliau.
  • Dilarang memanggil dengan nama kuniyah Beliau SAW, yakni khusus pada zaman Beliau SAW masih hidup, adapun sekarang boleh, misal: Yaa Abal Qosim.
  • Wajib memenuhi undangan/ panggilan Beliau SAW meskipun saat sholat, namun sholatnya tidak batal.
  • Beliau SAW digunakan untuk “ngalap berkah” dan untuk mencari kesembuhan meskipun dengan kencing dan darah Beliau SAW.
  • Orang yang berzina pada masa beliau dihukumi kafir.
  • Semua putri Beliau bernasab kepada Beliau SAW.
  • Beliau SAW diperbolehkan menerima hadiah, dan diharamkan bagi Beliau SAW zakat dan shodaqoh.
  • Beliau SAW diberi keistimewaan mengerti semua bahasa.
  • Beliau SAW ketika wafat dalam keadaan menerima wahyu, begitu juga dalam keadaan sadar / taklif.
  • Beliau SAW tidak pernah gila / junun, begitu juga dengan para nabi lainnya
  • Beliau SAW tidak pernah mimpi basah, karena mimpi basah berasal dari setan. Melihat Beliau SAW dalam mimpi adalah nyata dan benar adanya. Bumi tidak akan memakan jasad Beliau SAW dan juga para nabi lainnya.
  • Berdusta atas nama Beliau SAW secara sengaja adalah dosa besar.
  • Dan lain lain masih banyak lagi.

Menceritakan keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah disunnahkan

(وَذِكْرُ الْخَصَائِصِ مُسْتَحَبٌّ ),

Bahkan disebutkan dalam kitan Roudloh Syaikh Imam Nawawi hukumnya mendekati
wajib agar orang-orang awam mengerti keistiwaan keistimewaan Beliau SAW.

Roudlotut Tholib VI / – Cetakan Beirut

روض الطالب هامش أسنى المطالب للشيخ محمد الرملي ج ٦ ص ٢٣٨ ـ ٢٤٤
مكتبة دار الكتب العلمية بيروت

النوع الأول من خصائص النبي الواجبات

(وَفِيهِ أَبْوَابٌ) اثْنَا عَشَرَ : (الْأَوَّلُ فِي) بَيَانِ (خَصَائِصِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَإِنَّمَا ذَكَرُوهَا هُنَا ; لِأَنَّهَا فِي النِّكَاحِ أَكْثَرُ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَالصِّيغَةُ الْمَذْكُورَةُ مُشْعِرَةٌ بِذِكْرِ جَمِيعِ خَصَائِصِهِ إذْ الْجَمْعُ الْمُضَافُ لِمَعْرِفَةٍ مُسْتَغْرِقٌ وَلَيْسَ مُرَادًا لِمَا سَيَأْتِي (وَهِيَ أَنْوَاعٌ أَرْبَعَةٌ: أَحَدُهَا الْوَاجِبَاتُ) وَخَصَّ بِهَا لِزِيَادَةِ الزُّلْفَى وَالدَّرَجَاتِ فَلَنْ يَتَقَرَّبَ الْمُتَقَرِّبُونَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ. قَالَ الْإِمَامُ: هُنَا قَالَ بَعْضُ عُلَمَائِنَا الْفَرِيضَةُ يَزِيدُ ثَوَابُهَا عَلَى ثَوَابِ النَّافِلَةِ أَيْ الْمُمَاثِلَةِ لَهَا بِسَبْعِينَ دَرَجَةً (وَهِيَ الضُّحَى وَالْوِتْرُ وَالْأُضْحِيَّةَ) لِخَبَرِ [ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَلَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الضُّحَى] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَضَعَّفَهُ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ أَقَلُّ الضُّحَى لَا أَكْثَرُهُ وَقِيَاسُهُ فِي الْوِتْرِ كَذَلِكَ وَاسْتَشْكَلَ وُجُوبَ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهِ بِضَعْفِ الْخَبَرِ وَبِجَمْعِ الْعُلَمَاءِ بَيْنَ أَخْبَارِ الضُّحَى الْمُتَعَارِضَةِ فِي سُنِّيَّتِهَا بِأَنَّهُ كَانَ لَا يُدَاوِمُ عَلَيْهَا مَخَافَةَ أَنْ تُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ فَيَعْجِزُوا عَنْهَا وَبِأَنَّهُ قَدْ صَحَّ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِهِ وَلَوْ كَانَ وَاجِبًا عَلَيْهِ لَامْتَنَعَ ذَلِكَ وَقَدْ يُجَابُ عَنْ الْأَوَّلِ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ اعْتَضَدَ بِغَيْرِهِ وَعَنْ الثَّانِي بِأَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى وَاجِبَةٌ عَلَيْهِ فِي الْجُمْلَةِ وَعَنْ الثَّالِثِ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ صَلاهَا عَلَى الرَّاحِلَةِ وَهِيَ وَاقِفَةٌ عَلَى أَنَّ جَوَازَ أَدَائِهَا عَلَى الرَّاحِلَةِ مِنْ خَصَائِصِهِ أَيْضًا (وَالسِّوَاكُ) لِكُلِّ صَلَاةٍ ; لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ لِكُلِّ صَلَاةٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ (وَالْمُشَاوَرَةُ) لِذَوِي الْأَحْلَامِ فِي الْأَمْرِ قَالَ تَعَالَى {وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} لَكِنْ نَصَّ  الشَّافِعِيُّ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِهَا عَلَيْهِ حَكَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَعْرِفَةِ عِنْدَ  اسْتِئْذَانِ الْبِكْرِ (وَتَغْيِيرُ مُنْكَرٍ رَآهُ) قَالَ الْغَزَالِيُّ وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَظُنَّ أَنَّ فَاعِلَهُ يَزِيدُ فِيهِ عِنَادًا (مُطْلَقًا) عَنْ التَّقْيِيدِ بِعَدَمِ الْخَوْفِ (وَمُصَابَرَةُ الْعَدُوِّ وَإِنْ كَثُرَ) وَلَوْ زَادَ عَلَى الضِّعْفِ وَلَوْ مَعَ الْخَوْفِ ; لِأَنَّهُ مَوْعُودٌ بِالْعِصْمَةِ
 وَالنَّصْرِ (وَقَضَاءُ دَيْنِ مُسْلِمٍ مَاتَ مُعْسِرًا) لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ [أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ فَتَرَك دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ] وَقَيَّدَهُ الْإِمَامُ بِمَا إذَا اتَّسَعَ الْمَالُ. (وَلَا يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ) بَعْدَهُ (قَضَاؤُهُ مِنْ) مَالِ (الْمَصَالِحِ) كَمَا جَزَمَ بِهِ صَاحِبُ الْأَنْوَارِ وَغَيْرُهُ وَقِيلَ يَجِبُ
عَلَيْهِ بِشَرْطِ اتِّسَاعِ الْمَالِ وَفَضْلِهِ عَنْ مَصَالِحِ الْأَحْيَاءِ وَالتَّرْجِيحُ مِنْ زِيَادَتِهِ

(وَتَخْيِيرُ نِسَائِهِ) بَيْنَ مُفَارَقَتِهِ طَلَبًا لِلدُّنْيَا وَاخْتِيَارِهِ طَلَبًا لِلْآخِرَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِك} الْآيَتَيْنِ وَلِئَلا يَكُونَ مُكْرِهًا لَهُنَّ عَلَى الصَّبْرِ عَلَى مَا آثَرَهُ لِنَفْسِهِ مِنْ الْفَقْرِ وَهَذَا لَا يُنَافِي مَا صَحَّ أَنَّهُ تَعَوَّذَ مِنْ الْفَقْرِ ; لِأَنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ إنَّمَا تَعَوَّذَ مِنْ فِتْنَتِهِ كَمَا تَعَوَّذَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى أَوْ تَعَوَّذَ مِنْ فَقْرِ الْقَلْبِ بِدَلِيلِ قَوْلِهِ [لَيْسَ الْغِنَى بِكَثْرَةِ الْعَرَضِ وَإِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ] وَلَمَّا خَيَّرَهُنَّ وَاخْتَرْنَهُ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ التَّزَوُّجَ عَلَيْهِنَّ وَالتَّبَدُّلَ بِهِنَّ مُكَافَأَةً لَهُنَّ فَقَالَ {لَا يَحِلُّ لَك النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ} الْآيَةَ ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {إنَّا أَحْلَلْنَا لَك} الْآيَةَ لِتَكُونَ لَهُ الْمِنَّةُ بِتَرْكِ التَّزَوُّجِ عَلَيْهِنَّ ذَكَرَهُ الْأَصْلُ. (وَلَا يُشْتَرَطُ الْجَوَابُ) مِنْهُنَّ لَهُ (فَوْرًا) لِمَا فِي خَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ التَّخْيِيرِ بَدَأَ بِعَائِشَةَ وَقَالَ إنِّي ذَاكِرٌ لَك أَمْرًا فَلَا تُبَادِرِينِي بِالْجَوَابِ حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيْك (فَلَوْ اخْتَارَتْهُ) وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ (لَمْ يَحْرُمْ) عَلَيْهِ طَلَاقُهَا كَلَّمَتْهُ (أَوْ كَرِهَتْهُ) بِأَنْ اخْتَارَتْ الدُّنْيَا (تَوَقَّفَتْ الْفُرْقَةُ عَلَى الطَّلَاقِ) فَلَا تَحْصُلُ بِاخْتِيَارِهَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى {فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ} (وَهَلْ قَوْلُهَا اخْتَرْت نَفْسِي طَلَاقٌ وَهَلْ لَهُ تَزَوُّجُهَا بَعْدَ الْفِرَاقِ) إذَا لَمْ تَكْرَه تَزَوُّجَهُ (أَوْ) لَهُ (تَخْيِيرُهُنَّ) فِيمَا مَرَّ (قَبْلَ مُشَاوَرَتِهِنَّ) فِي كُلٍّ مِنْ الثَّلَاثَةِ (وَجْهَانِ) أَوْجَهُهُمَا لَا فِي الْأُولَى وَتَعُمُّ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ وَذِكْرُهُ الْأَخِيرَةَ مِنْ زِيَادَتِهِ عَلَى الرَّوْضَةِ وَتَعْبِيرُهُ فِي الْأُولَى بِالطَّلَاقِ أَوْلَى مِنْ تَعْبِيرِ أَصْلِهِ بِقَوْلِهِ صَرِيحٌ فِي الْفِرَاقِ (وَنَسَخَ وُجُوبَ التَّهَجُّدِ عَلَيْهِ) كَمَا نَسَخَ وُجُوبَهُ عَلَى غَيْرِهِ وَدَلِيلُ وُجُوبِهِ قَوْله تَعَالَى {وَمِنْ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَك} وَدَلِيلُ النُّسَخِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ (لَا) وُجُوبَ (الْوِتْرِ) عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْسَخْ وَهَذَا يَقْتَضِي أَنَّ الْوِتْرَ غَيْرُ التَّهَجُّدِ وَهُوَ مَا صَرَّحَ الْأَصْلُ بِتَرْجِيحِهِ هُنَا لَكِنَّهُ رَجَحَ فِيمَا مَرَّ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ أَنَّهُ تَهَجَّدَ وَتَقَدَّمَ ثَمَّ الْجَمْعُ بَيْنَ الْكَلَامَيْنِ

wAllohu a’lam

Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi
Sumber: Mau’idzoh hasanah al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa
Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah – KTB

Baca Juga : Kajian Maulid Diba #08 Awwalu Maa Nastaftihu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here