اللهم صل وسلم وبارك عليه

Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)


ثُمَّ أَرُدُّهٗ مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ. فَإِذَا شُرِّفَتْ طُرْبَةَ طَيْبَةَ مِنْهُ بِأَشْرَفِ قَالَبٍ. سَعَتْ إِلَيْهِ أَرْوَاحُ الْمُحِبِّيْنَ عَلىٰ الْأَقْدَامِ وَالنَّجَآئِبِ

Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy, dingin alas tidurnya benar-benar telah memperoleh menjadi tujuannya. ketika tanah suci Makkah dimuliakan karena sebab kemuliaan Nabi yang merubahnya. Terbentang keleluasaan untuk tujuan ke Makkah bagi jiwa-jiwa yang mencintainya, baik yang berjalan kaki maupun yang berkendaraan.

.******************************.

اللهم صل وسلم وبارك عليه

Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)

صَلاَةُ اللهِ مَالاَحَــــــتْ كَوَاكِبْ # عَلىٰ احْمَدْ خَيْرِ مَنْ رَّكِبَ النَّجَآئِبْ

Selagi bintang masih bercahaya, semoga rahmat Alloh tercurah.
Kepada Nabi Muhammad sebaik-baiknya pengendara unta.

حَدٰى حَادِى السُّرٰى بِاسْمِ الْحَبَائِبْ # فَهَزَّالشُّكْرُاَعْـــــــــطَافَ الرَّكَائِبْ

Selama pengiring unta menyanyikan lagu menyebut nama kekasih terindu.
Unta mengangguk-angguk menari gembira terbawa irama lagu penunggangnya

اَلَمْ تَرَهَا وَقَدْ مَــــدَّتْ حُـــــطَاهَا # وَسَالَتْ مِنْ مَّدَامِعِـــــهَا سَحَآئِبْ

Tidakkah engkau lihat, semakin cepat langkah unta?
Bercucuran deras dari matanya air mata bagaikan awan tiba.

وَمَالَتْ لِلْـــــحِمٰى طَرَبًا وَحَنَّتْ # إِلٰى تِلْكَ الْمَعَالِمِ وَ اْلمَــــــــلاَعِبْ

Semakin condong langkah untuk kegembiraan merindukan
Menuju kandang gembalaan pengembaraannya.

فَدَعْ جَذْبَ الزِّمَامِ وَلَا تَسُــــقْهَا # فَقَائِدُ شَــــــوْقِهَا لِلْــــحَيِّ جَاذِبْ

Biarkan, jangan kau tarik kendali dan penggiringnya.
Maka penggembala merasa kesepian merindukan Nabi kemudian menariknya.

فَهِمْ طَــــــرَبًا كَمَا هَــــامَــــتْ وَاِلاَّ # فَإِنَّكَ فِى طَـــرِيقِ الْحُـــبِّ كَاذِبْ

Tunjukkanlah rasa cintamu sebagaimana cintanya unta dan jikalau tidak,
Maka jalan cintamu pada nabi adalah dusta.

اَمَّا هٰذَا الْعَقِيْــــــــقُ بَدَا وَهٰذِيْ # قِبَابُ الْحَيِّ لاَحَتْ وَالْمَــضَارِبْ

Perhatikan, kota Aqiq telah nampak dan inilah
Qubah Nabi, gemerlapan cahayanya menyilaukan

وَتِلْكَ الْقُبَّةُ الْخَـــــــــــضْرَا وَفِيْهَا # نَبِـــــيٌّ نُوْرُهٗ يَجْـــلُوْ الْغَـــــــيَاهِبْ

Itulah qubah hijau dan nabi bermakam di dalamnya.
Seorang Nabi yang nur-nya menerangi kegelapan.


وَقَــــدْ صَحَّ الرِّضَى وَدَنَا التَّلَاقِي # وَقَدْجَاءَ الْهَنَا مِنْ كُلِّ جَـــــــانِبْ

Dan sungguh jelas keridhoan Alloh, dan pertemuan pun telah dekat
Dan sungguh telah datang kegembiraan dari segala penjuru


فَقُلْ لِّلنَّفْسِ دُوْنَكِ وَالتَّمَــــــــلِّى # فَمَادُوْنَ الْحَبِيْبِ الْيَوْمَ حَــــاجِبْ

Maka bisikkan ke dalam hati, tiada seorang pun kucondongkan rasa cinta.
Maka tiada satupun hari ini kepada kekasih, penghalangnya


تَمَلَّى بِالْحَبِيْبِ بِكُلِّ قَصْــــــــــدٍ # فَقَدْحَصَلَ الْهَنَا وَالضِـــــدُّ غَائِبْ

Condongkanlah rasa cinta kepada kekasih di segala tujuan,
Maka sungguh memperoleh kesenangan dan lenyaplah kedukaan.


نَبِيُّ اللهِ خَيْرُ الْخَلْقِ جَمْـــــــــــعَا # لَهٗ أَعْلَى الْمَنَاصِــــبِ وَالْمَــــرَاتِبْ

Nabi Alloh sebaik-baik seluruh makhluk.
Baginya keluhuran pangkat dan martabat tertinggi.


لَهُ الْجَاهُ الرَّفِيْــــعُ لَهُ الْمَعَــــــــالِى # لَهُ الشَّرَفُ الْمَــؤَبَّدُ وَالْمَنَـــــاقِبْ

Baginya ketinggian kedudukan, baginya segala keluhuran.
Kemuliaannya diabadikan dan menjadi kenangan.


فَـــــــــلَوْ أَنَّا سَعَيْنَــا كُلَّ يَــــــوْمٍ # عَلىٰ اْلاَحْدَاقِ لاَفَوْقَ النَّجَــــائِبْ

Maka seandainya kami menuju tempat, berjalan setiap hari
Di atas pandangan, bukan di punggung-punggung unta.


وَلَوْ أَنَّا عَمِلْـــــنَا كُلَّ حِــــــــــيْنٍ # لِأَحْمَـــــدَ مَوْلِداً قَــدْ كَانَ وَاجِبْ

Dan seandainya kami beramal setiap saat
Pada peringatan kelahiran Ahmad, maka sungguh hukumnya wajib.


عَلَيْــــهِ مِنَ الْمُــــهَيْـمِنِ كُلَّ وَقْتٍ # صَلاَةٌ مَّا بَدَا نُـــــوْرُ الْكَـــوَاكِبْ

Setiap waktu kumohonkan untuknya dari Alloh.
Rahmat selama bintang-bintang masih bercahaya.


تَعُــــــــمُّ اْلاٰلَ وَالْأَصْحَــــابَ طُرًّا # جَمِـــــــــــــيْعَهُمْ وَعِتْرَتَهُ الْأَطَايِبْ

Kepada keluarga dan para sahabat semuanya.
Serta semua keturunannya yang baik-baik lagi mulia.


اللهم صل وسلم وبارك عليه

Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)

=============================

Keterangan :

Diriwayatkan di dalam tafsir Imam At-Thobary ‘alaihi rohmatulloh bahwa ketika salah seorang sahabat dari kalangan baduwi (orang dusun) mendengar rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam membaca surat al-Insan sampai ayat terakhir.

Surat ini lebih banyak menceritakan tentang kenikmatan dan keindahan surga. Maka berkatalah seorang baduwi itu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, apakah mataku ini akan memandangmu kelak di surga?, engkau sudah menceritakan keindahan surga tapi apakah mataku ini akan memandangmu disana, keindahan surga tidak aku pedulikan karena jika aku tidak memandang wajahmu maka percuma aku masuk ke dalam surga”

Karena cintanya kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam terdiam, dan ia pun mengulang pertanyaannya: “Wahai Rosululloh, apakah mataku akan memandangmu di surga?” maka Rosululloh berkata: “ya, kau akan melihat aku kelak di surga”, maka orang baduwi itu terjatuh pingsan karena cinta dan tangisnya, gembira karena telah dijanjikan oleh sang nabi untuk berjumpa dengan nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan melihat wajah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.

Demikian cintanya kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, hingga ketika orang ini wafat, Rosul SAW pun memanjakannya, Rosul SAW yang menurunkan jenazahnya ke dalam kubur, lalu Rosul SAW memangkunya, sesaat kemudian beliau SAW membaca ayat:

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا ( الإنسان : 22 )

“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)” ( Al-Insan:22)

Maka sayyidina Abdulloh bin Umar berkata: “Wahai Rosululloh, siapa orang ini? Dia bukanlah orang yang menonjol diantara para sahabat sehingga kau membacakan ayat ini dan kau sangat memanjakan dia, apa yang dia lakukan? Perjelas wahai Rosul”, maka Rosul SAW berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (Alloh), sungguh orang itu saat ini sedang diberdirikan di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala dan Alloh berkata: “Aku akan mensucikan dan menyinari wajahmu”

Kenapa? Karena cintanya kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Demikian dengan hewan-hewan, mereka pun mencintai Rosululloh SAW, sebagaimana yang telah disampaikan oleh al-Habib Salim bin Umar al-Hamid bagaimana Syeikh Abdurrahman Ad-Dibaa’i menjelaskan riwayat hamba-hamba yang cinta kepada Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, maka ketika onta-onta mendekati Madinah al-Munawwaroh, berkata al-Imam Abdurrahman Ad-Dibaa’i: “Jangan kau pegangi onta yang sedang mengarah ke Madinah, karena onta itu bergegas dengan kencang dan jangan tahan kekencangannya karena yang mengendalikannya adalah rindunya kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam”.

Semua onta ketika memasuki Madinah al-Munawwaroh, onta-onta itu pun mengalirkan air mata hingga saat ini, kenapa? Karena mengetahui bahwa itu adalah kota sayyidina Muhammad, apakah hewan mengenal beliau SAW? Ya, hewan mengenal beliau, tumbuhan mengenal beliau, bebatuan mengenal beliau, langit dan bumi semuanya mengenal beliau, sebagaimana sabda nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shohih al-Bukhori :

 ‏ ‏إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا ‏جِبْرِيْلَ ‏فَقَالَ إِنِّيْ أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ ‏‏ثُمَّ يُنَادِيْ فِي السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلّانًا فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ

“Sesungguhnya apabila Alloh mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya”

Maka orang yang paling dicintai Alloh adalah sayyidina Muhammad (saw). Diriwayatkan dalam siroh (kitab sejarah nabi saw), ketika seekor onta besar yang mengamuk di Madinah al-Munawaroh, tentunya jika binatang mengamuk maka ia akan beringas, mulutnya akan berbusa karena marah, sehingga onta itu pun dijerat dalam suatu kandang, dilaporkan bahwa onta besar di Madinah mengamuk, maka sampailah kabar tersebut kepada Rosululloh.

Maka Rosululloh berkata: “Tunjukkan aku pada onta itu, maka sahabat berkata: “onta itu dijerat dalam kandang ini wahai Rosululloh”, Rosululloh berkata: “Bukalah pintunya”, maka sahabat pun berkata: “ wahai Rosululloh, onta itu sedang mengamuk dan beringas, nanti ia akan melukaimu”, Rosululloh berkata: “Bukakan pintunya!”

Semua hewan dan tumbuhan dan semua makhluk Alloh mengenal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Ketika pintu kandang dibukakan, onta yang berada jauh dari pintu itu kelihatan sedang beringas, merah matanya, dan berbusa mulutnya, tetapi ketika melihat wajah nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, ia pun tertunduk-tunduk lari mendekat mencium kaki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, melihat wajah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, wajah makhluk yang paling indah dari semua makhluk ciptaan Alloh, orang yang paling ramah dan tenang, onta itu pun tahu bahwa inilah pimpinan seluruh manusia, orang yang paling dicintai Alloh.

Kita bisa bayangkan seekor binatang yang sedang mengamuk, mungkin disini kita jarang melihat onta, jika kita melihat kuda atau kerbau yang mengamuk saja tentunya kita akan risau, padahal onta jika berdiri tingginya dua kali lebih tinggi dari kerbau, bayangkan saja jika mengamuk maka seperti apa buasnya, dalam keadaan seperti itu ia berlari tertunduk-tunduk mendekat menciumi kaki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, hilang marahnya ketika memandang wajah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Inilah semulia-mulia idola kita, maka jangan memilih idola yang lain, apalagi orang yang tidak pernah sujud kepada Alloh, apabila kita menjadikannya idola, maka itu akan menjadikan musibah kelak di hari kiamat, di dalam Atsar sahabat dijelaskan bahwa: “Walaupun seorang hamba beribadah ratusan tahun di hadapan Ka’bah, tetap ia tidak akan dikumpulkan kecuali bersama dengan orang yang ia cintai”.

Ucapan ini diperkuat dengan riwayat Shohih al-Bukhori dan Shohih Muslim:

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“ Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya”

Jika ada yang berkata “seorang seperti aku ini belum pantas cinta kepada Rosululloh”, kalau belum pantas mencintai Rosul, maka tidak terpilih menjadi ummatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Semua ummat Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sudah dihalalkan oleh Alloh untuk mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka yang masuk Islam pun karena mengenal dan mencintai Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Semoga kita semua tetap menjadikan sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai idola, hingga kita wafat dan dibangkitkan dalam kelompok orang-orang yang cinta pada beliau (saw) sebagaimana dalam sabdanya: “Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya”.

Wallohua’lam.

Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi

Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 01 Maret 2010.