Kajian Kitab Aqidatul Awam #03 Pujian Kepada Allah

oleh : Hamzah Alfarisi

Imam Nawawi al-bantani dalam kitab “nurudholam” menjelaskan, saya memuji Allah dengan lisan atas nikmat ini beserta hormat saya kepada Allah. Saya berikrar dan beri’tikad bahwa segala pujian itu tetap pada Allah. Kiyai Nadhim membuka kitab dengan pujian kepada Allah karena memenuhi hak dari segala sesuatu yang wajib baginya yaitu syukur nikmat berupa mandhumah ini. Kata “hamdu” menurut bahasa bermakna pujian dengan lisan atas anugrah yang suka rela dengan tujuan penghormatan, baik penghormatan tersebut dengan perbandingan ataupun tidak.

Pembagian pujian itu ada 4 :
1. Pujian qodim li qodim, yaitu Allah memuji dzat-Nya sendiri.
2. Pujian qodim li hadist, seperti Allah memuji Nabi Muhammad SAW
3. Pujian hadits li qodim, seperti manusia memuji Allah
4. Pujian hadist li hadist, seperti perkataan Nabi Muhammad yang memuji Abu bakar.

Adapun kata “hamdu” menurut istilah yaitu perbuatan yang muncul dari penghormatan atas sang pemberi nikmat. Penghormatan tersebut baik berupa penuturan dalam lisam, kecintaan dalam hati, ataupun pengamalan dengan anggota badan.

Kata “al-qodim” dalam bait diatas artinya, dzat yang ada, yang mana bagi-Nya tanpa awal dan tidak akan hilang. Kata “al-awwalu” bermaksud sebelum sesuatu apapun dengan tanpa permulan. Kata “al-akhir” artinya setelah semua sesuatu tanpa penghabisan. Kata “al-baqi” artinya terus-menerus yang tidak akan hilang. Kata “bi la tahawwuli” artinya tanpa perubahan yang menafsirkan kata “al-baqi”.

Dalam kitab “Jalaul afham” disebutkan, ada dua alasan mandhumah ini diawali dengan pujian kepada Allah

1. Mengamalkan hadist Nabi SAW :


كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَايُبْدَأُ فِيْهِ بِالْحَمْدُ لِلهِ فَهُوَ أَقْطَعُ (رواه أبو داود وغيره وحسنه ابن الصلاح

 “ Setiap sesuatu yang ada kepentingannya yang tidak diawali di dalamnya dengan “alhamdulillah” maka ia terputus”
2. Memenuhi hak dari sesuatu yang wajib baginya syukur atas nikmat berupa mengarang kitab mandhumah ini.