Oleh: Ahmad Hanafi
Pada pertemuan sebelumnya kita membahas perumpamaan para ulama tentang pentingnya tiga pilar tasawwuf. Kali ini kita akan ulas bagaimana pengejawantahan pada kehidupan tentang dua pilar dari tiga pilar yang pertama yakni Syari’at dan Thariqat.
فَشَرِيْعَةٌ أَخْدٌ بِدِيْنِ الخَالِقِ # وَقِيَامُهُ بِالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلَا

وَطَرِيْقَةٌ أَخْدٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع # وَعَزِيْمَةٍ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتّلَا


“maka syari’at ialah melaksanakan agama Allah yang Maha pencipta dan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi laranganNya”
“sedangkan thariqat adalah bertindak dengan sifat hati-hati seperti waro’ dan bersikap gigih seperti riyadloh (melatih hawa nafsu) seraya memutuskan diri (menggungkan diri pada makhluq)”

Telah jelas dalam bait tersebut tentang berlaku syari’at, yakni dengan berpegangan dan mengikuti agama Allah, serta mematuhi seluruh perintah-perintahNya dan menjauhi seluruh larangan-laranganNya. Syekh Ali bin al Hainiy R.A. mengatakan bahwa Syari’at itu sesuatu yang mendatangkan taklif (tuntutan untuk ikut aturan), sedangkan Hakekat ialah sesuatu yang dapat mengantarkan kepada ma’rifat. Maka hubungan keduanya sangat erat, Syari’at itu diperkokoh dengan adanya hakekat, dan hakekat itu diikat atau tidak keluar dari syari’at. Beliau (syekah ali) juga mengatakan bahwa Syari’at itu mengadakan dan melaksanakan perbuatan karena Allah, dengan mengetahui persyaratannya melalui perantara ajaran Nabi Muhammad SAW. kemudian hakekat itu menyaksikan perbuatan Allah lalu pasrah terhadap takdir hukum yang berlaku tanpa melalui perantara.
Pada bait kedua, kiai nadlim, yakni Syekh Zainuddin bin Ali al Ma’bari al Malibari menjelaskan bahwa Thoriqot menurut para ulama’ yaitu berpegang teguh pada tindakan hati-hati dalam setiap perbuatan dan tidak mengambil rukhshoh atau mencari keringanan, sebagaimana sifat Waro’ yang mulia. Imam al Qusyairy mengatakan bahwa Waro’ ialah meninggalkan hal-hal yang subhat (hal-hal tidak jelas hukumnya atau meragukan).
Imam al Ghozali mengatakan bahwa derajat Waro’ itu ada empat derajat, yang paling bawah adalah Waro’ul Adli (waro’nya orang yang adil) yaitu meninggalkan semua yang telah diharamkan sebagaiamana yang dijelaskan oleh para ahli fiqih, seperti riba, dan transaksi yang rusak lain. derarajat berikutnya adalah Waro’us Sholihin (waro’nya orang sholeh) yaitu meninggalkan hal-hal yang subhat, yang ketiga yaitu Waro’ul Muttaqin (waro’nya orang yang bertaqwa) yaitu meninggalkan sesuatu yang mubah yang dikhawatirkan dapat menimbulkan salah. Sebagaimana perkataan sayyidina Umar R.A. kita (para shahabat) itu menghindari sembilan dari sepersepulah kehalalan, karena khawatir kita terjatuh dalam keharaman, dan derajat waro’ paling tinggi adalah Waro’us Shiddiqin yaitu meninggalkan sesuatu yang dapat mendatangkan cobaan.
Diceritakan bahwa suatu ketika saudari Bisyir al Hafi R.A. datang kepada imam Ahmad bin Hanbal dan ia menceritakan:
“suatu saat, kami sedang menenun di atap lalu terlintaslah cahaya obor seseorang dari bawah apakah kami boleh menenun dengan cahaya itu.?”
lalu imam ahmad bertanya: “siapakah engkau.?-Semoga Allah memaafkanmu-”
“saya saudarinya Bisyir al Hafi” jawab ia.
Tiba-tiba imam Ahmad menangis seraya mengatakan: “-muncul seorang waro’ nan shiddiq yang keluar dari rumahmu- jangan engkau menenun dengan cahaya obor itu”.
Sebuah perbincangan Ibrohim bin Adham, suatu ketika dia ditanyai oleh seseorang “kenapa engkau tidak meminum air zamzam.?” Lalu ibrohim mengatakan “seandaianya saya punya gayung sendiri pasti aku akan meminumnya” padahal di sumur zamzam disiapkan gayung untuk umum, tapi karena sifat waro’ beliau yang begitu tinggi, beliau tidak mau memakainya.
Sebuah wahyu diturunkan kepada nabi Musa A.S. yang berisi “seorang mutaqorrobun(orang yang dekat dengan Allah) tidak mendekatkan diri kepadaKu kecuali dengan seumpama waro’ dan zuhud.
Abu Huroiroh mengatakan bahwa orang-orang yang duduk di sisi Allah kelak adalah orang-orang ahli waro’ dan zuhud. 
Ungkapan lain keluar dari syekh Kahmas, beliau mengatakan : “aku telah melakukan satu dosa yang aku tangisi selama 40 tahun, kisahnya katika saudaraku mengunjungiku lalu aku membelikan ikan bakar dengan uang 1 daniq (1/6 dirham), ketika selesai makan, aku mengambilkan segenggam debu dari tembok tetanggaku untuk dipakai membersihkan tangannya dan aku belum meminta halal dari tetanggaku.
Dikatakan ada sebuah kisah dari seorang penulis, ketika ia menulis dia berada di rumah sewaan lalu ia ingin mengeringkan kitabnya dengan debu dari tembok tumah itu, maka terlintas dalam hatinya teringat bahwa rumah itu adalah sewaan, lalu terbersit jika perbuatan tidaklah menimbulkan bahaya tiba-tiba ia mendengar suara yang mengatakan bahwa debu yang dianggap remeh ini akan ditemuinya dengannya panjangnya hisab kelak.
Cerita lain datang dari imam ahmad bin hanbal, ketika ia menggadaikan sebuah ember kepada tukang sayur di Mekkah, suatu saat imam ahmad ingin menebus ember itu maka tukang sayur itu mengeluarkan beberapa ember lalu ia mengatakan kepada imam ahmad
“ambillah ember milik engkau”.
“saya ragu ember mana yang milikku” jawab imam ahmad
“ambil saja ember dan dirham tebusan ini” lanjut imam ahmad
“tidak, inilah embermu, aku hanya ingin menguji sikapmu” tukas tukang sayur
“tidak, ambillah semua” kata imam ahmad seraya buru-buru pergi meninggalkan tukang sayur itu.
Dalam penggalan bait akhir disebutkan kata ‘azimah. ‘Azimah di sini memiliki arti keinginan yang teguh dan disertai dengan kesabaran atas kesulitan yang menimpa jiwa, yang bertentangan dengan hawa nafsu, seperti riyadhotun nafsi (melatih jiwa), menahan dorongan nafsu saat sedang beramal terhadap perintah Allah, seperti melawan kantuk saat begadang untuk sholat tahajjud, melawan lapar saat puasa, menjaga kezuhudan, menahan keinginan berbicara, ‘uzlah dari hal-hal yang dapat mendorong pada keburukan, menjauhi dorongan syahwat, dan bersabar pada hal-hal lain yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Imam Hasan al Qozazi mengatakan bahwa urusan riyadhoh ini dibangun atas tiga perkara Pertama tidak makan kecuali saat butuh (hanya untuk kebutuhan penunjang ibadah), Kedua tidak tidur kecuali saat dikalahkan oleh kantuk, dan Ketiga tidak berbicara kecuali ketika darurat. Hal ini didasarkan atas hadits Nabi berikut:
مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يعْنِيْهِ
“sebagaian dari (tanda) baiknya islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berarti baginya”.
حسب ابن آدَمَ لِقِيْمَاتٍ يُقِمْنَ صَلْبَهُ فَإن كَانَ وَلاَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشِرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفْسِهِ
“cukupkan bagi anak adam pada makan makanan yang membuat tulang punggungnya sanggup berdiri, karena itu harusnya sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya”.

وهل يكب الناس في النار على وجوههم إلا حصائد ألسنتهم وعمر الإنسان رأس ماله الذي فيه تجارته فإذا ضيعه فيما لايعنيه فقد أتلفه فيما لا شيئ.

“seorang manusia tidak terjerumus ke dalam neraka, kecuali karena buah dari ucapannya, umurnya, dan hartanya yang ia perdagangkan, sebab saat ia menyia-nyiakan dalam sesuatu yang tidak berarti maka sungguh dia telah menghabiskan hartanya kedalam sesatu yang tidak berarti”.