Oleh: Ahmad Hanafi

Sebagaimana dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa tingkat Thoriqot dan juga Haqiqot tidak bisa terlepas dari Syari’at. Seorang salik tidak akan dapat menggapai thoriqot apalagi haqiqot jika ia meninggalkan syari’at.

Seorang mukmin tidak akan gugur kewajiban ibadahnya walaupun dia telah tinggi derajatnya, meskipun mulia kedudukannya, bahkan dia termasuk jajaran wali sekalipun. Dan barang siapa yang menyangka bahwa seorang wali atau yang telah sampai pada tingkat haqiqot maka tuntutan syari’atnya gugur, maka orang yang menganggap demikian itu sesat menyesatkan. Tidakkah kita ingat bagaimana para Nabi beribadah dengan sangat sungguh-sungguh, padahal ketinggian kedudukannya tidak diragukan lagi, tidakkah kita tahu bahwa Rasolullah saja sholat sampai kedua telapak kaki beliau bengkak, saat beliau ditanya, “bukankah Allah SWT telah memberikan jaminan diampuninya perbuatan yang telah lalu dan yang akan datang” lalu Nabi menjawab “tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” Nabi juga ingin mengajarkan, bahwa setinggi apapun derajat tidak membuat seseorang berhenti beribadah, justru seharusnya semakin tinggi derajat semakin tinggi pula kualitas ibadahnya, bukan malah berhenti beribadah. Selain itu memang pada dasarnya kewajiban beribadah itu karena untuk memenuhi hak penghambaan (kewajiban sebagai hamba) dan karena memenuhi hak syukur nikmat (kewajiban bersyukur atas nikmat), dan seorang wali dengan tingkat kewaliannya itu tidak keluar dari batas penghambaan dan batas menerima nikmat yang mengalir.

Baca Juga  BEBERAPA KEMULIAAN DAN KEAMPUHAN DARI RATIB AL HADDAD

Kiai nadlim kitab ini yaitu Syekh Zainuddin bin Ali Al Malibari mengungkapkan dalam baitnya

وَكَذَا الطَّرِيْقَةُ وَالْحَقِيْقَةُ يَا أَخِيْ # مِنْ غَيْرِ فِعْلِ شَرِيْعَةٍ لَنْ تَحْصُلَا

“sebagaimana keterangan sebelumnya, begitupula thoriqot dan haqiqot tanpa menjalankan syari’at itu tidak akan berhasil, hai saudaraku”

فَعَلَيْهِ تَزْيِيْنٌ لِظَاهِرِهِ الجَلِي # بِشَرِيْعَةٍ لِيَنُوْرَ قَلْبٌ مُجْتَلَا

“maka wajib bagi seorang salik untuk menghiasi dirinya dengan menampakkan syari’at, agar hati dapat memancarkan sinar”

وَتَزُوْلَ عَنْهُ ظُلْمَةٌ كَيْ يُمْكِنَا # لِطَرِيْقَةٍ فِي قَلْبِهِ أَنْ تَنْزِلَا

“dan agar kegelapan dalam hati akan hilang sehingga thoriqot bisa bertempat pada hati tersebut”

Setelah mengetahui bahwa Thoriqot dan Haqiqot itu tidak bisa lepas dengan Syari’at, tentu seorang salik harus menghiasi dhohir dirinya dengan Syari’at sehingga hati dapat disinari dengan cahaya Syariat, dan akan hilanglah kegelapan kemaksiatan, karena kemaksiatan (melanggar syariat) itu dapat menjadikan gelapnya hati, sebagaimana orang yang taat dapat membuat hatinya tenang dan bersinar.

Dan dengan menghiasi sikap dhohir dengan syariat maka akan memungkinkan cahaya thoriqot turun menempati hati karena ketika hati bercahaya dan kegelapan telah benar-benar hilang dari hati maka hati akan layak menerima derajat thoriqot yang mulia.

Baca Juga  Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia

Demikianlah cara bagaimana seorang salik bersikap, jadi kita sebagai hamba perlu terus meningkatkan syari’at kita, terus menghiasi diri dengan perilaku syari’at dengan baik. Semoga kita termasuk hambanya yang mendapat petunjuk dan termasuk hambanya yang banyak bersyukur.