Oleh: Ahmad Hanafi

وَحَقِيْقَةٌ لَوُصُوْلُهُ لِلْمَقْصِدِ # وَمُشَاهَدٌ نُوْرَ التَّجَلِّي بِانْجِلَى


مَنْ رَامَ دُرًّا لِلسَّفِيْنَةِ تَرْكَبُ # وَبَغُوْصُ بَحْرًا ثُمَّ دُرًّا حَصَّلَا

hakekat itu telah sampainya seseorang (salik) pada tujuan # dan menyaksikan cahaya Allah dengan jelas 
barang siapa yang mencari mutiara maka dia harus menaiki perahu # dan menyelami lautan niscaya dia akan mendapatkannya”
Diterangkan pada bait diatas bahwa tahap ketiga dari seorang salik yaitu hakekat. Hakekat merupakan tahap akhir, dengan bentuk dia telah sampai pada sang Khaliq atau disebut dengan ma’rifatullah dan dia telah dapat melihat cahaya tajallinya Allah yakni terbukanya hati sehingga cahaya Allah masuk ke dalam hatinya lalu cahaya tersebut akan memantul keluar dan ia akan memperoleh penglihatan dari hal-hal yang ghaib, yang orang biasa tidak akan bisa melihatnya.
Tahapan ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Qusyairy dalam menjelaskan perbedaan tingkat syari’at dan tingkat hakekat. Dimana Syari’at merupakan perintah untuk beribadah atau menyembah kepada kepada Allah dan Hakekat adalah hasil dari ibadah tersebut yang telah matang sehingga ia dapat menyaksikan yang disembahnya yakni Allah SWT.
Contoh perbedaan ini juga dikisahkan dalam al Qur’an pada cerita Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir dalam surat al Kahfi. 
Sayyid Abu Bakar bin Muhmmad Syatho menjelaskan bait kedua di atas bahwa orang yang ingin memperoleh hakekat yang diumpamakan seperti mutiara maka langkah pertama dia haruslah menaiki perahu syari’at sebagai sarana agar bisa mengarungi lautan yang terdapat mutiara itu, langkah selanjutnya dia harus menyelami laut thoriqot agar dia bisa memperoleh mutiara hakekat atau ma’rifatullah. Hakekat diumpamakan mutiara karena kesamaan nilainya yang tinggi dan mulia.
Tanpa melalui tahapan-tahapan itu, mustahil seseorang bisa mencapai mutiara hakekat.
وَكَذَا الطَّرِيْقَةُ وَالْحَقِيْقَةُ يَا أَخِي # مِنْ غَيْرِ فِعْلِ شَرِيْعَةٍ لَنْ تَحْصُلَا 
“sebagaimana Thoriqot dan Haqiqot, kamu tidak akan bisa berhasil tanpa melakukan Syari’at”
Seorang hamba tidak boleh mengira bahwa jika sudah mencapai tingkat tahapan teretntu, lalu meninggalkan amalan di tingkat sebelumnya, ini merupakan anggapan yang salah. Begitupula pada tasawwuf, seseorang tidaklah bisa sampai, memperoleh mutiara hakekat dengan selamat jika dia tidak kembali kepada perahu syari’at, dia akan kehilangan arah.
Jadi thoriqot dan haqiqot sesungguhnya masih berhubungan dengan syari’at, keduanya tidak bisa ditegakkan dan berhasil tanpa syariat.
Seorang yang mengaku beriman, setinggi apapun derajatnya, semulai apapun kedudukannya, termasuk golongan para wali, itu tidak akan pernah meninggalkan Syari’at. Karena kedudukannya tidak lantas menjadi gugur kewajiban ibadah fardhunya, ibadah sunnahnya. Dan barang siapa yang menyangan bahwa kewajibannya gugur karena dia telah wushul maka dia telah sesat menyesatkan, ketahuilah, para nabi pun masih melakukan syari’at dengan kedudukannya yang sangat mulia di sisi Allah, bahkan dikisahkan dalam hadits, Nabi pun sholat sampai kaki beliau bengkak, ketika ditanyakan kepada beliau: “bukankah Allah SWT telah mengampuni semua salahmu yang telah lalu dan yang akan datang” Nabi menjawab: “أفلا أكون عبدا شكورا” (apa aku tidak boleh menjadi hamba yang banyak bersyukur)
Nabi ingin mengajarkan bahwa ibadah itu bentuk penghambaan dan syukur kita atas nikmat. Oleh karena itu para wali dengan derajat kewaliannya tidak keluar dari batas penghambaan, mereka tetaplah hamba, dan tidak keluar dari pemberian nikmat dari Allah.
Jadi dari tiga pondasi pembangun tasawwuf, yakni syari’at, thoriqot dan haqiqot itu semua saling terikat dan tidak keluar antara satu sama lain, ketiganya saling menyokong.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari materi kali ini. Dan semoga kita dapat memperoleh harapan semua hamba yakni sampai kepada sang khaliq dan mendapat tempat sedekat mungkin dengan Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi, para auliya’ dan ‘ulama.

Baca Juga  Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia