Oleh Ahmad Hanafi

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas mengenai tiga pilar tasawwuf yakni syari’at, thariqat dan haqiqat, yang ketiganya tidak bisa dipisahkan, harus ada keterikatan agar bisa mencapai wushul ilallah. 
Pada pertemuan kali ini mushonnif kitab kifayah akan memberikan tamtsil pentingnya ketiga hal tersebut harus dijalani agar bisa mencapai wushul.

فَشَرِيٍعَةٌ كَسَفِيْنَةٍ وَطَرِيٍقَةٌ # كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيْقَةٌ دُرّ غَلَا
“Syari’at itu seperti perahu, Thariqat itu seperti laut lalu Haqiqat itu mutiara yang berharga”

Para Ulama’ shufiyyah mengumpamakan tigas pilar tasawwuf itu bagaikan orang mencari mutiara yang sangat berharga. Syari’at bagaikan perahu, karena dengan perahulah orang bisa melewati laut untuk mencapai titik keberadaan mutiara, Lalu Thariqat itu dibagaikan lautan yang di dalamnya terdapat mutiara, untuk bisa mencapai tujuannya seseorang harus menyelami ke dalam lautan untuk memperoleh mutiaranya, mutiara itulah perumpamaan Haqiqat yang menjadi tujuan kita.
Oleh karena itu kita sebagai salik yang berupaya mencari wushul ilallah haruslah memperhatikan perahu kita, cara berenang kita dan tempat titik mutiara berada. Agar bisa dilakukan dengan benar pastinya kita butuh seorang yang mengetahui dan berpengalaman betul tentang kelautan, pengetahuan tentang perahu dan mutiara itu sendiri. Dalam hal ini kita membutuhkan pembimbing yang tingkat spiritualnya yang telah mencapai mutiara ini.
Ulama lain ada yang mengumpakan dengan buah kelapa. Syari’at itu kulit kelapa, Thariqat itu isi daging dari kelapa dan Haqiqat adalah santan hasil dari olahan daging. kelapa tersebut.
Kiranya kita bisa memahami ilmu diatas semoga Allah memudahkan jalan kita menuju ridlo Nya yang begitu indah dan kita dambakan sebagaimana mutiara yang dicontohkan oleh para ulama’ di atas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here