Oleh: Ahmad Hanafi
 
Pada pertemuan sebelumnya Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatho telah menjelaskan tentang pentingnya taqwa dan bahayanya mengikuti hawa nafsu, pada pertemuan kali ini, kita akan membicarakan mengenai jalan yang ditempuh menuju ridlo dan rahmat Allah, atau disebut dengan thoriqotu salik. Dengan membahas thoriqot ini, maka seorang salik akan menjadi mudah memperoleh dan menjaga taqwa dan menjauhi hawa nafsu.

Kiai nadlom yaitu syekh Zainuddin Bin Syekh Ali Bin Syekh Ahmad Al Ma’bari As Syafi’i, mengatakan:

إن الطريق شريعة وطريقة حقيقة فاسمع لها ما مثلا

“sesungguhnya jalan menuju Allah (thoriq) adalah syari’at, thoriqot dan hakekat, maka perhatikanlah apa yang akan dicontohkan tentang hal tersebut”

Sesungguhnya jalan yang bisa menyampaikan seorang pada derajat tinggi di akherat adalah syariat, thoriqot dan hakekat, kita bisa perhatikan contoh kehidupan para ahli ibadah, auliya’, dan para nabi.

Ketahuilah wahai orang-orang yang mencari jalan menuju ridlo Allah, bahwa seorang hamba haruslah mengumpulkan dari tiga hal di atas, yakni syari’at, thoriqat dan hakekat, kesemuanya saling berhubungan. Karena hakekat tanpa syari’at maka itu adalah kebathilan sebaliknya syari’at tanpa hakekat itu adalah hal yang sia-sia.

Contoh dari orang yang memperhatikan hakekat saja tanpa syari’at adalah kebathilan. ketika seseorang disuruh shalat, malah dia mengatakan:

“saya tidak butuh shalat, karena orang yang bahagia itu tentu telah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali, jika saya ditakdirkan termasuk orang yang bahagia maka saya pasti masuk surga meskipun saya tidak shalat, sebaliknya jika saya memang ditakdirkan sebagai orang yang sengsara, maka pasti saya akan masuk neraka, sekalipun saya shalat”.

Lalu contoh dari orang yang hanya memperhatikan syari’at tanpa hakekat adalah sia-sia, ketika seserang beramal untuk tujuan surga dan dia mengatakan jika bukan karena amalku ini maka aku tidak akan masuk surga, maka ini adalah syari’at yang sia-sia dan menjadi batal,dia lupa pada Allah. seseorang bisa masuk surga itu semata-mata karena karunia Allah.

Ketahuilah syari’at itu berupa perintah-perintah yang diperintahkan oleh Allah, serta larangan-larangan yang dilarang oleh Allah, sedangkan thoriqot adalah berjalan di atas jalan syari’at dan mengamalkannya dalam jehidupan, sedangkan hakekat adalah memandang pada bagian dalam atau bathin dari segala hal yang berhubungan dengan hal di atas lalu menyaksikan semua hal tersebut berasal dari perbuatan Allah.

Tercermin pada Firman Allah : إياك نعبد و إياك نستعين

Pada Iyyaka Na’budu yang artinya “hanya kepada Engkau kami menyembah” terdapat eksistensi syari’at seorang hamba yang menyembah kepada Tuhannya, karena terdapat usaha secara dlohir yang dilakukan hamba.

Sedangkan pada Iyaaka Nasta’in yang artinya “hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan” terdapat eksistensi dan tendensi hakekat, didalamnya terdapat makna bahwa hamba tidak memiliki daya dan upaya dalam segala hal dan menyaksikan bahwa seluruh perbuatan itu tidak akan terlaksanakan sempurna kecuali dengan pertolongan Allah.

Kesimpulannya WAJIB bagi seorang hamba untuk mengamalkan seluruh apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi seluruh apa yang dilarang oleh Nya akan tetapi seorang hamba tersebut tidak boleh memperhatikan (apalagi meyakini) bahwa amaliyah nya-lah yang akan menyelamatkan dan memasukkan dia ke dalam surga, menyangka jika bukan karena ia beramal maka ia tidak akan berhasil. Dan seharusnya seorang hamba hanya memperhatikan bagaimana ia menjalankan perintah-perintah Allah sebagaimana firmanNya:

فاعبد الله مخلصا له الدين

Jika Allah memberikan pahala atas amal seorang hamba maka itu semata-mata murni karunia Allah SWT, dan jika Allah menimpakan dosa maka itu semata-mata murni keadilan Allah SWT dan Allah tidak bisa ditanyai soal perbuatan tersebut, terserah Allah, karena Allah yang menguasai semua yang ada.

Hasan al bashry mengatakan bahwa :

علم الحقيقة ترك ملاحظة ثواب العمل لا ترك العمل

“ilmu hakekat itu meninggalkan perbuatan memperhatikan terhadap pahala amal bukan malah meninggalkan amal (syari’at)”.

Sayyidina ali bin abi tholib mengatakan:

من ظن أنه بدون الجهد يصل الى الجنة فهو متمن ومن ظن أنه ببذل الجهد يصل الى يصل الى الجنة فهو منعن.

“barang siapa yang menyangka bahwa dirinya bisa sampai ke surga tanpa usaha maka dia itu orang yang berkhayal, dan barang siapa menyangkan bahwa diri bisa sampai ke surga dengan upayanya sendiri maka dia itu orang yang (berjerih payah) tanpa hasil”.

Diceritakan bahwa seorang laki-laki dari bani isroil telah menyembah Allah selama 70 tahun lalu dia meminta kepada Allah agar Allah menjadikan ia bisa bersama malaikat-malaikat. Maka Allah mengirim seorang malaikat seraya mengabarkan bahwa ibadahnya tidak bisa membawa bersamanya ke dalam surga. Tatkala berita dari malaikat itu sampai pada si hamba, hamba tersebut mengatakan: “kami diciptakan untuk beribadah maka seyogyanya bagi kami hanya untuk menyembah kepada-Nya.

Ketika malaikat kembali ia mengadukan kepada Allah: “wahai Tuhanku, engkau lebih tahu dengan apa yang dia katakana” maka Allah mengatakan kepada malaikat “jika demikian dia tidak akan berpaling beribadah kepadaKu (sebab berita yang malaikat sampaikan) maka Aku-bersama kemulyaan dan kebaikanKu- Aku tidak akan berpaling dari dia. Saksikanlah wahai malaikat-malaikatKu sungguh Aku telah mengampuni dia.”

Dari cerita di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa hakekat adalah beribadah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh tidak perlu melihat pahala dari ibadah itu, tidak mengharap dari ibadah kita selain untuk ridlo Allah semata. Menyerahkan tempat kembali kelak hanya kepada Allah, akan di surga atau neraka, yang perlu di fokuskan hanya ridlo Allah. Ini merupakan tingkatan ibadah tertinggi pada ibadah seorang hamba.

Sebagai seorang hamba, selayaknya kita senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kita, dan selalu menilai kembali, apakah kita telah benar-benar ikhlas atau sebaliknya. Sifat riya’ (pamer/ ingin dilihat), ujub (bangga), sum’ah (ingin di dengar) dan sifat-sifat lain yang mungkin masih mengakar dihati kita perlu kita waspadai dan hindari. Tentunya itu semua tidak akan menjadikan kita lebih dekat dengan Allah, namun justru sebaliknya. Jika demikian, bagaimana mungkin ridlo Allah bisa kita capai.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat diri penulis khususnya dan untuk pembaca pada umumnya. 

والله أعلم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here