Oleh : Ahmad Hanafi
Seorang salik atau pengembara pencari jalan meraih Wushul
ilallah,
selayaknya senantiasa melakukan hal-hal baik, kebaikan dunia, mapun
kebaikan akherat. Kebaikan-kebaikan tersebut tentunya manusia tidak bisa
memperoleh murni lewat akal atau mencari dari adat istiadat manusia, tentu
semua kebaikan atas petunjuk dan tuntunan Allah. Dimana tuntunan dan petunjuk
Allah tercermin pada perintah-perintahNya dan 
peringatan pada larangan-laranganNya. Karena dalam perintah Allah
terdapat kebahagian manusia ridlo Allah dan dan dalam larangan Allah terdapat
kesengsaraan manusia dan murka Allah. Jadi bagaimana mungkin seorang yang dalam
pencarian jalan menuju Allah, bisa mendapatkan tujuannya sedangkan ia melakukan
hal-hal yang membuat tujuan jauh.
Dalam kitab kifatayul atqiya’ syekh abu bakar bin
muhammad syatho menggatakan bahwa melakukan perintah Allah dan menjauhi
larangnya itu disebut dengan Taqwa, beliau juga mengingatkan bahwa arti
Taqwa harus diaplikasikan secara dlohir maupun bathin. Secara tindakan melakukan perintahdan menjauhi
larangan secara bathin pun dilakukaan dan berniat benar-benar menjalankan
perintah, bukan ada niat lain, dan tidak pernah terbersit dalam hatinya untuk
melakukan larangan-larangan Allah sekecil apapun, dengan rasa penuh
mengagungkan, berharap dan takut akan murka Allah.
Sebagian ulama mengatakan cukup dengan meninggalkan
seluruh dosa-dosa dan perkara yang membuat terjerumus dalam dosa. Al nashr
abadzhy mengatakan jika orang yang bertaqwa maka ia telah memisahkan diri
dengan keduniawian karena Allah bersabda:

وَلَلدَّارُ ا لآخِرَةُ خَيْرٌ لِلّذِيْنَ يَتّقُوْنَ أفلا تعقلون (الأنعام:32)
Dan
sungguh negeri akherat itu adalah yang paling baik bagi orang-orang yang
bertaqwa, tidakkah kalian berakal.  (Q.S. al An’am:32)
Sahal
bin Abdullah menambahkan bahwa bahwa tiada penolong selain Allah, tiada dalil selain
rasulullah, tiada tambahan kecuali taqwa, tiada amal selain sabar (dalam
beramal).
Intinya,
kebaikan tidak akan bisa dikatakan benar-benar baik di dunia mapun akherat jika
tidak ada taqwa, keburukan tidak akan terhindarkan di dunia maupun di akherat
kecuali dengan taqwa. Itulah wasiat atau pesan Allah SWT, sebagaimana firmanNya

ولقد
وصينا الذين أوتوا الكتاب من قبلكم وإياكم أن يتقوا الله.. (النساء: 131)
“dan sungguh
telah kami wasiatkan kepada orang-orang sebelum kalian yang diberikan kitab dan
kepada kamu untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah”. (Q.S. al nisa’: 131)
Banyak
sekali Allah memberikan keutamaan-keutamaan bagi orang yang bertaqwa.
ثم
ننجي الذين اتقوا (مريم : 72)
“kemudian
kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S.Maryam: 72)
واعلموا
أن الله مع المتقين (التوبة : 123)
“dan ketahuilah bahwa Allah
bersama orang-orang yang bertaqwa”. (al Taubah: 123)
واتقوا
الله ويعلمكم الله ( البقرة : 282)
“dan bertaqwalah kalian semua kepada Allah dan Allah
akan memberikan ilmu”. (Q.S. Al Baqarah: 272)
ومن
يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه
من حيث لا يحتسب (الطلاق : 2-3)
“dan barang siapa bertaqwa kepada Allah maka Allah
akan memberikannya jalan keluar (dari masalah) dan Allah akan memberikannya
rizki dari tempat yang ia tidak sangka.” (Q.S. Al Thalaq: 2-3)
إن
أكرمكم عند الله أتقاكم (الحجرات: 13)
“sungguh sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah orang
yang paling bertaqwa dari kalian.” (Q.S. Al Hujurat: 13)
Demikianlah
bagaimana Allah memuliakan orang-orang yang bertaqwa, selain diberikan ilmu,
jalan keluar, rizki orang yang bertaqwa juga diberikan tempat di sisi Allah
SWT. Oleh karena itu bagi seorang salik dalam ilmu tasawwuf taqwa adalah jalan
untuk mendapatkan wushul kepada Allah.
Semoga
pelajaran ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, dengan
mengaplikasikannya dalam kehidupan beragama kita dan menyampaikan ilmu itu agar
orang lain juga bisa mengetahui dan ikut mengamalkan pula.