Oleh : Ahmad Hanafi

Seusai Muallif nadlom Hidayatul Adzkiya’, syekh Zainuddin bin Ali al Malibari membaca basmalah, beliau memulai nadlomnya dengan pujian kepada Allah.

اَلحَمدُ لِلهِ المُوَفّقِ لِلْعُلَا # حَمْدًا يُوَافِي بِرّهُ المُتَكَامِلا

“Segala puji bagi Allah yang maha memberikan Taufiq untuk (memperoleh) kemulyaan , dengan sebanyak pujian yang memenuhi kebaikanNya yang sempurna”

Pensyarakh, syekh Bakar al Makki bin Sayyid Muhammad Syatho menjelaskan bahwa pujian yang layangkan itu karena berniat mengikuti sebagaimana anjuran dalam al Qur’an dan mengaplikasikan sabda Nabi yang menganjurkan untuk banyak memuji kepada Allah, dinataranya hadits yang dikeluarkan oleh al Dailami berupa hadits Marfu’

إن الله يحب الحمد يحمد به ليثيب حامده وجعل الحمد لنفسه ذكرا ولعباده ذخر

“Sesungguhnya Allah senang terhadap pujian yang digunakan untuk memujiNya sehingga pemujinya akan diberikan pahala dan Allah menjadikan pujian tersebut sebagai pengingat diriNya dan sebagai tabungan (pahala) bagi hamba-hambaNya”.

Dari hadits di atas, menunjukkanbahwa Allah suka akan pujian yang dipanjatkan oleh hamba-hambaNya, karena bias menjadi pengingat terhadap sang pencipta dan akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang bias menjadi simpanan kelak di hari akhir.

Sebagai hamba selayaknya diri ini selalu mengingat bagaimana Allah telah memberikan banyak kenikmatan-kenikmatan, saking banyaknya bahkan kita sering tidak menyadari atau lupa ada nya nikmat tersebut dalam diri kita, dan terhingga besarnya.

وان تَعُدّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا

Termasuk dinataranya adalah nikmat pakaian. Dan kenikmatan sekecil apapun jika kita sadari lalu mensyukurinya, maka tidak akan ada balasan tersendiri untuknya, dalam ungkapan nabi mengingatkan

مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ” اَلْحَمْدُ لِلهِ كَسَانِي هَذَا الثَوْبَ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنّي وَلَا قُوّةَ ” غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Barangsiapa memakai pakaian lalu ia berdoa –segalapuji bagi Allah yang telah memakaikan aku pakaian ini tanpa adanya daya dan upaya dariku- maka ia diampuni dari dosanya yang telah lalu”

lalu muallif mengingatkan bahwa shigot pujian yang paling afdhol adalah dengan mengatakan:

الحمد لله حمدا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه

Berdasarkan adanya dalil yang menceritakan nabi adam saat turun ke bumi, lalu nabi adam meminta kepada Allah agar diajarkan sebuah kalimat pujian yang dapat menghimpun seluruh bentuk pujian yang ada. Lalu Allah mengajarkannya agar nabi adam membaca minimal 3 x saat pagi dan petang, kalimat tersebut adalah

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه

Setelah menyebutkan basmalah dan hamdalah, muallif nadlom menyebut kata al muwaffiq, isim fail dari kata Taufiq. Lalu apa itu taufiq,? Muallif mendifinisikan sebagaimana berikut:

معناه لغة موافقة الشيئ للشيئ واصطلاحا خلق قدرة الطاعة والداعية اليها في العبد

“Makna taufiq secara bahasa adalah kesesuaian sesuatu terhadap sesuatu sedangkan secara istilah adalah terciptanya kemampuan dan dorongan pada ketaatan (kepada Allah) pada diri seorang hamba.”

Dari keterangan di atas maka orang kafir tidak akan bisa mendapatkan taufiq, karena bagaimana mungkin ketaatan bisa tercipta sedangkan di dalam dadanya tidak ada. Sebagaimana firman Allah:

فمن يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام

“Barangsiapa yang Allah kehendaki petunjuk pada dirinya, maka Allah akan mejelaskan (membukakan) dadanya pada agama islam.”

Demikian kita sebagai hamba, selayaknya selalu menata dan merenungkan kembali bagaimana sikap selaykanya pada Allah, Tuhan yang memberikan kita nikmat, taufiq, hidayah, iman dan islam, yang tidak diberikan selain pada orang-orang yang Dia kasihi. Jika jiwa kita selalu ingat akan nikmat Allah, jiwa kita kita tentunya akan malu jika tidak taat, maka akan timbullah dorongan untuk patuh yang disebut dengan taufiq. Dan yang muncul adalah jiwa yang selalu bersyukur, selalu taat dengan menjalankan segala perintah-perintahNya serta akan selalu waspada dan menghindari segala yang dilarangNya. Maka jadilah manusia yang jiwanya dipenuhi dengan berkah karena selalu ingat dan taat padaNya.

Itulah sedikit ulasan hubungan antara pujian dengan taufiq pada seorang hamba, semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini dan merealisasikannya dalam kehidupan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here